11/14/2016

Love In School 1 (Jungkook)




Tittle : Love In School 1
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Aku (Reader)
-       Jungkook
Support Cast : Member BTS
Author : Park Donghee

~
Ck, bersama namja sombong itu lagi? Aku tahu dia tampan, pintar, kaya, dan punya segalanya. Tapi dia begitu bersikap menyebalkan di hadapanku. Apalagi sejak aku dengan bodohnya menyodorkan surat cinta padanya 3 minggu lalu. Dan sialnya, aku selalu mendapat jatah kelompok yang selalu ada dia di dalamnya.

“Yaa, kau jangan lupa membawa lilin dan korek, dirumahku tidak ada,” ucap namja bernama Jungkook itu, tiba-tiba.

“Bukankah mudah bagimu jika hanya membeli lilin dan korek?” tanyaku menatap malas padanya.

“Aku melakukan ini agar kau terlihat bekerja di kelompok,”

Dia lalu meninggalkan mejaku tanpa dosa. Aiiisss dia membuatku kehilangan moodku. Aku lalu menjinjing tasku keluar kelas, pulang dan segera menghilang dari hadapannya.

-Dikamarku-

Setidaknya berbaring sebentar untuk meredakan kepalaku yang berdenyut, sebelum kembali emosiku membuncah karenanya. Ya, namja bernama Jungkook itu, memang aku menyukainya. Tapi lama-lama rasa suka ini bisa terdesak dengan kebencian. Setiap kerja kelompok pasti aku diharuskan kerumahnya, dan dia selalu bertindak semaunya. Aku melihat kearah laptopku sebentar, dan melihat wajah tampannya yang menjadi wallpaperku.

“Yaa… kau tau? Dulu saat aku dekat denganmu aku rasa jantung ini rasanya ingin meledak karena berdebar terlalu kencang. Tapi sekarang kepala ini yang rasanya ingin pecah, karena ulah menyebalkanmu, cih,” kataku pada namja yang hanya diam menatapku sambil tersenyum.

Aku menengok jam. Mendesah perlahan, dan mulai bangkit dari tempat tidurku. Aku harus bergegas berangkat sekarang atau aku akan terlambat dan menerima amukan Jungkook.

-Di rumah Jungkook-

Aku menekan bel di depan gerbang yang luar biasa tinggi itu, tapi aku sudah tidak takjub lagi, karena belakangan ini aku sudah terlalu sering melihatnya.

“Ah, nona silahkan masuk, Tuan Jungkook sudah menunggu,”

“Ne,” kataku pada salah satu pembantu Jungkook yang sudah sering melihatku.

Aku berjalan sambil memperhatikan apakah lilin yang kubawa patah atau tidak, tapi mendadak langkahku terhenti saat pandanganku kembali terfokus lagi ke depan.

“Seokjin-ah?” sapaku sambil tersenyum, orang yang merasa kupanggil itupun menoleh sambil ikut tersenyum. Lalu kembali menatap Video Gamenya, Aku meneruskan langkahku mendekati Jungkook.

“Yaa… ini lilin dan koreknya, ayo kita cepat kerjakan, aku ingin cepat pulang,” kataku malas, aku tidak ingin ada masalah lagi seperti kerja kelompok yang sudah-sudah.

“Kau saja dulu, aku sudah membuat invisible inknya, sudah kucoba dikertas tinggal kau panaskan,” Jungkook berkata dengan menggerak-gerakkan kepalanya, karena kini tangannya sedang asik memainkan joystick.

Aku menurut saja, daripada dia mengacaukan tugas kita. Aku berjalan kearah meja. Kulihat kertas yang dimaksud Jungkook. Lalu aku menyalakan lilin dan korek yang aku bawa, mencoba memanaskan kertas itu, tapi mendadak perhatianku teralihkan. Aku kembali melihat Jungkook yang sedang asik bermain Video Game.

“Cih, apa maksudmu tadi mengatakan agar aku terlihat bekerja? Lihat? Sekarang siapa yang tidak bekerja… dasar, Pabo!” gerutuku, tiba-tiba aku mencium bau sesuatu. Bau hangus? Aigo tunggu.

“Aaaahhh…” jeritku, kertas yang kupanaskan terbakar. Jungkook dan Jin dengan cepat menoleh kearahku, melihatku yang bertingkah bodoh hanya karena secarik kertas. Jungkook mendekat.

