12/05/2016

Love In School 2 (Jimin)



Love In School (Jimin)

Tittle : Love In School 2
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Aku (Reader)
-       Jimin
Support Cast : Member BTS
Author : Park Donghee

Lorong tempatku berjalan cukup gelap, itu karena memang sekarang bukan jamnya untuk berolah raga. Ya ini lorong ruang ganti, tapi milik namja, lalu kenapa aku ada di sini?
Itu karena aku akan mendatangi seorang namja yang sedang ada di sini. Bukan… dia bukan namjachinguku meski aku ingin menjadikannya begitu.
Aku mulai memasuki salah satu bilik yang lampunya menyala dengan tergesa.
“Aaaaaahhhhhh…!!!” teriakku nyaring, entah ini keberuntungan atau kesialan melihat namja ini hanya memakai selembar handuk. Yang jelas aku hanya bisa berteriak.
“Hei, hei, kau kenapa? Biasa sajalah…” kata namja itu sambil memalingkan wajahnya ke arahku.
Dengan tangan yang masih menutupi sebagian wajahku, aku memicingkan mata kearahnya, “Yaa… Jimin-ah, kau bilang biasa? Mungkin ini biasa bagimu, tapi tidak bagiku,” lalu dengan segera aku berbalik.
Tapi kemudian aku sedikit memberanikan diri untuk menoleh, aku hanya ingin memastikan dia sudah memakai bajunya atau belum. Tapi dia malah justru mendekat, aku kembali terkesiap. Berdoa semoga dia menjauh. Tapi aku mendadak membeku ketika tangan kekarnya kurasakan sudah mencengkram kedua lenganku. Aku menarik napas dalam, dan dia membalikkan tubuhku.
Dia mendekatkan wajahnya.
“Bukankah semua wanita suka melihat artis ber-abs seperti ini?” dia menepuk absnya, dan secara reflek mataku menuju kesana. Tapi setelah sadar aku membali menghadap matanya.
“Kau bukan artis pabo!” kataku di depan wajahnya lalu pergi. Meninggalkan dia dengan segala keterkejutannya. Aku berjalan cepat, melewati setiap jalan dengan lihai.
Jujur, aku memang suka melihatnya, aku bahkan ingin menyentuhnya, dan jika aku diijinkan aku akan memeluknya, dan… Assss… lamunan ini takkan berhenti.
Aku memang wanita tapi aku juga punya nafsu, apalagi berteman dengannya selama 1 tahun, membuatku tahu bagaimana nafsu itu.
Bukan… aku tidak melakukan hal-hal yang aneh dengannya, hanya saja dia itu namja yang yadong, dia selalu mengajakku ‘bertualang’ ya meskipun hanya wanita yang kita petualangi. Karena aku hanya ingin satu namja, yaitu dia bukan yang lain.
Kini aku sampai di lapangan basket, ahh aku sampai lupa pesanku. Harusnya tadi aku menyampaikan pesan untuknya, tapi dia justru membuat darahku berdesir. Aku takut lepas kendali.
Tapi dia datang. Jimin datang dengan berpakaian lengkap─tentu saja─membuatku masih mengingat pesan itu. Dia mendatangiku.
“Wae? Kau tidak mungkin datang ke ruang ganti hanya untuk itu kan?” aku mendengus sebal, mengingat kejadian tadi. Tapi kali ini aku menyerah dan aku hanya mengangguk.
“Pria itu, dia Namjoon, siswa baru yang berusaha merebut perhatian wanita-wanitamu. Tapi berbeda denganmu, dia mengandalkan keramahan dan senyumannya untuk memikat. Bukan bermodalkan sentuhan sepertimu,” aku tersenyum meremehkan.
Aku berharap kali ini kau mundur. Ujarku dalam hati. Menatapnya yang sedang berpikir.
“Apa kau punya ide? Aku harus cari cara untuk mengalahkannya,” aku mendengus, rupanya dia tidak mau menyerah.
“Andalkan Skinshipmu,” ucapku seadanya, karena dia bukan tipe penyuka romantis, baginya romantis itu hanya basa-basi, yang pasti ujung-ujungnya menuntut skinship. Jadi dia lebih suka To The Point.
“Lalu?” tanyanya, aku hanya menggeleng lalu pergi. Baru beberapa langkah, aku pergi meninggalkannya, tiba-tiba terdengar suara pengumuman.
“Pengumuman pengumuman, ditujukan pada seluruh pengurus OSIS dan ketua kelas 11 harap sekarang juga menuju ke ruang meeting, terimakasih,” dengan cepat aku menoleh, memberikan isyarat pada Jimin untuk ikut. Bagaimanapun dia adalah seorang ketua kelas, dan aku salah seorang pengurus OSIS. Walaupun aku tak tahu pasti kenapa Jimin bisa menjadi ketua kelas.
