Love In School (Jimin)
Tittle : Love In School 2
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Aku (Reader)
- Jimin
Support Cast : Member BTS
Author : Park Donghee
Lorong tempatku
berjalan cukup gelap, itu karena memang sekarang bukan jamnya untuk berolah
raga. Ya ini lorong ruang ganti, tapi milik namja, lalu kenapa aku ada di sini?
Itu karena aku akan
mendatangi seorang namja yang sedang ada di sini. Bukan… dia bukan
namjachinguku meski aku ingin menjadikannya begitu.
Aku mulai memasuki
salah satu bilik yang lampunya menyala dengan tergesa.
“Aaaaaahhhhhh…!!!”
teriakku nyaring, entah ini keberuntungan atau kesialan melihat namja ini hanya
memakai selembar handuk. Yang jelas aku hanya bisa berteriak.
“Hei, hei, kau
kenapa? Biasa sajalah…” kata namja itu sambil memalingkan wajahnya ke arahku.
Dengan tangan yang
masih menutupi sebagian wajahku, aku memicingkan mata kearahnya, “Yaa…
Jimin-ah, kau bilang biasa? Mungkin ini biasa bagimu, tapi tidak bagiku,” lalu
dengan segera aku berbalik.
Tapi kemudian aku
sedikit memberanikan diri untuk menoleh, aku hanya ingin memastikan dia sudah
memakai bajunya atau belum. Tapi dia malah justru mendekat, aku kembali
terkesiap. Berdoa semoga dia menjauh. Tapi aku mendadak membeku ketika tangan
kekarnya kurasakan sudah mencengkram kedua lenganku. Aku menarik napas dalam,
dan dia membalikkan tubuhku.
Dia mendekatkan
wajahnya.
“Bukankah semua
wanita suka melihat artis ber-abs seperti ini?” dia menepuk absnya, dan secara
reflek mataku menuju kesana. Tapi setelah sadar aku membali menghadap matanya.
“Kau bukan artis
pabo!” kataku di depan wajahnya lalu pergi. Meninggalkan dia dengan segala
keterkejutannya. Aku berjalan cepat, melewati setiap jalan dengan lihai.
Jujur, aku memang suka melihatnya, aku
bahkan ingin menyentuhnya, dan jika aku diijinkan aku akan memeluknya, dan… Assss… lamunan ini takkan berhenti.
Aku memang wanita
tapi aku juga punya nafsu, apalagi berteman dengannya selama 1 tahun, membuatku
tahu bagaimana nafsu itu.
Bukan… aku tidak
melakukan hal-hal yang aneh dengannya, hanya saja dia itu namja yang yadong,
dia selalu mengajakku ‘bertualang’ ya meskipun hanya wanita yang kita
petualangi. Karena aku hanya ingin satu namja, yaitu dia bukan yang lain.
Kini aku sampai di
lapangan basket, ahh aku sampai lupa pesanku. Harusnya tadi aku menyampaikan
pesan untuknya, tapi dia justru membuat darahku berdesir. Aku takut lepas
kendali.
Tapi dia datang.
Jimin datang dengan berpakaian lengkap─tentu saja─membuatku masih mengingat
pesan itu. Dia mendatangiku.
“Wae? Kau tidak
mungkin datang ke ruang ganti hanya untuk itu kan?” aku mendengus sebal,
mengingat kejadian tadi. Tapi kali ini aku menyerah dan aku hanya mengangguk.
“Pria itu, dia
Namjoon, siswa baru yang berusaha merebut perhatian wanita-wanitamu. Tapi
berbeda denganmu, dia mengandalkan keramahan dan senyumannya untuk memikat.
Bukan bermodalkan sentuhan sepertimu,” aku tersenyum meremehkan.
Aku berharap kali ini kau mundur. Ujarku dalam hati. Menatapnya yang
sedang berpikir.
“Apa kau punya ide?
Aku harus cari cara untuk mengalahkannya,” aku mendengus, rupanya dia tidak mau
menyerah.