“Yaa… kenapa justru kau bakar? Aku bilang, panaskan. Pabo!”

“Yaa… salah siapa kau tidak membantu? Kau malah asik sendiri, huh? Aaaiiis molla,” dengan cepat aku menyambar tasku dan pergi, jangan menangis Donghee, jangan.

-Di Sekolah-

Saatnya mengumpulkan invisible ink dari masing-masing kelompok. Untung kelompokku masih selamat karena kemarin Jungkook membuat yang baru dan memanaskannya sendiri. Berterimakasih? Untuk apa? Dia yang menyebabkan kekacauan jadi memang harus dia yang membereskan.

Saat diperiksa oleh Park songsaenim, kelompokku dipuji karena memanaskan dengan cara yang sempurna, semua rata. Dan kelompok Jimin terkena semprotan amukan dari beliau. Karena tulisan yang mereka tulis itu aneh, ditengah kertas tertulis besar “Saranghaeyo hakyung-ah” dan di pojok kanan kertas terdapat tulisan “Nado”

Semua tertawa, tapi Jimin dan Hakyung hanya tersenyum-senyum, aku menggeleng, tapi Jungkook yang duduk di depanku terlihat murung waeyo? Apa dia menyukai Hakyung? Aiiss molla.

Selanjutnya pelajaran sejarah. Semua terlihat baik, sampai pembagian kelompok untuk tugas presentasi. Perasaanku mulai tidak enak. Apa aku akan bersamanya lagi?

Lee Songsaenim menyebut kelompok satu-satu, dan satu kelompok terdiri dari 8 orang. Perasaanku makin gusar, 8? Itu pas sekali dengan geng milik Jungkook. Ditambah aku. Tapi itu tidak mungkin, bagaimana bisa ada 7 namja dalam 1 kelompok sekaligus?

“Kelompok 3, Jungkook, Jimin, Seokjin, Namjoon, Yoongi, Hoseok, Taehyung, daan.. Donghee” aku terbelalak, sedangkan Jungkook dan teman-temannya justru asik ber-high5. Mwo? Ige mwoya? Bagaimana bisa?

“Songsaenim,” dengan cepat aku mengacungkan tangan. Tapi juga dengan cepat ditepis olehnya.

“Kelompok saya buat beranggotakan banyak karena waktu presentasi minimal 15 menit plus sesi pertanyaan 5 menit, dan agar bisa selesai dalam satu kali pertemuan, jadi tidak ada protes mengenai anggota. Arraseo? Bubar” aku menarik napas napas dalam. Dan dengan segera mengutuk diriku sendiri. Ini pasti akan sangat buruk.

Saat aku baru akan beranjak dari kursi, Hoseok menahanku, dan mendudukkanku kembali. Aku berdecak sebal.

“Presentasi kita tidak boleh terkesan biasa-biasa saja, jadi aku akan membawa kalian ke museum tertua di Seoul, tapi, untuk kesana kita harus menginap di resortnya” ucap Jungkook memulai rapat─tidak penting─ini.

“uuuuuhhh~” ucap mereka kompak sambil menatapku. Aku tau ini akal-akalan si namja gila untuk menjebakku dan mengerjaiku.

“Kita ke museum dekat sini saja, kenapa harus jauh-jauh, eoh?” kataku memprotes Jungkook.

“Nona, apa kau tidak mendengar bahwa Jungkook tidak ingin presentasi kita terkesan biasa-biasa saja?” kata Namjoon

“Lagipula ini bisa jadi ajang liburan untuk kita,” timpal Yoongi.

Semua bertepuktangan ria, kecuali aku. Aku merasa disisihkan. Aku satu-satunya yeoja disini harusnya aku diperlakukan khusus, isss mereka semua namja tak berperasaan.

“Kita berangkat jum’at, jadi kita bisa menginap sabtu dan beristirahat sekaligus menghapal materi di hari minggu, setuju?”

“SETUJUUU!!!” teriak semuanya semangat.

-Di Rumahku-

“Eomma, semua celana jeans panjang dan sweaterku kemana?” kataku memelas. Eomma yang sedang menyiapkan makan malampun menoleh.

