12/05/2016

Love In School 2 (Jimin)



Love In School (Jimin)

Tittle : Love In School 2
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Aku (Reader)
-       Jimin
Support Cast : Member BTS
Author : Park Donghee

Lorong tempatku berjalan cukup gelap, itu karena memang sekarang bukan jamnya untuk berolah raga. Ya ini lorong ruang ganti, tapi milik namja, lalu kenapa aku ada di sini?
Itu karena aku akan mendatangi seorang namja yang sedang ada di sini. Bukan… dia bukan namjachinguku meski aku ingin menjadikannya begitu.
Aku mulai memasuki salah satu bilik yang lampunya menyala dengan tergesa.
“Aaaaaahhhhhh…!!!” teriakku nyaring, entah ini keberuntungan atau kesialan melihat namja ini hanya memakai selembar handuk. Yang jelas aku hanya bisa berteriak.
“Hei, hei, kau kenapa? Biasa sajalah…” kata namja itu sambil memalingkan wajahnya ke arahku.
Dengan tangan yang masih menutupi sebagian wajahku, aku memicingkan mata kearahnya, “Yaa… Jimin-ah, kau bilang biasa? Mungkin ini biasa bagimu, tapi tidak bagiku,” lalu dengan segera aku berbalik.
Tapi kemudian aku sedikit memberanikan diri untuk menoleh, aku hanya ingin memastikan dia sudah memakai bajunya atau belum. Tapi dia malah justru mendekat, aku kembali terkesiap. Berdoa semoga dia menjauh. Tapi aku mendadak membeku ketika tangan kekarnya kurasakan sudah mencengkram kedua lenganku. Aku menarik napas dalam, dan dia membalikkan tubuhku.
Dia mendekatkan wajahnya.
“Bukankah semua wanita suka melihat artis ber-abs seperti ini?” dia menepuk absnya, dan secara reflek mataku menuju kesana. Tapi setelah sadar aku membali menghadap matanya.
“Kau bukan artis pabo!” kataku di depan wajahnya lalu pergi. Meninggalkan dia dengan segala keterkejutannya. Aku berjalan cepat, melewati setiap jalan dengan lihai.
Jujur, aku memang suka melihatnya, aku bahkan ingin menyentuhnya, dan jika aku diijinkan aku akan memeluknya, dan… Assss… lamunan ini takkan berhenti.
Aku memang wanita tapi aku juga punya nafsu, apalagi berteman dengannya selama 1 tahun, membuatku tahu bagaimana nafsu itu.
Bukan… aku tidak melakukan hal-hal yang aneh dengannya, hanya saja dia itu namja yang yadong, dia selalu mengajakku ‘bertualang’ ya meskipun hanya wanita yang kita petualangi. Karena aku hanya ingin satu namja, yaitu dia bukan yang lain.
Kini aku sampai di lapangan basket, ahh aku sampai lupa pesanku. Harusnya tadi aku menyampaikan pesan untuknya, tapi dia justru membuat darahku berdesir. Aku takut lepas kendali.
Tapi dia datang. Jimin datang dengan berpakaian lengkap─tentu saja─membuatku masih mengingat pesan itu. Dia mendatangiku.
“Wae? Kau tidak mungkin datang ke ruang ganti hanya untuk itu kan?” aku mendengus sebal, mengingat kejadian tadi. Tapi kali ini aku menyerah dan aku hanya mengangguk.
“Pria itu, dia Namjoon, siswa baru yang berusaha merebut perhatian wanita-wanitamu. Tapi berbeda denganmu, dia mengandalkan keramahan dan senyumannya untuk memikat. Bukan bermodalkan sentuhan sepertimu,” aku tersenyum meremehkan.
Aku berharap kali ini kau mundur. Ujarku dalam hati. Menatapnya yang sedang berpikir.
“Apa kau punya ide? Aku harus cari cara untuk mengalahkannya,” aku mendengus, rupanya dia tidak mau menyerah.
“Andalkan Skinshipmu,” ucapku seadanya, karena dia bukan tipe penyuka romantis, baginya romantis itu hanya basa-basi, yang pasti ujung-ujungnya menuntut skinship. Jadi dia lebih suka To The Point.
“Lalu?” tanyanya, aku hanya menggeleng lalu pergi. Baru beberapa langkah, aku pergi meninggalkannya, tiba-tiba terdengar suara pengumuman.
“Pengumuman pengumuman, ditujukan pada seluruh pengurus OSIS dan ketua kelas 11 harap sekarang juga menuju ke ruang meeting, terimakasih,” dengan cepat aku menoleh, memberikan isyarat pada Jimin untuk ikut. Bagaimanapun dia adalah seorang ketua kelas, dan aku salah seorang pengurus OSIS. Walaupun aku tak tahu pasti kenapa Jimin bisa menjadi ketua kelas.
Kami sudah sampai di ruang meeting, dan kami memilih duduk dibelakang. Jimin masih diam, aku yakin dia sedang berpikir keras. Aku geli sendiri melihatnya sesekali memanyunkan bibirnya lucu dan menggeleng-geleng tidak jelas.
Lee songsaenim tiba, setelah berbasa-basi dengan kata-kata yang tak kupahami akhirnya beliau menerangkan apa tujuan kami dukumpulkan disini.
“Jadi anak-anak, tujuan kalian semua dikumpulkan disini adalah untuk membahas acara camping yang akan kita adakan minggu depan,” semua mengangguk kecuali Jimin.
“Naaahh… itu dia,” kata Jimin dengan keras dan bangkit dari kursinya. Aku memalingkan wajah sambil menarik-marik bajunya mengisyaratkan agar ia kembali duduk.