Kami sudah sampai di ruang meeting, dan kami memilih duduk dibelakang. Jimin masih diam, aku yakin dia sedang berpikir keras. Aku geli sendiri melihatnya sesekali memanyunkan bibirnya lucu dan menggeleng-geleng tidak jelas.
Lee songsaenim tiba, setelah berbasa-basi dengan kata-kata yang tak kupahami akhirnya beliau menerangkan apa tujuan kami dukumpulkan disini.
“Jadi anak-anak, tujuan kalian semua dikumpulkan disini adalah untuk membahas acara camping yang akan kita adakan minggu depan,” semua mengangguk kecuali Jimin.
“Naaahh… itu dia,” kata Jimin dengan keras dan bangkit dari kursinya. Aku memalingkan wajah sambil menarik-marik bajunya mengisyaratkan agar ia kembali duduk.
“Ada apa murid Park?” tanya Lee Songsaenim. Semua ikut menoleh, dan melihat wajah konyol Jimin. Aku semakin malu dibuatnya.
“Eeemmm… nahhh itu dia acara yang saya tunggu-tunggu, hehe” jawabnya konyol.
Aku menginjak kakinya pelan, mataku ku pelototkan seolah berkata Diamlah. Acara pembahasan dan seterusnya kini bisa berlangsung dengan tenang. Karena aku diminta secara pribadi oleh Lee Songsaenim untuk menjadi pawang Jimin.
Setelah keluar, Jimin menarik tanganku. “Yaa… Aku sudah dapat ide,” katanya senang. Dari wajahnya, ini menandakan bahwa dia akan mengajakku ‘berpetualang’ lagi.
“Sudah kuduga, mwo?” jawabku datar.
“Saat camping, aku akaaan….” dia memberi jeda yang cukup lama, tapi aku sudah mengerti. Dan aku tidak ingin mendengarnya lagi.
“Chakkaman, arraseo, aku sudah mengerti. Tidak perlu kau lanjutkan,” dia terbelalak.
“Jinjja? Heol, kau hebat, dan kau teman yang paling mengerti aku,” ucapnya manja.
“Ne, ne,” kataku sambil lalu.
Teman, dia kata? Cih. batinku sinis atas apa yang dia ucapkan.
-Di Rumah-
Aku dengan kelabakan membongkar isi lemariku, Aku lupa berkemas, dan besok aku harus berangkat camping. Ahhh… aku ini bodoh sekali. Batinku.
-Hari H Camping-
Cuaca terlihat cerah, membuatku cukup senang dengan acara camping ini, baru aku akan keluar dari bis mendadak tanganku diraih oleh seseorang.
“Annyeong~” sapa Jimin dengan gaya tololnya.
“Kau tadi ke mana saja? Aku sepertinya tidak melihatmu di bis,” ucapku sambil melanjutkan perjalanan.
“Mian, aku tadi sedang bersemedi, untuk menyusun rencana,” aku menggembungkan pipiku sebal.
Dia benar-benar tidak ingin menyerah.
“Kau ingin dengar bagaimana rencananya?” dia menawarkan dengan nada ceria.
“Aniyo,” jawabku tak peduli.
“Kau harus dengar, karena di rencana kali ini kau terlibat,” aku menghentikan langkahku. Dan dengan cepat menoleh kearahnya.
“MWO?! Andwae! Aku tidak mau terlibat dalam rencana bodohmu itu dan di cap siswi yadong di sekolah, ani, ani,” kataku sambil menggeleng dan mulai berjalan cepat. Dia mengejar langkahku. Lalu menggenggam tanganku. Dia membuatku menatap mata memelasnya. Tanganku masih di genggam, bahkan dia menciumi punggung tanganku lembut. Aku kesulitan menelan ludah, nafasku mulai memburu. Aiiisss kenapa aku selalu luluh dengan sikapnya ini?
“Gurae, gurae… jelaskan rencanamu,” dia tersenyum menang. Dan menceritakan rencana gilanya. Yang hanya bisa kutanggapi dengan anggukan.
-Jam Bebas di Tempat Camping-
“Siap?” tanyanya sambil berbisik.
“Ne,” aku mengangguk dan segera melakukan tos dengan Jimin. Aku berjalan dengan sedikit melompat-lompat unyu ke arah gerombolan teman-teman wanitaku (baca : mantan wanita-wanita Jimin)
“Yaa… kalian tahu, di dekat sini ada air terjun? Kudengar airnya sangat sejuk, Apa kalian mau mandi denganku di sana?” ujarku separuh berbisik dengan mereka.