“Bukankah kau bilang kau sekarang sudah dewasa? Dan tidak mau mengenakan pakaian itu lagi? Jadi Eomma letakkan di gudang,” aiiissh benar, aku pernah berkata seperti itu pada eomma, jika tau begini aku tidak akan pernah memenuhi lemariku dengan rok-rok diatas lutut itu.

Aku memandang lemariku jengah. Hanya ada rok, ya aku memang berniat feminim ketika masuk ke SMA, tapi apa tidak berlebihan jika tidak ada celana lain selain piyama? Ahhh… aku mengacak-acak rambutku. Aku tidak ingin terlihat terlalu terbuka saat menginap, terlebih semua teman menginapku adalah namja. Aku mencoba mejejerkan semua baju yang kupunya, akhirnya aku menemukan satu yang tidak terlalu mencolok.

Berikutnya aku memilih rok selutut warna pink dan baju kuning yang terang untuk ku pakai saat berangkat, aku rasa ini cukup bagus.

Selesai berkemas aku membuka laptopku. Dan kembali melihat namja yang tak kunjung bergerak itu masih tersenyum padaku.

“Yaa… kau tidak mau bertanya kenapa aka mendadak seperti ini? Itu karena aku ingin tampil cantik didepanmu, walaupun aku membencimu. Tapi entah kenapa debaran ini masih ada. Arra?” aku mencibir kearahnya lalu menutup laptopku kesal.

“Cepat tidur, kau bilang kau mau bangun pagi,” eommaku berteriak mengingatkan.

Aku menyembulkan kepalaku di depan pintu.

“Ne, eomma… Jaljjayo,” ucapku manja. Dan bergegas menyampirkan selimut ke tubuhku.

~

“Kriiiing kriiing noona bangun, kriiiing kriiiiing…” suara itu mengganggu tidurku, aku melihatnya, bukan alarm. Tapi dongsaengku, aigooo batinku.

“Yaaa yaaaak... hentikan, aku bisa gila karenamu,” ucapku mencoba menutup mulutnya.

“Aniyo, eomma menyuruhku untuk membangunkanmu sampai benar-benar bangun jadi, Krrrriiiiingg krriiiiiing noonaaa bangun kriiiiiing”

“Yaaa yaaak… hentikan, aku akan bangun sebentar lagi, kau keluar dulu,” ujarku sambil menutup telinga dengan bantal.

“Andwae, kau harus bangun sekarang! KRIIIIIINGGG… KRRRIIIIINGG… eemmmhhh” akhirnya aku berhasil membekap mulutnya.

“Ne, ne, kau berhasil, noona sudah bangun,” ucapku sambil berdiri. Dan si kecilpun akhirnya ngibrit keluar. Aku frustasi, tidak semangat, aku keluar dengan malas.

“Eomma, kenapa harus menyuruhnya yang membangunkan?” tunjukku pada dongsaengku yang tengah menjulurkan lidahnya untukku itu.

“Karena dia alarm terbaik untuk membangunkanmu, entah bagaimana caranya dia selalu berhasil membangunkanmu dengan cepat,” eomma terkekeh sambil memeluk namja kecil yang ingin sekali ku tekik kalo dia bukan adikku.

“Ne, araseo,” jawabku mengejek dongsaengku itu.

Aku bergegas mandi, mengganti bajuku, berulang kali mengecek penampilanku di cermin, aku takut jika mereka mengejek penampilanku ini. Setelah aku merasa yakin aku segera mengambil tas bawaanku dan meluncur ke tempat pertemuan.

Tempat pertemuan, tidak lain adalah rumah Jungkook, aku bosan melihat rumah itu, gerbang itu, halaman itu, interior itu. Huuuh, membosankan.

Saat sampai, aku heran, semua pria itu sudah sampai? Dan mereka semua menunggu di luar gerbang. Ada apa dengan mereka?

Aku keluar dari taksi dan berdiri heran kearah mereka yang seperti mendengarkan sesuatu yang dikatakan Jungkook. Lebih tepatnya mereka berbisik. Baik sepertinya aku akan menerima musibah sebentar lagi.

Aku mendekat, dan mereka sepertinya bisa mendeteksi kedatanganku, jadi mereka dengan cepat kembali menegakkan tubuhnya seolah, tadi aku tidak melihat apa yang mereka lakukan.

Tapi Jimin mendadak melihatku sambil menganga lebar. Aku hanya mengerjap heran, dan semua namja itu segera menengok kearahku dan ikut menganga walau tidak selebar Jimin.