“Ada apa murid Park?” tanya Lee Songsaenim. Semua ikut menoleh, dan melihat wajah konyol Jimin. Aku semakin malu dibuatnya.
“Eeemmm… nahhh itu dia acara yang saya tunggu-tunggu, hehe” jawabnya konyol.
Aku menginjak kakinya pelan, mataku ku pelototkan seolah berkata Diamlah. Acara pembahasan dan seterusnya kini bisa berlangsung dengan tenang. Karena aku diminta secara pribadi oleh Lee Songsaenim untuk menjadi pawang Jimin.
Setelah keluar, Jimin menarik tanganku. “Yaa… Aku sudah dapat ide,” katanya senang. Dari wajahnya, ini menandakan bahwa dia akan mengajakku ‘berpetualang’ lagi.
“Sudah kuduga, mwo?” jawabku datar.
“Saat camping, aku akaaan….” dia memberi jeda yang cukup lama, tapi aku sudah mengerti. Dan aku tidak ingin mendengarnya lagi.
“Chakkaman, arraseo, aku sudah mengerti. Tidak perlu kau lanjutkan,” dia terbelalak.
“Jinjja? Heol, kau hebat, dan kau teman yang paling mengerti aku,” ucapnya manja.
“Ne, ne,” kataku sambil lalu.
Teman, dia kata? Cih. batinku sinis atas apa yang dia ucapkan.
-Di Rumah-
Aku dengan kelabakan membongkar isi lemariku, Aku lupa berkemas, dan besok aku harus berangkat camping. Ahhh… aku ini bodoh sekali. Batinku.
-Hari H Camping-
Cuaca terlihat cerah, membuatku cukup senang dengan acara camping ini, baru aku akan keluar dari bis mendadak tanganku diraih oleh seseorang.
“Annyeong~” sapa Jimin dengan gaya tololnya.
“Kau tadi ke mana saja? Aku sepertinya tidak melihatmu di bis,” ucapku sambil melanjutkan perjalanan.
“Mian, aku tadi sedang bersemedi, untuk menyusun rencana,” aku menggembungkan pipiku sebal.
Dia benar-benar tidak ingin menyerah.
“Kau ingin dengar bagaimana rencananya?” dia menawarkan dengan nada ceria.
“Aniyo,” jawabku tak peduli.
“Kau harus dengar, karena di rencana kali ini kau terlibat,” aku menghentikan langkahku. Dan dengan cepat menoleh kearahnya.
“MWO?! Andwae! Aku tidak mau terlibat dalam rencana bodohmu itu dan di cap siswi yadong di sekolah, ani, ani,” kataku sambil menggeleng dan mulai berjalan cepat. Dia mengejar langkahku. Lalu menggenggam tanganku. Dia membuatku menatap mata memelasnya. Tanganku masih di genggam, bahkan dia menciumi punggung tanganku lembut. Aku kesulitan menelan ludah, nafasku mulai memburu. Aiiisss kenapa aku selalu luluh dengan sikapnya ini?
“Gurae, gurae… jelaskan rencanamu,” dia tersenyum menang. Dan menceritakan rencana gilanya. Yang hanya bisa kutanggapi dengan anggukan.
-Jam Bebas di Tempat Camping-
“Siap?” tanyanya sambil berbisik.
“Ne,” aku mengangguk dan segera melakukan tos dengan Jimin. Aku berjalan dengan sedikit melompat-lompat unyu ke arah gerombolan teman-teman wanitaku (baca : mantan wanita-wanita Jimin)
“Yaa… kalian tahu, di dekat sini ada air terjun? Kudengar airnya sangat sejuk, Apa kalian mau mandi denganku di sana?” ujarku separuh berbisik dengan mereka.
Jeda yang mereka beri cukup panjang, membuatku menggigit bibir bawahku tegang.
“Boleh, kami bersiap dulu, ne” ucap salah satu yeoja berwajah imut. Dan yang lainpun hanya mengangguk.
Aktingku bagus juga. Batinku memuji diri sendiri. Aku lihat dari jauh Jimin mengacungkan dua ibu jarinya padaku, membuatku tersenyum dan semakin tinggi hati. Hahaha.
Mereka semua siap, dan aku juga. Lebih tepatnya aku siap untuk menjerumuskan mereka ke dalam jebakan Jimin. Tapi jebakan ini tidak ‘se-kejam’ yang kalian pikirkan, tenang. Jimin orang yang baik, meskipun yadong, dia tidak pernah mau menyakiti wanita.
Singkat cerita sampailah kita di air terjun. Tanpa pikir panjang mereka langsung membuka baju dan menyisakan mereka yang memakai tanktop dan celana pendek. Aku hanya membelalak keheranan. Tanpa perlu aku berakting untuk memancing, mereka sudah bersemangat rupanya. Aku segera membaur dengan semak. Mereka terlalu asik, bahkan tak menyadari aku sudah pergi.
Jimin siap di sebelahku dengan absnya yang menawan. Aku menggigit bibir bawahku saat tak sengaja melihatnya. Lalu ikut berjongkok di sampingnya. Dia menunggu waktu yang tepat, yaitu salah seorang dari mereka duduk dan ia bisa menyambanginya. Berpura-pura tidak sengaja bertemu dan memamerkan absnya, dan seterusnya, itulah rencana Jimin yang licik.
Wanita paling imut itu akhirnya duduk, aku menatapnya panik. Jimin mulai siap, tapi saat akan berdiri aku menahan kakinya─reflek. Membuat suara gesekan rumput yang lumayan keras
Suara itupun terdengar dan membuat para gadis ngibrit ketakutan. Baik, aku menyesal, rencana ini gagal karenaku. Tapi dia menepuk pundakku yang sudah menunduk lemas.