Jeda yang mereka beri cukup panjang, membuatku menggigit bibir bawahku tegang.
“Boleh, kami bersiap dulu, ne” ucap salah satu yeoja berwajah imut. Dan yang lainpun hanya mengangguk.
Aktingku bagus juga. Batinku memuji diri sendiri. Aku lihat dari jauh Jimin mengacungkan dua ibu jarinya padaku, membuatku tersenyum dan semakin tinggi hati. Hahaha.
Mereka semua siap, dan aku juga. Lebih tepatnya aku siap untuk menjerumuskan mereka ke dalam jebakan Jimin. Tapi jebakan ini tidak ‘se-kejam’ yang kalian pikirkan, tenang. Jimin orang yang baik, meskipun yadong, dia tidak pernah mau menyakiti wanita.
Singkat cerita sampailah kita di air terjun. Tanpa pikir panjang mereka langsung membuka baju dan menyisakan mereka yang memakai tanktop dan celana pendek. Aku hanya membelalak keheranan. Tanpa perlu aku berakting untuk memancing, mereka sudah bersemangat rupanya. Aku segera membaur dengan semak. Mereka terlalu asik, bahkan tak menyadari aku sudah pergi.
Jimin siap di sebelahku dengan absnya yang menawan. Aku menggigit bibir bawahku saat tak sengaja melihatnya. Lalu ikut berjongkok di sampingnya. Dia menunggu waktu yang tepat, yaitu salah seorang dari mereka duduk dan ia bisa menyambanginya. Berpura-pura tidak sengaja bertemu dan memamerkan absnya, dan seterusnya, itulah rencana Jimin yang licik.
Wanita paling imut itu akhirnya duduk, aku menatapnya panik. Jimin mulai siap, tapi saat akan berdiri aku menahan kakinya─reflek. Membuat suara gesekan rumput yang lumayan keras
Suara itupun terdengar dan membuat para gadis ngibrit ketakutan. Baik, aku menyesal, rencana ini gagal karenaku. Tapi dia menepuk pundakku yang sudah menunduk lemas.
“Tenang saja, aktingmu tadi bagus, kita hanya kurang beruntung,” senyumnya benar-benar bisa menenangkanku, aku ikut tersenyum dan kembali ke tenda bersamanya.
-Di Sekolah-
Camping sudah berlalu, dan menyisakan Jimin yang menjadi seperti orang kurang kerjaan. Karena kehilangan wanita-wanita yang selalu menghampirinya saat jam istirahat tiba. Tapi aku bersyukur, akhirnya dia menyerah. Dan sebagai gantinya, aku yang biasanya langsung ke kantin bersama temanku begitu bel berbunyi. Kini selalu menemani kesuraman harinya.
Satu hari, begitu bel, dia menghilang. Walaupun kita satu kelas, tapi jarak bangku kita cukup jauh, membuatku kebingungan mencarinya.
Akhirnya aku memutuskan bertanya.
“Chogiyo Yoongi, apa kau melihat Jimin-ah?” tanyaku sambil menepuk pundak Yoongi ringan, takut mengganggunya yang sedang memesan makanan. Dia menoleh dan berpikir sejenak.
“Coba tanyakan pada yang lain,” jawabnya sambil menunjuk kearah Seokjin, Jungkook, Taehyung, Hoseok, dan Namjoon.
“Chogiyo, apa ada dari kalian yang melihat Jimin-ah?” tanyaku pada sekumpulan namja tampan itu. Taehyung berdiri dan merangkulku, aku menepisnya ringan, tapi dia kembali merangkulku.
“Kenapa kau mencarinya? Bukan aku saja?” namja aneh. Aku melepaskan rangkulannya lagi plus tatapan dingin yang membuatnya menyerah. Dan mereka tertawa.
“Noona, sepertinya aku melihatnya kearah ruang musik,” aku terkejut dipanggil noona oleh adik kelas tampan itu.
“Jinjja? Gomawo Jungkook-ah,” kataku sambil berusaha memamerkan deretan gigiku, lalu pergi. Tapi aku mendengarkan suara Uuuuhhh….~ mereka, entah apa yang mereka lakukan. Dasar namja tampan yang aneh.
Ya, informasi dari Jungkook tidak salah, sekarang aku melihatnya yang berdiri di depan ruang musik, atau mungkin lebih tepatnya mengintip ke dalam ruang musik.
Dia kenapa?
Aku ikut melongok ke dalam ruang yang luas itu, dan aku melihat seorang… Uh? Ballerina? Mengapa dia di ruang musik? Ah pasti karena ruang dance sedang di renovasi.