“Andalkan
Skinshipmu,” ucapku seadanya, karena dia bukan tipe penyuka romantis, baginya
romantis itu hanya basa-basi, yang pasti ujung-ujungnya menuntut skinship. Jadi
dia lebih suka To The Point.
“Lalu?” tanyanya,
aku hanya menggeleng lalu pergi. Baru beberapa langkah, aku pergi
meninggalkannya, tiba-tiba terdengar suara pengumuman.
“Pengumuman pengumuman, ditujukan pada
seluruh pengurus OSIS dan ketua kelas 11 harap sekarang juga menuju ke ruang
meeting, terimakasih,” dengan
cepat aku menoleh, memberikan isyarat pada Jimin untuk ikut. Bagaimanapun dia
adalah seorang ketua kelas, dan aku salah seorang pengurus OSIS. Walaupun aku
tak tahu pasti kenapa Jimin bisa menjadi ketua kelas.
Kami sudah sampai
di ruang meeting, dan kami memilih duduk dibelakang. Jimin masih diam, aku
yakin dia sedang berpikir keras. Aku geli sendiri melihatnya sesekali
memanyunkan bibirnya lucu dan menggeleng-geleng tidak jelas.
Lee songsaenim
tiba, setelah berbasa-basi dengan kata-kata yang tak kupahami akhirnya beliau
menerangkan apa tujuan kami dukumpulkan disini.
“Jadi anak-anak,
tujuan kalian semua dikumpulkan disini adalah untuk membahas acara camping yang
akan kita adakan minggu depan,” semua mengangguk kecuali Jimin.
“Naaahh… itu dia,”
kata Jimin dengan keras dan bangkit dari kursinya. Aku memalingkan wajah sambil
menarik-marik bajunya mengisyaratkan agar ia kembali duduk.
“Ada apa murid
Park?” tanya Lee Songsaenim. Semua ikut menoleh, dan melihat wajah konyol
Jimin. Aku semakin malu dibuatnya.
“Eeemmm… nahhh itu
dia acara yang saya tunggu-tunggu, hehe” jawabnya konyol.
Aku menginjak
kakinya pelan, mataku ku pelototkan seolah berkata Diamlah. Acara pembahasan dan seterusnya kini bisa berlangsung
dengan tenang. Karena aku diminta secara pribadi oleh Lee Songsaenim untuk
menjadi pawang Jimin.
Setelah keluar,
Jimin menarik tanganku. “Yaa… Aku sudah dapat ide,” katanya senang. Dari
wajahnya, ini menandakan bahwa dia akan mengajakku ‘berpetualang’ lagi.
“Sudah kuduga,
mwo?” jawabku datar.
“Saat camping, aku
akaaan….” dia memberi jeda yang cukup lama, tapi aku sudah mengerti. Dan aku
tidak ingin mendengarnya lagi.
“Chakkaman,
arraseo, aku sudah mengerti. Tidak perlu kau lanjutkan,” dia terbelalak.
“Jinjja? Heol, kau
hebat, dan kau teman yang paling mengerti aku,” ucapnya manja.
“Ne, ne,” kataku
sambil lalu.
Teman, dia kata? Cih. batinku sinis atas apa yang dia ucapkan.
-Di Rumah-
Aku dengan
kelabakan membongkar isi lemariku, Aku lupa berkemas, dan besok aku harus
berangkat camping. Ahhh… aku ini bodoh
sekali. Batinku.
-Hari H Camping-
Cuaca terlihat
cerah, membuatku cukup senang dengan acara camping ini, baru aku akan keluar
dari bis mendadak tanganku diraih oleh seseorang.
“Annyeong~” sapa
Jimin dengan gaya tololnya.
“Kau tadi ke mana
saja? Aku sepertinya tidak melihatmu di bis,” ucapku sambil melanjutkan
perjalanan.
“Mian, aku tadi
sedang bersemedi, untuk menyusun rencana,” aku menggembungkan pipiku sebal.