“Tenang saja, aktingmu tadi bagus, kita hanya kurang beruntung,” senyumnya benar-benar bisa menenangkanku, aku ikut tersenyum dan kembali ke tenda bersamanya.
-Di Sekolah-
Camping sudah berlalu, dan menyisakan Jimin yang menjadi seperti orang kurang kerjaan. Karena kehilangan wanita-wanita yang selalu menghampirinya saat jam istirahat tiba. Tapi aku bersyukur, akhirnya dia menyerah. Dan sebagai gantinya, aku yang biasanya langsung ke kantin bersama temanku begitu bel berbunyi. Kini selalu menemani kesuraman harinya.
Satu hari, begitu bel, dia menghilang. Walaupun kita satu kelas, tapi jarak bangku kita cukup jauh, membuatku kebingungan mencarinya.
Akhirnya aku memutuskan bertanya.
“Chogiyo Yoongi, apa kau melihat Jimin-ah?” tanyaku sambil menepuk pundak Yoongi ringan, takut mengganggunya yang sedang memesan makanan. Dia menoleh dan berpikir sejenak.
“Coba tanyakan pada yang lain,” jawabnya sambil menunjuk kearah Seokjin, Jungkook, Taehyung, Hoseok, dan Namjoon.
“Chogiyo, apa ada dari kalian yang melihat Jimin-ah?” tanyaku pada sekumpulan namja tampan itu. Taehyung berdiri dan merangkulku, aku menepisnya ringan, tapi dia kembali merangkulku.
“Kenapa kau mencarinya? Bukan aku saja?” namja aneh. Aku melepaskan rangkulannya lagi plus tatapan dingin yang membuatnya menyerah. Dan mereka tertawa.
“Noona, sepertinya aku melihatnya kearah ruang musik,” aku terkejut dipanggil noona oleh adik kelas tampan itu.
“Jinjja? Gomawo Jungkook-ah,” kataku sambil berusaha memamerkan deretan gigiku, lalu pergi. Tapi aku mendengarkan suara Uuuuhhh….~ mereka, entah apa yang mereka lakukan. Dasar namja tampan yang aneh.
Ya, informasi dari Jungkook tidak salah, sekarang aku melihatnya yang berdiri di depan ruang musik, atau mungkin lebih tepatnya mengintip ke dalam ruang musik.
Dia kenapa?
Aku ikut melongok ke dalam ruang yang luas itu, dan aku melihat seorang… Uh? Ballerina? Mengapa dia di ruang musik? Ah pasti karena ruang dance sedang di renovasi.
Aku mendekatkan bibirku di telinga Jimin. “Jimin-ahhh…” bisikku sangat pelan.
“Mwoya?” balasnya tidak kalah pelan, tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kenapa kau melihatnya?” dia terkekeh pelan.
“Kau lihat? Aku baru menyadarinya saat tidak sengaja lewat disini, ternyata ballerina itu sangat seksi, lihat lekuk tubuhnya sangat terlihat saat sedang menari,” katanya, membuatku memutar kedua bola mataku jengah.
Aku yang dari tadi berjinjit mulai lelah, ya aku memang berjinjit karena Jimin menghalangi pandanganku─karena dia tinggi─jadi aku mulai berdiri biasa. Tapi justru itu menimbulkan suara decitan yang menyentak ballerina itu. Aku berdiri dengan gaya bodoh menatap Jimin.
“Minrin-aaaah,” desisnya dengan sebal, tapi tiba-tiba aku terpikir ide gila.
“Ah, mianhae sunbaenim mengganggu latihanmu, hanya saja ini ada yang ingin berkenalan denganmu,” kataku sambil menyeret Jimin. Aku merasa Jimin tidak jelek, jadi seharusnya wanita ini tidak akan menolaknya mentah-mentah.
Jimin tersenyum penuh arti padaku. Dan aku hanya tersenyum konyol.
“Ah, ne…“ jawab yeoja super manis itu dengan lembut. Lalu sesi perkenalan itu di mulai, tapi sebelum aku sempat mendengar namanya aku pamit pergi, dan kembali ke kelas.
Jealous? Aku jelous? Sudah jelas bahwa jawabannya adalah ya. Aku muak melihat cara Jimin menatap wanita itu. Mungkin Jimin benar-benar menyukai wanita itu. Ah, aku merasakan dadaku mulai sesak. Tidak jangan menangis. Aku tidak mau terlihat lemah.
-Di Rumah-
Sudah dua hari sejak insiden-berkenalan-di-ruang-musik itu terjadi, dan Jimin terlihat menjadi dekat sekali dengan eonni itu. Aku menghela napas berat, hal ini membuatku tidak napsu makan. Tapi dengan wajah tegarnya eommaku memaksaku untuk memakan dari suapannya.
Aku keluar kamar dengan lemas, aku rasa eommaku sadar aku berubah, tapi dia tidak berani melewati batas garis privacyku. Tapi mendadak dongsaengku muncul.
“Noona, bisa berikan aku uang? Aku ingin sekali kimbab di depan,” ucap dongsaengku manja. Aku sedang malas, jadi aku hanya menatapnya datar.
“Waeyo? Kenapa wajahmu seperti itu? Jelek sekali noona,” ucapnya tanpa dosa. Tapi mendadak aku terpikir sesuatu. Bagaimanapun dia kan seorang namja. Aku lalu tersenyum licik.
“Kau ingin uang? Jawab dulu pertanyaanku,” dia tanpa pikir panjang langsung mengangguk. “Kau pernah menyukai yeoja?” tanyaku sambil berbisik, takut eommaku mendengar.
Dia mengangguk membuatku semakin semangat. “Dia tipe wanita seperti apa? Apa dia suka memakai rok pendek atau celana pendek yang menggoda?’ adikku mengernyit seperti mengatakan noona yakin bertanya hal seperti itu pada anak kecil? Tapi dia lalu menjawab demi imbalannya.