Aku mendekatkan bibirku di telinga Jimin. “Jimin-ahhh…” bisikku sangat pelan.
“Mwoya?” balasnya tidak kalah pelan, tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kenapa kau melihatnya?” dia terkekeh pelan.
“Kau lihat? Aku baru menyadarinya saat tidak sengaja lewat disini, ternyata ballerina itu sangat seksi, lihat lekuk tubuhnya sangat terlihat saat sedang menari,” katanya, membuatku memutar kedua bola mataku jengah.
Aku yang dari tadi berjinjit mulai lelah, ya aku memang berjinjit karena Jimin menghalangi pandanganku─karena dia tinggi─jadi aku mulai berdiri biasa. Tapi justru itu menimbulkan suara decitan yang menyentak ballerina itu. Aku berdiri dengan gaya bodoh menatap Jimin.
“Minrin-aaaah,” desisnya dengan sebal, tapi tiba-tiba aku terpikir ide gila.
“Ah, mianhae sunbaenim mengganggu latihanmu, hanya saja ini ada yang ingin berkenalan denganmu,” kataku sambil menyeret Jimin. Aku merasa Jimin tidak jelek, jadi seharusnya wanita ini tidak akan menolaknya mentah-mentah.
Jimin tersenyum penuh arti padaku. Dan aku hanya tersenyum konyol.
“Ah, ne…“ jawab yeoja super manis itu dengan lembut. Lalu sesi perkenalan itu di mulai, tapi sebelum aku sempat mendengar namanya aku pamit pergi, dan kembali ke kelas.
Jealous? Aku jelous? Sudah jelas bahwa jawabannya adalah ya. Aku muak melihat cara Jimin menatap wanita itu. Mungkin Jimin benar-benar menyukai wanita itu. Ah, aku merasakan dadaku mulai sesak. Tidak jangan menangis. Aku tidak mau terlihat lemah.
-Di Rumah-
Sudah dua hari sejak insiden-berkenalan-di-ruang-musik itu terjadi, dan Jimin terlihat menjadi dekat sekali dengan eonni itu. Aku menghela napas berat, hal ini membuatku tidak napsu makan. Tapi dengan wajah tegarnya eommaku memaksaku untuk memakan dari suapannya.
Aku keluar kamar dengan lemas, aku rasa eommaku sadar aku berubah, tapi dia tidak berani melewati batas garis privacyku. Tapi mendadak dongsaengku muncul.
“Noona, bisa berikan aku uang? Aku ingin sekali kimbab di depan,” ucap dongsaengku manja. Aku sedang malas, jadi aku hanya menatapnya datar.
“Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu? Jelek sekali noona,” ucapnya tanpa dosa. Tapi mendadak aku terpikir sesuatu. Bagaimanapun dia kan seorang namja. Aku lalu tersenyum licik.
“Kau ingin uang? Jawab dulu pertanyaanku,” dia tanpa pikir panjang langsung mengangguk. “Kau pernah menyukai yeoja?” tanyaku sambil berbisik, takut eommaku mendengar.
Dia mengangguk membuatku semakin semangat. “Dia tipe wanita seperti apa? Apa dia suka memakai rok pendek atau celana pendek yang menggoda?’ adikku mengernyit seperti mengatakan noona yakin bertanya hal seperti itu pada anak kecil? Tapi dia lalu menjawab demi imbalannya.
“Dia sangat manis, ya dia memang sering memakai rok pendek, dan itu membuatnya menawan,” cukup, aku merasa cukup. Sekarang aku mengerti, aku lalu mengeluarkan uang dan kuberikan pada adikku itu. Dia lalu menciumku dan pergi.
Aku terkekeh, karena memikirkan rencana ini.
-Di Sekolah-
Aku datang lebih awal, bukan apa-apa, hanya saja aku kurang percaya diri dengan penampilan baruku. Aku mengendap ke kelas dengan terus menarik-narik rokku yang aku yakin sudah cukup pendek itu.
Selama pelajaran semua baik, belum ada yang menyadari hal aneh pada diriku, sampai pada jam istirahat, aku beranjak dari kursi dan membuat semua namja yang melihatku ber-ohhhh panjang yang sangat mengganggu.
Tak apa, demi Jimin. Batinku.
Sampai di samping lapangan basket, aku melihat gerombolan Seokjin, aku menghampiri mereka. dan disana aku menyapa mereka manja.
“Annyeong~” sambil melambaikan tanganku. Mereka terlihat keheranan dan saling menatap, lalu Jungkook menanyaiku.