Dia benar-benar tidak ingin menyerah.
“Kau ingin dengar bagaimana
rencananya?” dia menawarkan dengan nada ceria.
“Aniyo,” jawabku
tak peduli.
“Kau harus dengar,
karena di rencana kali ini kau terlibat,” aku menghentikan langkahku. Dan
dengan cepat menoleh kearahnya.
“MWO?! Andwae! Aku
tidak mau terlibat dalam rencana bodohmu itu dan di cap siswi yadong di
sekolah, ani, ani,” kataku sambil menggeleng dan mulai berjalan cepat. Dia
mengejar langkahku. Lalu menggenggam tanganku. Dia membuatku menatap mata
memelasnya. Tanganku masih di genggam, bahkan dia menciumi punggung tanganku
lembut. Aku kesulitan menelan ludah, nafasku mulai memburu. Aiiisss kenapa aku selalu luluh dengan
sikapnya ini?
“Gurae, gurae…
jelaskan rencanamu,” dia tersenyum menang. Dan menceritakan rencana gilanya.
Yang hanya bisa kutanggapi dengan anggukan.
-Jam Bebas di
Tempat Camping-
“Siap?” tanyanya
sambil berbisik.
“Ne,” aku
mengangguk dan segera melakukan tos dengan Jimin. Aku berjalan dengan sedikit
melompat-lompat unyu ke arah gerombolan teman-teman wanitaku (baca : mantan
wanita-wanita Jimin)
“Yaa… kalian tahu,
di dekat sini ada air terjun? Kudengar airnya sangat sejuk, Apa kalian mau
mandi denganku di sana?” ujarku separuh berbisik dengan mereka.
Jeda yang mereka
beri cukup panjang, membuatku menggigit bibir bawahku tegang.
“Boleh, kami bersiap
dulu, ne” ucap salah satu yeoja berwajah imut. Dan yang lainpun hanya
mengangguk.
Aktingku bagus juga. Batinku memuji diri sendiri. Aku lihat
dari jauh Jimin mengacungkan dua ibu jarinya padaku, membuatku tersenyum dan
semakin tinggi hati. Hahaha.
Mereka semua siap,
dan aku juga. Lebih tepatnya aku siap untuk menjerumuskan mereka ke dalam
jebakan Jimin. Tapi jebakan ini tidak ‘se-kejam’ yang kalian pikirkan, tenang.
Jimin orang yang baik, meskipun yadong, dia tidak pernah mau menyakiti wanita.
Singkat cerita
sampailah kita di air terjun. Tanpa pikir panjang mereka langsung membuka baju
dan menyisakan mereka yang memakai tanktop dan celana pendek. Aku hanya
membelalak keheranan. Tanpa perlu aku berakting untuk memancing, mereka sudah
bersemangat rupanya. Aku segera membaur dengan semak. Mereka terlalu asik,
bahkan tak menyadari aku sudah pergi.
Jimin siap di
sebelahku dengan absnya yang menawan. Aku menggigit bibir bawahku saat tak
sengaja melihatnya. Lalu ikut berjongkok di sampingnya. Dia menunggu waktu yang
tepat, yaitu salah seorang dari mereka duduk dan ia bisa menyambanginya.
Berpura-pura tidak sengaja bertemu dan memamerkan absnya, dan seterusnya,
itulah rencana Jimin yang licik.
Wanita paling imut
itu akhirnya duduk, aku menatapnya panik. Jimin mulai siap, tapi saat akan
berdiri aku menahan kakinya─reflek. Membuat suara gesekan rumput yang lumayan
keras
Suara itupun
terdengar dan membuat para gadis ngibrit ketakutan. Baik, aku menyesal, rencana
ini gagal karenaku. Tapi dia menepuk pundakku yang sudah menunduk lemas.
“Tenang saja,
aktingmu tadi bagus, kita hanya kurang beruntung,” senyumnya benar-benar bisa
menenangkanku, aku ikut tersenyum dan kembali ke tenda bersamanya.