“Dia sangat manis, ya dia memang sering memakai rok pendek, dan itu membuatnya menawan,” cukup, aku merasa cukup. Sekarang aku mengerti, aku lalu mengeluarkan uang dan kuberikan pada adikku itu. Dia lalu menciumku dan pergi.
Aku terkekeh, karena memikirkan rencana ini.
-Di Sekolah-
Aku datang lebih awal, bukan apa-apa, hanya saja aku kurang percaya diri dengan penampilan baruku. Aku mengendap ke kelas dengan terus menarik-narik rokku yang aku yakin sudah cukup pendek itu.
Selama pelajaran semua baik, belum ada yang menyadari hal aneh pada diriku, sampai pada jam istirahat, aku beranjak dari kursi dan membuat semua namja yang melihatku ber-ohhhh panjang yang sangat mengganggu.
Tak apa, demi Jimin. Batinku.
Sampai di samping lapangan basket, aku melihat gerombolan Seokjin, aku menghampiri mereka. dan disana aku menyapa mereka manja.
“Annyeong~” sambil melambaikan tanganku. Mereka terlihat keheranan dan saling menatap, lalu Jungkook menanyaiku.
“Kau kenapa noona?” dia berkata sambil menyipitkan matanya. Kembali menatapku dari atas kebawah dan kembali ke mataku.
“Apa kau tau ini sekolah? Minrin-ah” kata Seokjin sedikit ketus. Tidak seperti biasanya.
“Arrayo, wae?” tanyaku sambil memainkan jariku gugup. Aku sudah tau kesalahanku tapi aku tetap berusaha bertahan demi Jimin.
“Yaa… apa kau kemarin bertambah tinggi dengan cepat?” kata Hoseok sambil menghampiriku, “Tapi aku tetap masih lebih tinggi darimu,” serunya sambil membandingkan tinggi kami.
Mendadak aku merasakan tangan kekar itu menarikku dan menggandengku untuk menjauh dari lapangan basket. Membuat semua namja tampan tadi melihatku sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya
“Jimin-ah… lepaskan, ini sakit,” kataku, tapi dia masih mencengkram tanganku kuat. Entah dia sedang emosi karena apa, tapi yang jelas dia marah dan aku bisa melihatnya jelas.
Dan sampailah kita di ruang ganti olahraga namja ini lagi. Dia lalu menyudutkanku.
“Pabo!” teriaknya. Aku yang terkejut hanya bisa diam. “Kenapa kau mengenakan rok sependek ini? Kau pikir ini tidak akan membuat semua namja disini mengincarmu?” aku mengusap tengkukku. Bersiap untuk jujur.
“Jimin-ah… aku melakukan ini, karena kau,” dia terkejut. Aku melanjutkan kalimatku.
“Aku menyukaimu, sudah dari lama, tapi kau hanya menganggapku chingu, ah bahkan kau menganggapku seorang namja, ne? kau mengajariku apa itu nafsu, dan cara mengendalikannya, tapi kau sendiri yang selalu membuat darahku ini berdesir hebat,” aku nyaris menitikkan air mata.
“Dan bahkan kau mengajakku berpetualang, memasukkanku ke dalam skenariomu untuk menjebak para yeoja, padahal aku sendiri seorang yeoja dan kau selalu mengabaikannya, kau tidak tahu betaemmppphh” kata-kataku terhenti, aku dibungkam oleh bibir namja ini. Dia tiba-tiba saja sudah menempelkan bibir manisnya. Saat dia akan menelusupkan lidahnya aku mendorongnya. Lalu menggeleng.
“Aku bahkan masih 17 tahun, tunggulah aku berusia 18,” kataku.
“Memang apa bedanya?” katanya sambil berusaha menciumku lagi.
“Isss… jadi kau tidak mau menunggu?” kataku sambil mendorongnya.
“Gurae, tapi berikan 1 kecupan lagi…” wajahnya memelas, lalu aku mengecupnya singkat.
Tapi dia terlalu pintar, saat aku akan menarik ciuman itu dia mendorong tengkukku, sial. Batinku.
-(masukkan tanggal ulang tahunmu)-
“Sengeil Chukka Hamnida Sengeil Chukka Hamnida, Saranghaneun Minrin-ah, Sengeil Chukka Hamnida, yeeee” teriak Jimin seorang diri.
Dia benar-benar membuatku gila, senyumnya bisa melelehkanku seketika. Saat ini kami ada di sebuah tempat makan yang sepi. Jadi Jimin dan aku leluasa untuk berteriak-teriak.
“Yaa… kau hanya membawa kue? Lalu mana sup rumput lautku, eoh?” kataku manja.
“Aigoo, tunggu sebentar,” lalu dia berlari kebelakang seolah mengingat sesuatu. Ia lalu kembali, tapi tanpa membawa apapun, dia hanya tersenyum. Tapi dia mendadak memegang kedua pipiku, mengarahkanku untuk menatapnya. Lalu tiba-tiba dia menciumku.
Aku tidak bisa mengelak, kini usiaku genap 18 tahun, seperti yang kujanjikan pada Jimin, dia bisa menciumku. Tapi aku merasakan hal yang aneh saat lidah Jimin mulai bermain dengan lidahku. Apa begini rasa ciuman sesungguhnya? Rasa sup rumput laut? Ia lalu melepaskan ciuman itu. Aku lalu menyadari apa yang dia lakukan.
“Yaa… Kau tadi memasukkan sup rumput laut ke mulutmu ya? Lalu kau menciumku kan memasukkan itu ke dalam mulutku, ne?” dia mengangguk polos. “issss… kau menjijikkan,” aku lalu menjulurkan lidah.
“Tapi kau suka kan?” katanya sambil memegang kedua pipiku, dan kembali melumat bibirku. Dasar tidak tahu malu.