“Kau kenapa noona?” dia berkata sambil menyipitkan matanya. Kembali menatapku dari atas kebawah dan kembali ke mataku.
“Apa kau tau ini sekolah? Minrin-ah” kata Seokjin sedikit ketus. Tidak seperti biasanya.
“Arrayo, wae?” tanyaku sambil memainkan jariku gugup. Aku sudah tau kesalahanku tapi aku tetap berusaha bertahan demi Jimin.
“Yaa… apa kau kemarin bertambah tinggi dengan cepat?” kata Hoseok sambil menghampiriku, “Tapi aku tetap masih lebih tinggi darimu,” serunya sambil membandingkan tinggi kami.
Mendadak aku merasakan tangan kekar itu menarikku dan menggandengku untuk menjauh dari lapangan basket. Membuat semua namja tampan tadi melihatku sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya
“Jimin-ah… lepaskan, ini sakit,” kataku, tapi dia masih mencengkram tanganku kuat. Entah dia sedang emosi karena apa, tapi yang jelas dia marah dan aku bisa melihatnya jelas.
Dan sampailah kita di ruang ganti olahraga namja ini lagi. Dia lalu menyudutkanku.
“Pabo!” teriaknya. Aku yang terkejut hanya bisa diam. “Kenapa kau mengenakan rok sependek ini? Kau pikir ini tidak akan membuat semua namja disini mengincarmu?” aku mengusap tengkukku. Bersiap untuk jujur.
“Jimin-ah… aku melakukan ini, karena kau,” dia terkejut. Aku melanjutkan kalimatku.
“Aku menyukaimu, sudah dari lama, tapi kau hanya menganggapku chingu, ah bahkan kau menganggapku seorang namja, ne? kau mengajariku apa itu nafsu, dan cara mengendalikannya, tapi kau sendiri yang selalu membuat darahku ini berdesir hebat,” aku nyaris menitikkan air mata.
“Dan bahkan kau mengajakku berpetualang, memasukkanku ke dalam skenariomu untuk menjebak para yeoja, padahal aku sendiri seorang yeoja dan kau selalu mengabaikannya, kau tidak tahu betaemmppphh” kata-kataku terhenti, aku dibungkam oleh bibir namja ini. Dia tiba-tiba saja sudah menempelkan bibir manisnya. Saat dia akan menelusupkan lidahnya aku mendorongnya. Lalu menggeleng.
“Aku bahkan masih 17 tahun, tunggulah aku berusia 18,” kataku.
“Memang apa bedanya?” katanya sambil berusaha menciumku lagi.
“Isss… jadi kau tidak mau menunggu?” kataku sambil mendorongnya.
“Gurae, tapi berikan 1 kecupan lagi…” wajahnya memelas, lalu aku mengecupnya singkat.
Tapi dia terlalu pintar, saat aku akan menarik ciuman itu dia mendorong tengkukku, sial. Batinku.
-(masukkan tanggal ulang tahunmu)-
“Sengeil Chukka Hamnida Sengeil Chukka Hamnida, Saranghaneun Minrin-ah, Sengeil Chukka Hamnida, yeeee” teriak Jimin seorang diri.
Dia benar-benar membuatku gila, senyumnya bisa melelehkanku seketika. Saat ini kami ada di sebuah tempat makan yang sepi. Jadi Jimin dan aku leluasa untuk berteriak-teriak.
“Yaa… kau hanya membawa kue? Lalu mana sup rumput lautku, eoh?” kataku manja.
“Aigoo, tunggu sebentar,” lalu dia berlari kebelakang seolah mengingat sesuatu. Ia lalu kembali, tapi tanpa membawa apapun, dia hanya tersenyum. Tapi dia mendadak memegang kedua pipiku, mengarahkanku untuk menatapnya. Lalu tiba-tiba dia menciumku.
Aku tidak bisa mengelak, kini usiaku genap 18 tahun, seperti yang kujanjikan pada Jimin, dia bisa menciumku. Tapi aku merasakan hal yang aneh saat lidah Jimin mulai bermain dengan lidahku. Apa begini rasa ciuman sesungguhnya? Rasa sup rumput laut? Ia lalu melepaskan ciuman itu. Aku lalu menyadari apa yang dia lakukan.
“Yaa… Kau tadi memasukkan sup rumput laut ke mulutmu ya? Lalu kau menciumku kan memasukkan itu ke dalam mulutku, ne?” dia mengangguk polos. “issss… kau menjijikkan,” aku lalu menjulurkan lidah.
“Tapi kau suka kan?” katanya sambil memegang kedua pipiku, dan kembali melumat bibirku. Dasar tidak tahu malu.


Fin~