-Di Sekolah-
Camping sudah
berlalu, dan menyisakan Jimin yang menjadi seperti orang kurang kerjaan. Karena
kehilangan wanita-wanita yang selalu menghampirinya saat jam istirahat tiba.
Tapi aku bersyukur, akhirnya dia menyerah. Dan sebagai gantinya, aku yang
biasanya langsung ke kantin bersama temanku begitu bel berbunyi. Kini selalu menemani
kesuraman harinya.
Satu hari, begitu
bel, dia menghilang. Walaupun kita satu kelas, tapi jarak bangku kita cukup
jauh, membuatku kebingungan mencarinya.
Akhirnya aku
memutuskan bertanya.
“Chogiyo Yoongi,
apa kau melihat Jimin-ah?” tanyaku sambil menepuk pundak Yoongi ringan, takut
mengganggunya yang sedang memesan makanan. Dia menoleh dan berpikir sejenak.
“Coba tanyakan pada
yang lain,” jawabnya sambil menunjuk kearah Seokjin, Jungkook, Taehyung,
Hoseok, dan Namjoon.
“Chogiyo, apa ada
dari kalian yang melihat Jimin-ah?” tanyaku pada sekumpulan namja tampan itu.
Taehyung berdiri dan merangkulku, aku menepisnya ringan, tapi dia kembali
merangkulku.
“Kenapa kau
mencarinya? Bukan aku saja?” namja aneh. Aku melepaskan rangkulannya lagi plus
tatapan dingin yang membuatnya menyerah. Dan mereka tertawa.
“Noona, sepertinya
aku melihatnya kearah ruang musik,” aku terkejut dipanggil noona oleh adik
kelas tampan itu.
“Jinjja? Gomawo
Jungkook-ah,” kataku sambil berusaha memamerkan deretan gigiku, lalu pergi. Tapi
aku mendengarkan suara Uuuuhhh….~ mereka, entah apa yang mereka lakukan. Dasar
namja tampan yang aneh.
Ya, informasi dari
Jungkook tidak salah, sekarang aku melihatnya yang berdiri di depan ruang
musik, atau mungkin lebih tepatnya mengintip ke dalam ruang musik.
Dia kenapa?
Aku ikut melongok
ke dalam ruang yang luas itu, dan aku melihat seorang… Uh? Ballerina? Mengapa
dia di ruang musik? Ah pasti karena ruang dance sedang di renovasi.
Aku mendekatkan
bibirku di telinga Jimin. “Jimin-ahhh…” bisikku sangat pelan.
“Mwoya?” balasnya
tidak kalah pelan, tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kenapa kau
melihatnya?” dia terkekeh pelan.
“Kau lihat? Aku
baru menyadarinya saat tidak sengaja lewat disini, ternyata ballerina itu
sangat seksi, lihat lekuk tubuhnya sangat terlihat saat sedang menari,”
katanya, membuatku memutar kedua bola mataku jengah.
Aku yang dari tadi
berjinjit mulai lelah, ya aku memang berjinjit karena Jimin menghalangi
pandanganku─karena dia tinggi─jadi aku mulai berdiri biasa. Tapi justru itu menimbulkan
suara decitan yang menyentak ballerina itu. Aku berdiri dengan gaya bodoh
menatap Jimin.
“Minrin-aaaah,”
desisnya dengan sebal, tapi tiba-tiba aku terpikir ide gila.
“Ah, mianhae
sunbaenim mengganggu latihanmu, hanya saja ini ada yang ingin berkenalan
denganmu,” kataku sambil menyeret Jimin. Aku merasa Jimin tidak jelek, jadi
seharusnya wanita ini tidak akan menolaknya mentah-mentah.
Jimin tersenyum
penuh arti padaku. Dan aku hanya tersenyum konyol.
“Ah, ne…“ jawab
yeoja super manis itu dengan lembut. Lalu sesi perkenalan itu di mulai, tapi
sebelum aku sempat mendengar namanya aku pamit pergi, dan kembali ke kelas.