Fin~

11/14/2016

Love In School 1 (Jungkook)




Tittle : Love In School 1
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Aku (Reader)
-       Jungkook
Support Cast : Member BTS
Author : Park Donghee

~
Ck, bersama namja sombong itu lagi? Aku tahu dia tampan, pintar, kaya, dan punya segalanya. Tapi dia begitu bersikap menyebalkan di hadapanku. Apalagi sejak aku dengan bodohnya menyodorkan surat cinta padanya 3 minggu lalu. Dan sialnya, aku selalu mendapat jatah kelompok yang selalu ada dia di dalamnya.

“Yaa, kau jangan lupa membawa lilin dan korek, dirumahku tidak ada,” ucap namja bernama Jungkook itu, tiba-tiba.

“Bukankah mudah bagimu jika hanya membeli lilin dan korek?” tanyaku menatap malas padanya.

“Aku melakukan ini agar kau terlihat bekerja di kelompok,”

Dia lalu meninggalkan mejaku tanpa dosa. Aiiisss dia membuatku kehilangan moodku. Aku lalu menjinjing tasku keluar kelas, pulang dan segera menghilang dari hadapannya.

-Dikamarku-

Setidaknya berbaring sebentar untuk meredakan kepalaku yang berdenyut, sebelum kembali emosiku membuncah karenanya. Ya, namja bernama Jungkook itu, memang aku menyukainya. Tapi lama-lama rasa suka ini bisa terdesak dengan kebencian. Setiap kerja kelompok pasti aku diharuskan kerumahnya, dan dia selalu bertindak semaunya. Aku melihat kearah laptopku sebentar, dan melihat wajah tampannya yang menjadi wallpaperku.

“Yaa… kau tau? Dulu saat aku dekat denganmu aku rasa jantung ini rasanya ingin meledak karena berdebar terlalu kencang. Tapi sekarang kepala ini yang rasanya ingin pecah, karena ulah menyebalkanmu, cih,” kataku pada namja yang hanya diam menatapku sambil tersenyum.

Aku menengok jam. Mendesah perlahan, dan mulai bangkit dari tempat tidurku. Aku harus bergegas berangkat sekarang atau aku akan terlambat dan menerima amukan Jungkook.

-Di rumah Jungkook-

Aku menekan bel di depan gerbang yang luar biasa tinggi itu, tapi aku sudah tidak takjub lagi, karena belakangan ini aku sudah terlalu sering melihatnya.

“Ah, nona silahkan masuk, Tuan Jungkook sudah menunggu,”

“Ne,” kataku pada salah satu pembantu Jungkook yang sudah sering melihatku.

Aku berjalan sambil memperhatikan apakah lilin yang kubawa patah atau tidak, tapi mendadak langkahku terhenti saat pandanganku kembali terfokus lagi ke depan.

“Seokjin-ah?” sapaku sambil tersenyum, orang yang merasa kupanggil itupun menoleh sambil ikut tersenyum. Lalu kembali menatap Video Gamenya, Aku meneruskan langkahku mendekati Jungkook.

“Yaa… ini lilin dan koreknya, ayo kita cepat kerjakan, aku ingin cepat pulang,” kataku malas, aku tidak ingin ada masalah lagi seperti kerja kelompok yang sudah-sudah.

“Kau saja dulu, aku sudah membuat invisible inknya, sudah kucoba dikertas tinggal kau panaskan,” Jungkook berkata dengan menggerak-gerakkan kepalanya, karena kini tangannya sedang asik memainkan joystick.

Aku menurut saja, daripada dia mengacaukan tugas kita. Aku berjalan kearah meja. Kulihat kertas yang dimaksud Jungkook. Lalu aku menyalakan lilin dan korek yang aku bawa, mencoba memanaskan kertas itu, tapi mendadak perhatianku teralihkan. Aku kembali melihat Jungkook yang sedang asik bermain Video Game.

“Cih, apa maksudmu tadi mengatakan agar aku terlihat bekerja? Lihat? Sekarang siapa yang tidak bekerja… dasar, Pabo!” gerutuku, tiba-tiba aku mencium bau sesuatu. Bau hangus? Aigo tunggu.

“Aaaahhh…” jeritku, kertas yang kupanaskan terbakar. Jungkook dan Jin dengan cepat menoleh kearahku, melihatku yang bertingkah bodoh hanya karena secarik kertas. Jungkook mendekat.

“Yaa… kenapa justru kau bakar? Aku bilang, panaskan. Pabo!”

“Yaa… salah siapa kau tidak membantu? Kau malah asik sendiri, huh? Aaaiiis molla,” dengan cepat aku menyambar tasku dan pergi, jangan menangis Donghee, jangan.

-Di Sekolah-

Saatnya mengumpulkan invisible ink dari masing-masing kelompok. Untung kelompokku masih selamat karena kemarin Jungkook membuat yang baru dan memanaskannya sendiri. Berterimakasih? Untuk apa? Dia yang menyebabkan kekacauan jadi memang harus dia yang membereskan.

Saat diperiksa oleh Park songsaenim, kelompokku dipuji karena memanaskan dengan cara yang sempurna, semua rata. Dan kelompok Jimin terkena semprotan amukan dari beliau. Karena tulisan yang mereka tulis itu aneh, ditengah kertas tertulis besar “Saranghaeyo hakyung-ah” dan di pojok kanan kertas terdapat tulisan “Nado”

Semua tertawa, tapi Jimin dan Hakyung hanya tersenyum-senyum, aku menggeleng, tapi Jungkook yang duduk di depanku terlihat murung waeyo? Apa dia menyukai Hakyung? Aiiss molla.

Selanjutnya pelajaran sejarah. Semua terlihat baik, sampai pembagian kelompok untuk tugas presentasi. Perasaanku mulai tidak enak. Apa aku akan bersamanya lagi?

Lee Songsaenim menyebut kelompok satu-satu, dan satu kelompok terdiri dari 8 orang. Perasaanku makin gusar, 8? Itu pas sekali dengan geng milik Jungkook. Ditambah aku. Tapi itu tidak mungkin, bagaimana bisa ada 7 namja dalam 1 kelompok sekaligus?

“Kelompok 3, Jungkook, Jimin, Seokjin, Namjoon, Yoongi, Hoseok, Taehyung, daan.. Donghee” aku terbelalak, sedangkan Jungkook dan teman-temannya justru asik ber-high5. Mwo? Ige mwoya? Bagaimana bisa?

“Songsaenim,” dengan cepat aku mengacungkan tangan. Tapi juga dengan cepat ditepis olehnya.

“Kelompok saya buat beranggotakan banyak karena waktu presentasi minimal 15 menit plus sesi pertanyaan 5 menit, dan agar bisa selesai dalam satu kali pertemuan, jadi tidak ada protes mengenai anggota. Arraseo? Bubar” aku menarik napas napas dalam. Dan dengan segera mengutuk diriku sendiri. Ini pasti akan sangat buruk.

Saat aku baru akan beranjak dari kursi, Hoseok menahanku, dan mendudukkanku kembali. Aku berdecak sebal.

“Presentasi kita tidak boleh terkesan biasa-biasa saja, jadi aku akan membawa kalian ke museum tertua di Seoul, tapi, untuk kesana kita harus menginap di resortnya” ucap Jungkook memulai rapat─tidak penting─ini.

“uuuuuhhh~” ucap mereka kompak sambil menatapku. Aku tau ini akal-akalan si namja gila untuk menjebakku dan mengerjaiku.