Kecuali Jungkook, tapi justru reaksinya yang membuatku paling takut, dia menggigit bibir bawahnya. Aku membulatkan mataku, seolah tau apa yang mereka pikirkan mengenai aku. Aku mengangkat tas yang kubawa menutupi sebagian pahaku yang ter-ekspose.

“Yaa… jaga pikiran kalian, eoh!” sentakku mengagetkan semua namja mesum itu.

“Bu… bu… bukan begitu, kita kaget karena kau berpenampilan berbeda,” kata Yoongi.

“I… iya benar, di sekolah kau selalu tampak seperti gelandangan, jauh berbeda dengan… ini…” ucap Namjoon menegaskan.

Tapi aku tidak yakin Jungkook berpikiran sama dengan rekannya. Dia masih sibuk menggigit bibir bawahnya. Tapi saat dia melihatku menatapnya sinis, dia mengalihkan pandangan ketempat lain.

Ya aku akui, penampilanku ini memang cukup mengejutkan bagi mereka. Aku biasanya di sekolah memakai rok yang bahkan menutupi lulutku, rambutpun hanya kukucir kuda dengan asal, dan dilengkapi dengan wajah yang selalu lusuh.

Tapi hari ini, aku memakai rok yang cukup tinggi, baju tanpa lengan, flatshoes yang senada dengan bajuku, rambut panjang terurai dengan aksen pita yang bertengger di samping kepalaku. Pantas mereka semua terkejut. Aku menyunggingkan senyum bangga.

“Kajja kita masuk,” ajakku, meloloskan lamunan mereka semua.

Di dalam travel tempat duduk berpasangan, demi menghindari kesialan, kalau aku akan duduk dengan Jungkook, jadi aku segera mencari partner.

“Hoseok-ah, kajja duduk bersamaku,” dia terdiam, melihatku dari atas ke bawah, lalu kembali ke mataku lagi.

“Okay,” jawabnya singkat. Aku mengangguk, walau tatapannya seperti itu, aku yakin dia anak baik.

Aku memilih duduk di dekat jalan, agar mudah jika aku ingin pergi dan mengambil barang. Aku lihat diatasku juga ada tempat menaruh tas, milik siapa ini? Batinku ingin tahu, setelah kucari-cari identitas koper itu, aku menemukan ada gantungan kunci Jungkook disana. Aiiiissshhh…. Miliknya. Aku langsung kembali duduk. Si namjapun datang dan tiba-tiba berteriak ke arahku.

“Yaa… ini kursiku,” bentaknya, sudah kuduga, aku akan duduk dengannya. Hoseok yang melihatnya langsung berniat pergi. Tapi aku menahannya.

“Tidakkah kau lihat? Disana masih ada bangku kosong?” ucapku melirik bangku yang kumaksud.

“Kau tidak lihat? Disini koperku, minggir,”

“Dan tidakkah kau tau? Koperku ada disana?” Kataku sambil menunjuk atas kepala Seokjin.
Akirnya dia menyerah, dan pergi kebelakang. Aku menyerukan kemenangan di dalam hatiku. Saat perjalanan, aku asik mengajak ngobrol Hoseok, Namjoon, dan Jimin yang ada di depanku. Mereka menyenangkan. Dan sesekali para anggota kelompok yang lain menimpali dan membuatku tertawa. Kecuali Jungkook, aku tak mendengar dia masih hidup atau tidak di belakang sana. EH? Siapa peduli dengannya. Cih.

Tapi tak lama, diapun berjalan mendekatiku, ah tepatnya mendekati kopernya. Dia tampak kesulitan, tapi kami semua asik tertawa dan mengacuhkannya. Hahaha kali ini aku yang menang Jungkook-ah.

Tapi saat aku tengah tertawa,

BRRRUUKK…

Sebuah benda menghantam keras kepalaku, aku berkunang-kunang, tapi masih sadar. Aku melihat semua berputar dan mereka mulai panik meneriakiku. Dan lama-lama suara itu terdengar jelas, dan mereka sudah tidak berbayang-bayang lagi.

Tersangka Jungkook hanya menunduk saat kutatapi ganas. Baru kali ini dia takluk di hadapanku.

“Mianhae…” ujarnya lirih, meminta pengampunanku.