Jealous? Aku
jelous? Sudah jelas bahwa jawabannya adalah ya. Aku muak melihat cara Jimin
menatap wanita itu. Mungkin Jimin benar-benar menyukai wanita itu. Ah, aku
merasakan dadaku mulai sesak. Tidak jangan menangis. Aku tidak mau terlihat
lemah.
-Di Rumah-
Sudah dua hari
sejak insiden-berkenalan-di-ruang-musik itu terjadi, dan Jimin terlihat menjadi
dekat sekali dengan eonni itu. Aku menghela napas berat, hal ini membuatku
tidak napsu makan. Tapi dengan wajah tegarnya eommaku memaksaku untuk memakan
dari suapannya.
Aku keluar kamar
dengan lemas, aku rasa eommaku sadar aku berubah, tapi dia tidak berani
melewati batas garis privacyku. Tapi mendadak dongsaengku muncul.
“Noona, bisa
berikan aku uang? Aku ingin sekali kimbab di depan,” ucap dongsaengku manja.
Aku sedang malas, jadi aku hanya menatapnya datar.
“Waeyo? Kenapa
wajahmu seperti itu? Jelek sekali noona,” ucapnya tanpa dosa. Tapi mendadak aku
terpikir sesuatu. Bagaimanapun dia kan
seorang namja. Aku lalu tersenyum licik.
“Kau ingin uang?
Jawab dulu pertanyaanku,” dia tanpa pikir panjang langsung mengangguk. “Kau
pernah menyukai yeoja?” tanyaku sambil berbisik, takut eommaku mendengar.
Dia mengangguk
membuatku semakin semangat. “Dia tipe wanita seperti apa? Apa dia suka memakai
rok pendek atau celana pendek yang menggoda?’ adikku mengernyit seperti
mengatakan noona yakin bertanya hal
seperti itu pada anak kecil? Tapi dia lalu menjawab demi imbalannya.
“Dia sangat manis,
ya dia memang sering memakai rok pendek, dan itu membuatnya menawan,” cukup,
aku merasa cukup. Sekarang aku mengerti, aku lalu mengeluarkan uang dan
kuberikan pada adikku itu. Dia lalu menciumku dan pergi.
Aku terkekeh, karena
memikirkan rencana ini.
-Di Sekolah-
Aku datang lebih
awal, bukan apa-apa, hanya saja aku kurang percaya diri dengan penampilan
baruku. Aku mengendap ke kelas dengan terus menarik-narik rokku yang aku yakin
sudah cukup pendek itu.
Selama pelajaran semua
baik, belum ada yang menyadari hal aneh pada diriku, sampai pada jam istirahat,
aku beranjak dari kursi dan membuat semua namja yang melihatku ber-ohhhh
panjang yang sangat mengganggu.
Tak apa, demi Jimin. Batinku.
Sampai di samping
lapangan basket, aku melihat gerombolan Seokjin, aku menghampiri mereka. dan
disana aku menyapa mereka manja.
“Annyeong~” sambil
melambaikan tanganku. Mereka terlihat keheranan dan saling menatap, lalu
Jungkook menanyaiku.
“Kau kenapa noona?”
dia berkata sambil menyipitkan matanya. Kembali menatapku dari atas kebawah dan
kembali ke mataku.
“Apa kau tau ini
sekolah? Minrin-ah” kata Seokjin sedikit ketus. Tidak seperti biasanya.
“Arrayo, wae?”
tanyaku sambil memainkan jariku gugup. Aku sudah tau kesalahanku tapi aku tetap
berusaha bertahan demi Jimin.
“Yaa… apa kau
kemarin bertambah tinggi dengan cepat?” kata Hoseok sambil menghampiriku, “Tapi
aku tetap masih lebih tinggi darimu,” serunya sambil membandingkan tinggi kami.