“Kita ke museum dekat sini saja, kenapa harus jauh-jauh, eoh?” kataku memprotes Jungkook.

“Nona, apa kau tidak mendengar bahwa Jungkook tidak ingin presentasi kita terkesan biasa-biasa saja?” kata Namjoon

“Lagipula ini bisa jadi ajang liburan untuk kita,” timpal Yoongi.

Semua bertepuktangan ria, kecuali aku. Aku merasa disisihkan. Aku satu-satunya yeoja disini harusnya aku diperlakukan khusus, isss mereka semua namja tak berperasaan.

“Kita berangkat jum’at, jadi kita bisa menginap sabtu dan beristirahat sekaligus menghapal materi di hari minggu, setuju?”

“SETUJUUU!!!” teriak semuanya semangat.

-Di Rumahku-

“Eomma, semua celana jeans panjang dan sweaterku kemana?” kataku memelas. Eomma yang sedang menyiapkan makan malampun menoleh.

“Bukankah kau bilang kau sekarang sudah dewasa? Dan tidak mau mengenakan pakaian itu lagi? Jadi Eomma letakkan di gudang,” aiiissh benar, aku pernah berkata seperti itu pada eomma, jika tau begini aku tidak akan pernah memenuhi lemariku dengan rok-rok diatas lutut itu.

Aku memandang lemariku jengah. Hanya ada rok, ya aku memang berniat feminim ketika masuk ke SMA, tapi apa tidak berlebihan jika tidak ada celana lain selain piyama? Ahhh… aku mengacak-acak rambutku. Aku tidak ingin terlihat terlalu terbuka saat menginap, terlebih semua teman menginapku adalah namja. Aku mencoba mejejerkan semua baju yang kupunya, akhirnya aku menemukan satu yang tidak terlalu mencolok.

Berikutnya aku memilih rok selutut warna pink dan baju kuning yang terang untuk ku pakai saat berangkat, aku rasa ini cukup bagus.

Selesai berkemas aku membuka laptopku. Dan kembali melihat namja yang tak kunjung bergerak itu masih tersenyum padaku.

“Yaa… kau tidak mau bertanya kenapa aka mendadak seperti ini? Itu karena aku ingin tampil cantik didepanmu, walaupun aku membencimu. Tapi entah kenapa debaran ini masih ada. Arra?” aku mencibir kearahnya lalu menutup laptopku kesal.

“Cepat tidur, kau bilang kau mau bangun pagi,” eommaku berteriak mengingatkan.

Aku menyembulkan kepalaku di depan pintu.

“Ne, eomma… Jaljjayo,” ucapku manja. Dan bergegas menyampirkan selimut ke tubuhku.

~

“Kriiiing kriiing noona bangun, kriiiing kriiiiing…” suara itu mengganggu tidurku, aku melihatnya, bukan alarm. Tapi dongsaengku, aigooo batinku.

“Yaaa yaaaak... hentikan, aku bisa gila karenamu,” ucapku mencoba menutup mulutnya.

“Aniyo, eomma menyuruhku untuk membangunkanmu sampai benar-benar bangun jadi, Krrrriiiiingg krriiiiiing noonaaa bangun kriiiiiing”

“Yaaa yaaak… hentikan, aku akan bangun sebentar lagi, kau keluar dulu,” ujarku sambil menutup telinga dengan bantal.

“Andwae, kau harus bangun sekarang! KRIIIIIINGGG… KRRRIIIIINGG… eemmmhhh” akhirnya aku berhasil membekap mulutnya.

“Ne, ne, kau berhasil, noona sudah bangun,” ucapku sambil berdiri. Dan si kecilpun akhirnya ngibrit keluar. Aku frustasi, tidak semangat, aku keluar dengan malas.

“Eomma, kenapa harus menyuruhnya yang membangunkan?” tunjukku pada dongsaengku yang tengah menjulurkan lidahnya untukku itu.

“Karena dia alarm terbaik untuk membangunkanmu, entah bagaimana caranya dia selalu berhasil membangunkanmu dengan cepat,” eomma terkekeh sambil memeluk namja kecil yang ingin sekali ku tekik kalo dia bukan adikku.

“Ne, araseo,” jawabku mengejek dongsaengku itu.

Aku bergegas mandi, mengganti bajuku, berulang kali mengecek penampilanku di cermin, aku takut jika mereka mengejek penampilanku ini. Setelah aku merasa yakin aku segera mengambil tas bawaanku dan meluncur ke tempat pertemuan.

Tempat pertemuan, tidak lain adalah rumah Jungkook, aku bosan melihat rumah itu, gerbang itu, halaman itu, interior itu. Huuuh, membosankan.

Saat sampai, aku heran, semua pria itu sudah sampai? Dan mereka semua menunggu di luar gerbang. Ada apa dengan mereka?

Aku keluar dari taksi dan berdiri heran kearah mereka yang seperti mendengarkan sesuatu yang dikatakan Jungkook. Lebih tepatnya mereka berbisik. Baik sepertinya aku akan menerima musibah sebentar lagi.

Aku mendekat, dan mereka sepertinya bisa mendeteksi kedatanganku, jadi mereka dengan cepat kembali menegakkan tubuhnya seolah, tadi aku tidak melihat apa yang mereka lakukan.

Tapi Jimin mendadak melihatku sambil menganga lebar. Aku hanya mengerjap heran, dan semua namja itu segera menengok kearahku dan ikut menganga walau tidak selebar Jimin.

Kecuali Jungkook, tapi justru reaksinya yang membuatku paling takut, dia menggigit bibir bawahnya. Aku membulatkan mataku, seolah tau apa yang mereka pikirkan mengenai aku. Aku mengangkat tas yang kubawa menutupi sebagian pahaku yang ter-ekspose.

“Yaa… jaga pikiran kalian, eoh!” sentakku mengagetkan semua namja mesum itu.

“Bu… bu… bukan begitu, kita kaget karena kau berpenampilan berbeda,” kata Yoongi.