“Ani!” seruku sambil melipat kedua tanganku ke depan dada.

Kami terus berdebat seperti itu di tengah travel, dalam posisi berdiri berhadap-hadapan.

“Mianhae…” katanya untuk ke sekian kalinya.

“ANIYO!” kataku lebih menekankannya.

“Araseo, terserah kau saja,” katanya yang akhirnya menyerah.

“MWO?!” ucapku tak percaya sambil membelalakkan kedua mataku. Mendadak travel di rem karena sudah sampai. Membuatku nyaris terhuyung dan jatuh kedepan jika tidak Jungkook topang dengan tangannya.

Jantungku berdetak kencang, aku tidak berani menatap matanya, takut jantungku akan meledak disini.

Aku melepaskan diri dari genggamannya. Masih dengan ekspresi sebal karena dia dengan mudahnya menyerah untuk meminta maaf padaku. Aku berjalan menuju tas, dan menyambarnya agar bisa keluar dari sini segera. Semua masih membeku, entah kenapa, tapi aku bergegas keluar.

Di luar travel ternyata sudah ada red carpet yang menyambut, dan balon berbentuk hati yang terangkat keudara di sepanjang jalan. Tapi aku tak sempat mengaguminya, aku terlalu kesal untuk itu. Dengan segera aku melangklah sebal dan masuk ke lobby. Duduk di sofa, dan menunggu sang pemesan kamar datang.

Setelah aku mendapatkan kamarku─yang tentu saja isinya hanya aku─aku bergegas menuju kamar. Dengan sedikit sebal membanting pintu kamar, aku mengacak-acak rambutku frustasi, tapi hal itu terhenti saat sampai di tempat yang benjol karena tas si pabo Jungkook. Sudahlah, pikirku, dan seseorang mengetuk pintuku.

“Ah, Taehyung-ah, waeyo?”

“Makan malam sudah menunggu, kajja,” aku mengangguk dan meminta waktu untuk berganti pakaian dulu. Sekarang aku keluar dengan kaos abu abu selutut, dan hotpants. Dengan rambut yang masih berantakan aku mengikuti Taehyung. Dijalan aku menyisir rambutku dengan jari, dan, akhirnya rapi.

Taehyung mengarahkanku ke kursi pojok, aku hanya tersenyum dan berterimakasih. Aku lihat semuanya sudah datang, kecuali Jungkook, aih, sepertinya…

“Mian,” benar, dia duduk disini.

“Mengapa kau duduk disini?” tanyaku pelan.

“Apa kau melihat ada bangku lain?” aku menyandarkan diri di kursi, dan untungnya makanan datang dengan cepat.

“Donghee-ya” panggilnya.

“Mwo?” jawabku ketus.

“Ah, ani, ani” jawabnya. Cih menyebalkan.

“Donghee-ya” panggilnya lagi.

“Wae?” kali ini jawabku lebih lembut.

Dia terkekeh bodoh. “Ah… gwaenchana” aku mendecak kesal. Dia mau mempermainkanku, eoh?

“Donghee-ya…” kini lebih lirih.

“Waeyooo?” jawabku sebal.

“Mian, Gwaenchanayo,” jawabnya lalu tersenyum polos. Aku mulai jengah, jadi aku tinggalkan dia, makan malamku dan semua yang ada disana untuk kembali ke kamar.

Besoknya, aku keluar dengan dress merahku yang memiliki motif bunga di bagian roknya, dan rambutku aku kepang ke samping, layaknya princess elsa di frosen(kkkk~).

Aku kali ini ingin fokus, aku akan melupakan permusuhanku dengan Jungkook sementara, demi nilai sejarah yang memuaskan. Jungkook juga sepertinya cukup profesional, kami berdua bekerja seperti tiada masalah, sampai semua bahan terkumpul.

-Di Depan Museum-

“Donghee-ya, lihat ada pemusik. Ini berikan pada mereka,” Jungkook menyodorkan sekeping recehan padaku, Cih dia sok akrab, aku bersikap acuh kembali padanya, dia yang heran hanya melengkungkan kembali bibirnya, kecewa.

“Ini Donghee-ya, coba kau berikan, aku penasaran mereka akan memainkan lagu apa,” Seokjin kini yang berganti menyodorkanku uang, kali ini aku tersenyum, sebenarnya aku juga penasaran. Tapi aku tak mau menerima uang Jungkook.