Mendadak aku
merasakan tangan kekar itu menarikku dan menggandengku untuk menjauh dari
lapangan basket. Membuat semua namja tampan tadi melihatku sambil
menggeleng-nggelengkan kepalanya
“Jimin-ah…
lepaskan, ini sakit,” kataku, tapi dia masih mencengkram tanganku kuat. Entah
dia sedang emosi karena apa, tapi yang jelas dia marah dan aku bisa melihatnya
jelas.
Dan sampailah kita
di ruang ganti olahraga namja ini lagi. Dia lalu menyudutkanku.
“Pabo!” teriaknya.
Aku yang terkejut hanya bisa diam. “Kenapa kau mengenakan rok sependek ini? Kau
pikir ini tidak akan membuat semua namja disini mengincarmu?” aku mengusap
tengkukku. Bersiap untuk jujur.
“Jimin-ah… aku
melakukan ini, karena kau,” dia terkejut. Aku melanjutkan kalimatku.
“Aku menyukaimu,
sudah dari lama, tapi kau hanya menganggapku chingu, ah bahkan kau menganggapku
seorang namja, ne? kau mengajariku apa itu nafsu, dan cara mengendalikannya,
tapi kau sendiri yang selalu membuat darahku ini berdesir hebat,” aku nyaris
menitikkan air mata.
“Dan bahkan kau
mengajakku berpetualang, memasukkanku ke dalam skenariomu untuk menjebak para
yeoja, padahal aku sendiri seorang yeoja dan kau selalu mengabaikannya, kau
tidak tahu betaemmppphh” kata-kataku terhenti, aku dibungkam oleh bibir namja
ini. Dia tiba-tiba saja sudah menempelkan bibir manisnya. Saat dia akan menelusupkan
lidahnya aku mendorongnya. Lalu menggeleng.
“Aku bahkan masih
17 tahun, tunggulah aku berusia 18,” kataku.
“Memang apa
bedanya?” katanya sambil berusaha menciumku lagi.
“Isss… jadi kau
tidak mau menunggu?” kataku sambil mendorongnya.
“Gurae, tapi berikan
1 kecupan lagi…” wajahnya memelas, lalu aku mengecupnya singkat.
Tapi dia terlalu
pintar, saat aku akan menarik ciuman itu dia mendorong tengkukku, sial. Batinku.
-(masukkan tanggal
ulang tahunmu)-
“Sengeil Chukka
Hamnida Sengeil Chukka Hamnida, Saranghaneun Minrin-ah, Sengeil Chukka Hamnida,
yeeee” teriak Jimin seorang diri.
Dia benar-benar
membuatku gila, senyumnya bisa melelehkanku seketika. Saat ini kami ada di
sebuah tempat makan yang sepi. Jadi Jimin dan aku leluasa untuk
berteriak-teriak.
“Yaa… kau hanya
membawa kue? Lalu mana sup rumput lautku, eoh?” kataku manja.
“Aigoo, tunggu
sebentar,” lalu dia berlari kebelakang seolah mengingat sesuatu. Ia lalu
kembali, tapi tanpa membawa apapun, dia hanya tersenyum. Tapi dia mendadak
memegang kedua pipiku, mengarahkanku untuk menatapnya. Lalu tiba-tiba dia
menciumku.
Aku tidak bisa
mengelak, kini usiaku genap 18 tahun, seperti yang kujanjikan pada Jimin, dia
bisa menciumku. Tapi aku merasakan hal yang aneh saat lidah Jimin mulai bermain
dengan lidahku. Apa begini rasa ciuman sesungguhnya? Rasa sup rumput laut? Ia
lalu melepaskan ciuman itu. Aku lalu menyadari apa yang dia lakukan.
“Yaa… Kau tadi
memasukkan sup rumput laut ke mulutmu ya? Lalu kau menciumku kan memasukkan itu
ke dalam mulutku, ne?” dia mengangguk polos. “issss… kau menjijikkan,” aku lalu
menjulurkan lidah.
“Tapi kau suka kan?” katanya sambil
memegang kedua pipiku, dan kembali melumat bibirku. Dasar tidak tahu malu.
Fin~