“I… iya benar, di sekolah kau selalu tampak seperti gelandangan, jauh berbeda dengan… ini…” ucap Namjoon menegaskan.

Tapi aku tidak yakin Jungkook berpikiran sama dengan rekannya. Dia masih sibuk menggigit bibir bawahnya. Tapi saat dia melihatku menatapnya sinis, dia mengalihkan pandangan ketempat lain.

Ya aku akui, penampilanku ini memang cukup mengejutkan bagi mereka. Aku biasanya di sekolah memakai rok yang bahkan menutupi lulutku, rambutpun hanya kukucir kuda dengan asal, dan dilengkapi dengan wajah yang selalu lusuh.

Tapi hari ini, aku memakai rok yang cukup tinggi, baju tanpa lengan, flatshoes yang senada dengan bajuku, rambut panjang terurai dengan aksen pita yang bertengger di samping kepalaku. Pantas mereka semua terkejut. Aku menyunggingkan senyum bangga.

“Kajja kita masuk,” ajakku, meloloskan lamunan mereka semua.

Di dalam travel tempat duduk berpasangan, demi menghindari kesialan, kalau aku akan duduk dengan Jungkook, jadi aku segera mencari partner.

“Hoseok-ah, kajja duduk bersamaku,” dia terdiam, melihatku dari atas ke bawah, lalu kembali ke mataku lagi.

“Okay,” jawabnya singkat. Aku mengangguk, walau tatapannya seperti itu, aku yakin dia anak baik.

Aku memilih duduk di dekat jalan, agar mudah jika aku ingin pergi dan mengambil barang. Aku lihat diatasku juga ada tempat menaruh tas, milik siapa ini? Batinku ingin tahu, setelah kucari-cari identitas koper itu, aku menemukan ada gantungan kunci Jungkook disana. Aiiiissshhh…. Miliknya. Aku langsung kembali duduk. Si namjapun datang dan tiba-tiba berteriak ke arahku.

“Yaa… ini kursiku,” bentaknya, sudah kuduga, aku akan duduk dengannya. Hoseok yang melihatnya langsung berniat pergi. Tapi aku menahannya.

“Tidakkah kau lihat? Disana masih ada bangku kosong?” ucapku melirik bangku yang kumaksud.

“Kau tidak lihat? Disini koperku, minggir,”

“Dan tidakkah kau tau? Koperku ada disana?” Kataku sambil menunjuk atas kepala Seokjin.
Akirnya dia menyerah, dan pergi kebelakang. Aku menyerukan kemenangan di dalam hatiku. Saat perjalanan, aku asik mengajak ngobrol Hoseok, Namjoon, dan Jimin yang ada di depanku. Mereka menyenangkan. Dan sesekali para anggota kelompok yang lain menimpali dan membuatku tertawa. Kecuali Jungkook, aku tak mendengar dia masih hidup atau tidak di belakang sana. EH? Siapa peduli dengannya. Cih.

Tapi tak lama, diapun berjalan mendekatiku, ah tepatnya mendekati kopernya. Dia tampak kesulitan, tapi kami semua asik tertawa dan mengacuhkannya. Hahaha kali ini aku yang menang Jungkook-ah.

Tapi saat aku tengah tertawa,

BRRRUUKK…

Sebuah benda menghantam keras kepalaku, aku berkunang-kunang, tapi masih sadar. Aku melihat semua berputar dan mereka mulai panik meneriakiku. Dan lama-lama suara itu terdengar jelas, dan mereka sudah tidak berbayang-bayang lagi.

Tersangka Jungkook hanya menunduk saat kutatapi ganas. Baru kali ini dia takluk di hadapanku.

“Mianhae…” ujarnya lirih, meminta pengampunanku.

“Ani!” seruku sambil melipat kedua tanganku ke depan dada.

Kami terus berdebat seperti itu di tengah travel, dalam posisi berdiri berhadap-hadapan.

“Mianhae…” katanya untuk ke sekian kalinya.

“ANIYO!” kataku lebih menekankannya.

“Araseo, terserah kau saja,” katanya yang akhirnya menyerah.

“MWO?!” ucapku tak percaya sambil membelalakkan kedua mataku. Mendadak travel di rem karena sudah sampai. Membuatku nyaris terhuyung dan jatuh kedepan jika tidak Jungkook topang dengan tangannya.

Jantungku berdetak kencang, aku tidak berani menatap matanya, takut jantungku akan meledak disini.

Aku melepaskan diri dari genggamannya. Masih dengan ekspresi sebal karena dia dengan mudahnya menyerah untuk meminta maaf padaku. Aku berjalan menuju tas, dan menyambarnya agar bisa keluar dari sini segera. Semua masih membeku, entah kenapa, tapi aku bergegas keluar.

Di luar travel ternyata sudah ada red carpet yang menyambut, dan balon berbentuk hati yang terangkat keudara di sepanjang jalan. Tapi aku tak sempat mengaguminya, aku terlalu kesal untuk itu. Dengan segera aku melangklah sebal dan masuk ke lobby. Duduk di sofa, dan menunggu sang pemesan kamar datang.

Setelah aku mendapatkan kamarku─yang tentu saja isinya hanya aku─aku bergegas menuju kamar. Dengan sedikit sebal membanting pintu kamar, aku mengacak-acak rambutku frustasi, tapi hal itu terhenti saat sampai di tempat yang benjol karena tas si pabo Jungkook. Sudahlah, pikirku, dan seseorang mengetuk pintuku.

“Ah, Taehyung-ah, waeyo?”

“Makan malam sudah menunggu, kajja,” aku mengangguk dan meminta waktu untuk berganti pakaian dulu. Sekarang aku keluar dengan kaos abu abu selutut, dan hotpants. Dengan rambut yang masih berantakan aku mengikuti Taehyung. Dijalan aku menyisir rambutku dengan jari, dan, akhirnya rapi.

Taehyung mengarahkanku ke kursi pojok, aku hanya tersenyum dan berterimakasih. Aku lihat semuanya sudah datang, kecuali Jungkook, aih, sepertinya…

“Mian,” benar, dia duduk disini.

“Mengapa kau duduk disini?” tanyaku pelan.

“Apa kau melihat ada bangku lain?” aku menyandarkan diri di kursi, dan untungnya makanan datang dengan cepat.

“Donghee-ya” panggilnya.

“Mwo?” jawabku ketus.

“Ah, ani, ani” jawabnya. Cih menyebalkan.

“Donghee-ya” panggilnya lagi.

“Wae?” kali ini jawabku lebih lembut.

Dia terkekeh bodoh. “Ah… gwaenchana” aku mendecak kesal. Dia mau mempermainkanku, eoh?

“Donghee-ya…” kini lebih lirih.

“Waeyooo?” jawabku sebal.

“Mian, Gwaenchanayo,” jawabnya lalu tersenyum polos. Aku mulai jengah, jadi aku tinggalkan dia, makan malamku dan semua yang ada disana untuk kembali ke kamar.

Besoknya, aku keluar dengan dress merahku yang memiliki motif bunga di bagian roknya, dan rambutku aku kepang ke samping, layaknya princess elsa di frosen(kkkk~).

Aku kali ini ingin fokus, aku akan melupakan permusuhanku dengan Jungkook sementara, demi nilai sejarah yang memuaskan. Jungkook juga sepertinya cukup profesional, kami berdua bekerja seperti tiada masalah, sampai semua bahan terkumpul.

-Di Depan Museum-

“Donghee-ya, lihat ada pemusik. Ini berikan pada mereka,” Jungkook menyodorkan sekeping recehan padaku, Cih dia sok akrab, aku bersikap acuh kembali padanya, dia yang heran hanya melengkungkan kembali bibirnya, kecewa.

“Ini Donghee-ya, coba kau berikan, aku penasaran mereka akan memainkan lagu apa,” Seokjin kini yang berganti menyodorkanku uang, kali ini aku tersenyum, sebenarnya aku juga penasaran. Tapi aku tak mau menerima uang Jungkook.

Aku maju dan menaruh uang itu di kotak, dan mereka kemudian memainkan lagu. Aku tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya, tapi lagu ini sangat bagus.

Aku mencintaimu

Bahkan terlalu mencintaimu

Apa aku terlihat bodoh? Atau memang aku sudah gila?

Kau yang membuatku gila

Pertanggung jawabkanlah

Dan jadilah engkau kekasihkuuuu~

Aku terdiam, tunggu, apa… jangan-jangan Seokjin sekarang tengah…

-Di Sekolah-

Tinggal presentasi kelompokku yang belum ditampilkan, aku cukup berdebar. Tapi betapa senangnya aku saat namja itu menggenggam tanganku untuk menenangkan sedikit kekhawatiranku.

Saat maju, aku cukup lancar dalam menyampaikan. Membuatku lega dan tinggal menunggu sesi tanya jawab.

Sesi tanya jawab juga berlangsung dengan baik, Tapi yang mendominasi jawaban adalah Oppaku, tentu saja. Kami akhirnya menutup presentasi dan Oppa menekan tombol untuk menampilkan Slide bertuliskan Thank You sembari mengakhiri presentasi.

Akan tetapi mendadak kelas riuh, aku menghadap ke layar. Ada fotoku dan Oppa sedang berciuman. Aiiisss matilah aku.

“Oppaaaa….” Dan dia hanya mengedikkan bahu.

-Flashback-

Disana berdiri seorang namja yang wajahnya ditutupi sebuket bunga mawar, dan dia lalu menurunkan bunga itu.

“Jungkook?” aku memanyunkan bibirku.

“Ne, Donghee, maukah kau menjadi kekasihku?” dia menyodorkan mawar, dan band di belakangku kembali berbunyi dengan alunan yang romantis.

“Kau pikir aku akan tertipu? Ani, aku tidak mau jadi bahan guyonan kalian,” jawabku ketus.

“Donghee-ya, ini serius, aku benar-benar menyukaimu, ani, aku mencintaimu,”

“Makan saja cintamu, aku takkan percaya,” aku berbalik dan ingin pergi. Mendadak dia menarikku, lalu membuat bibirku tertabrak oleh bibirnya, sakit memang. Tapi dia tetap menempelkannya, aku lihat, dia memejamkan matanya. Aku mengambil mawarnya perlahan dan dia mulai berusaha melumat bibirku. Aiiiisss namja ini.

Dengan satu gerakan aku pukul kepalanya. Dia melepaskan ciuman itu, sambil mengelus kepalanya.

“Apa ini saja cukup?” aku melambaikan mawarnya diudara dan dia baru menyadari mawar itu hilang dari genggamannya. Lalu aku tersenyum kecil dan dia juga

-Flashback end-

Lee Songsaenim benar-benar marah karena sembarangan menaruh foto itu di slide untuk pelajaran, alhasil kami dihukum.

“Kalian dihukum, setelah pelajaran saya, jalan jongkok bolak-balik di depan kelas, mengerti,”

“Ne,” jawab kami semua serempak.

“Eh, tapi ngomong-ngomong, selamat ya atas hubungan kalian,” Lee Songsaenim mendadak menjabat tanganku dan Jungkook.

Dan kami semua terkekeh

Saat jalan jongkok, kami hiasi sambil bercanda dan mengobrol agar tidak lelah. Dan tiba-tiba sebuah pernyataan mengejutkanku, Jungkook oppa mengatakan bahwa, sebenarnya setiap kerja kelompok ia selalu sengaja menyuruh guru untuk membuatnya selalu bersamaku.

Dan di setiap kerja kelompok, sebenarnya ia ingin menyatakan cinta padaku, contohnya saat invisible ink itu, dia sebenarnya menuliskan “Maukah kau menjadi kekasihku?” tapi karena tidak sengaja kubakar jadi gagal, lalu saat di red carpet resort, sebenarnya balon hati yang kulihat itu memiliki tulisan yang sama seperti invisible ink, dan saat makan malam, sebenarnya Oppa ingin menyatakan perasaannya tapi dia gugup. Jadi justru terlihat seperti mengerjaiku.
Aku malu menyadari kebodohanku, tapi toh itu semua berujung bahagia kan?

Fin~