Aku maju dan menaruh uang itu di kotak, dan mereka kemudian memainkan lagu. Aku tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya, tapi lagu ini sangat bagus.

Aku mencintaimu

Bahkan terlalu mencintaimu

Apa aku terlihat bodoh? Atau memang aku sudah gila?

Kau yang membuatku gila

Pertanggung jawabkanlah

Dan jadilah engkau kekasihkuuuu~

Aku terdiam, tunggu, apa… jangan-jangan Seokjin sekarang tengah…

-Di Sekolah-

Tinggal presentasi kelompokku yang belum ditampilkan, aku cukup berdebar. Tapi betapa senangnya aku saat namja itu menggenggam tanganku untuk menenangkan sedikit kekhawatiranku.

Saat maju, aku cukup lancar dalam menyampaikan. Membuatku lega dan tinggal menunggu sesi tanya jawab.

Sesi tanya jawab juga berlangsung dengan baik, Tapi yang mendominasi jawaban adalah Oppaku, tentu saja. Kami akhirnya menutup presentasi dan Oppa menekan tombol untuk menampilkan Slide bertuliskan Thank You sembari mengakhiri presentasi.

Akan tetapi mendadak kelas riuh, aku menghadap ke layar. Ada fotoku dan Oppa sedang berciuman. Aiiisss matilah aku.

“Oppaaaa….” Dan dia hanya mengedikkan bahu.

-Flashback-

Disana berdiri seorang namja yang wajahnya ditutupi sebuket bunga mawar, dan dia lalu menurunkan bunga itu.

“Jungkook?” aku memanyunkan bibirku.

“Ne, Donghee, maukah kau menjadi kekasihku?” dia menyodorkan mawar, dan band di belakangku kembali berbunyi dengan alunan yang romantis.

“Kau pikir aku akan tertipu? Ani, aku tidak mau jadi bahan guyonan kalian,” jawabku ketus.

“Donghee-ya, ini serius, aku benar-benar menyukaimu, ani, aku mencintaimu,”

“Makan saja cintamu, aku takkan percaya,” aku berbalik dan ingin pergi. Mendadak dia menarikku, lalu membuat bibirku tertabrak oleh bibirnya, sakit memang. Tapi dia tetap menempelkannya, aku lihat, dia memejamkan matanya. Aku mengambil mawarnya perlahan dan dia mulai berusaha melumat bibirku. Aiiiisss namja ini.

Dengan satu gerakan aku pukul kepalanya. Dia melepaskan ciuman itu, sambil mengelus kepalanya.

“Apa ini saja cukup?” aku melambaikan mawarnya diudara dan dia baru menyadari mawar itu hilang dari genggamannya. Lalu aku tersenyum kecil dan dia juga

-Flashback end-

Lee Songsaenim benar-benar marah karena sembarangan menaruh foto itu di slide untuk pelajaran, alhasil kami dihukum.

“Kalian dihukum, setelah pelajaran saya, jalan jongkok bolak-balik di depan kelas, mengerti,”

“Ne,” jawab kami semua serempak.

“Eh, tapi ngomong-ngomong, selamat ya atas hubungan kalian,” Lee Songsaenim mendadak menjabat tanganku dan Jungkook.

Dan kami semua terkekeh

Saat jalan jongkok, kami hiasi sambil bercanda dan mengobrol agar tidak lelah. Dan tiba-tiba sebuah pernyataan mengejutkanku, Jungkook oppa mengatakan bahwa, sebenarnya setiap kerja kelompok ia selalu sengaja menyuruh guru untuk membuatnya selalu bersamaku.

Dan di setiap kerja kelompok, sebenarnya ia ingin menyatakan cinta padaku, contohnya saat invisible ink itu, dia sebenarnya menuliskan “Maukah kau menjadi kekasihku?” tapi karena tidak sengaja kubakar jadi gagal, lalu saat di red carpet resort, sebenarnya balon hati yang kulihat itu memiliki tulisan yang sama seperti invisible ink, dan saat makan malam, sebenarnya Oppa ingin menyatakan perasaannya tapi dia gugup. Jadi justru terlihat seperti mengerjaiku.
Aku malu menyadari kebodohanku, tapi toh itu semua berujung bahagia kan?

Fin~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar