Tittle : Love In School 6
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Reader as me
- Taehyung a.k.a V
Support Cast : Member BTS dll
Author : Park Donghee
Pagi
ini adalah pagi terberat untuk hidupku. Namjachinguku kini sudah memutuskan
hubungan kami. Dia berkata dia sudah tidak memiliki perasaan lagi padaku.
Semalaman penuh kugunakan hanya untuk menangis, entah bagaimana airmata ini
bisa mengalir, aku hanya memaksakannya karena kesedihan setelah putus cinta
tidak akan lengkap jika tidak menangis. -_-
Aku
berjalan menuju kelas yang diikuti tatapan aneh dari orang-orang. Ya aku tau
aku gila karena nekat berangkat ke sekolah dengan mata panda super tebal ini.
Tapi bagaimana lagi saat aku merajuk pada eomma untuk tidak sekolah, aku justru
diguyur dan dimandikan eomma dengan air yang super dingin. Alhasil jadilah aku
yang tengah berjalan dan terlihat seperti penampakan di sekolah. Apalagi rambut
lurus panjangku kugerai untuk menghalangi wajah menyeramkanku.
Saat
akan sampai ke kelas aku melihat mantan namjachinguku. Yoongi. Saat ini tanpa
merasa malu sedikitpun dia mengumbar kemesraannya bersama seorang yeoja.
Apa dia yeojachingu baru Yoongi oppa?
Jadi dia memutuskanku untuk yeoja itu? Aku
mendengus sebal dan siap menghampiri mereka yang sedang asik bergurau sambil
saling merangkul itu. Tapi langkahku terhenti ketika seorang namja kini dengan
langkah menggebu sedang menghampiri mereka.
Namja
itu langsung menarik yeoja yang dia panggil bernama Jung Soo Ri itu. Pertengkaran
sengit terjadi. Sang namja yang setahuku bernama Taehyung itu tengah berusaha
meminta penjelasan dan mencengkram tangan Soori kuat. Tapi Yoongi ikut menarik Soori dan justru membentak Taehyung.
Astaga. Batinku, tapi aku dengan bodohnya hanya berdiri dan
memandangi pertengkaran itu. Namun, berangsur aku mulai sadar dan aku berlari
kearah mereka. Aku mencoba melerai mereka terutama Taehyung dan Yoongi.
“Hentikan…
Yaa kajima!” aku berusaha memperlebar jarak diantara mereka agar mereka tidak
berkelahi. Tapi aku tidak mau menyentuh tangan Yoongi, aku takut kesedihanku
terngiang lagi. Jadi aku menarik tangan Taehyung dan menariknya pergi. Taehyung
terus memberontak dan mengancam Yoongi.
“Yaa…
lepaskan aku, Hei Yoongi, tunggu aku akan memberikan pelajaran padamu, TUNGGU
SAJAAA!!”
Sekarang
aku dan Taehyung duduk termenung di bangku kantin.
“Yaa…
kenapa tadi kau menarikku? Lihat kan? Aku jadi kehilangannya, lagipula kau ini
siapa?” aku menunduk sambil menggembungkan pipiku. Aku baru ingat, kami ini
tidak saling kenal sebelumnya, aku hanya mengetahui namanya. Itu saja.
“Mianhae,
Aku… juga sebenarnya ingin menghajar si Yoongi sialan itu,” ucapanku menggebu
sambil menonjokkan tanganku keudara. “Tapi…”
“Tapi
apa?” sahut Taehyung malas, sambil meneguk minumannya.
“Aku
tidak mau menyentuhnya,” mendadak dia menyemburkan minumannya keudara. Membuatku terkejut. Apa ada yang salah
dengan kata-kataku. Aku mengerjap heran.
“Yaa…
Alasan macam apa itu? Apa dia manusia sampah berjalan yang bahkan membuatmu tak
sudi memegangnya?” Taehyung memicing tak puas dengan jawabanku. Aku memainkan
sedotan yang ada di gelas minumanku.
“Aku
hanya tidak ingin kesedihanku muncul kembali jika aku menyentuhnya lagi,”
jawabku begitu polosnya. Dia memandangku.
“Kau
mantan yeojachingu Yoongi?” dia bertanya sambil mencoba menatap manik mataku.
Aku menangguk. Dia tertawa kecil.
“Ahhh…
ternyata pasangan itu memang pasangan biadab,”
“Jadi
kau mantan namjachingu Jieun?” tanyaku seolah mengerti yang dia maksud.
“Bukankah
itu hebat? Mantan namjachingumu dan mantan yeojachinguku kini bersama,” dia
menyandarkan diri di kursi. Aku mengikuti gerakannya dan menghela napas.
Tapi
mendadak ada ide terlintas di benakku. “Taehyung-ah,” aku melepaskan sandaranku
dan mencondongkan tubuhku ke depan.
“Siapa
yang mengijinkanmu memanggilku seperti itu?” kata Taehyung tak bergerak dari
posisi awalnya.
“Mi…mian
Taehyung-ssi” ucapku tergagap.
“Sudahlah
panggil aku dengan santai,” katanya lalu ikut mencondongkan tubuhnya.
Aku
berdecak sebal. Tapi kemudian kembali memasang wajah bersemangat. “Kita harus
bersatu dan membuat gerakan untuk move-on,” ujarku sambil menaik-naikkan alis.
Dan mengepalkan tanganku di hadapannya.
“Bagaimana
caranya?”
“Bagaimanapun,
kita harus bisa melakukannya dan juga membuat mereka menyesal sudah meninggalkan
kita,” nada bicaraku seolah sedang berpidato. Namun tetap ditanggapi oleh
Taehyung si alien aneh.
“Benar,
kita harus bisa melupakan mereka dan membuat mereka menyesal pernah melepaskan
kita dalam hidup mereka.” Dia ikut mengepalkan tangannya. Aku semakin
mendekatkan wajahku.
“Keputusan
yang bijak. Mulai sekarang tidak ada kesedihan,”
“Tidak
ada penyesalan, karena…”
“Kita
akan…”
“MOVE
ON!!” ujarku dan Taehyung bersamaan sambil mengaitkan lengan kita bersama
seperti akan adu panco. Semua yang melihat kami mungkin akan mengira kami gila,
bodoh, dan idiot. Ya benar, karena aku juga berpikir kami memang seperti itu.
“Wuah,
wah… kudengar Yoongi dan Soori sekarang berpacaran, apa kedua mantannya ini
juga sebentar lagi akan menyusul mereka?” aku menoleh sebal kearah dua namja
yang kini sudah ada di samping bangku kami. Aku melepaskan kaitan lenganku.
“Jadi
kau tau bahwa Yoongi oppa menghianatiku Jin?” yang disebut hanya berdecak.
“Oppa?
Dia sudah bukan oppamu, sadarlah…” aku menggembungkan pipi sebal mendengar
sahutan Hoseok. Aiisshh dua orang ini
benar-benar! Aku hanya berani mengumpat dalam hati. Mereka berdua adalah
teman segerombolan Yoongi.
“Kalau
begitu lanjutkan saja pendekatan kalian ini, mian tadi kami mengganggu,” ujar
Jin sambil berlalu dengan gaya angkuhnya.
Aku
memandang Taehyung, dan mendadak Taehyung menggebrak meja. Membuatku
terperanjat. “Aaaiiissh… tak bisakah kau memberikan aba-aba dulu sebelum
menggebrak meja, eoh aku sangat terkejut,”
“Mi…
mian, kalau begitu akan ku ulang,” katanya sambil bersiap duduk lagi. Saat dia
baru akan menghitung. Aku menyumpal mulutnya.
“Aniyo,
jangan lakukan. Kau terlihat bodoh, lanjutkan, jadi ada apa?”
“Aku
ada ide,”
“Mwo?”
aku sedikit merekahkan senyumanku.
“Ayo
kita berpacaran seperti kata mereka,” Taehyung menaik-naikkan alisnya sambil
menatapku. Aku berpikir, cukup lama untuk mencerna kalimatnya.
“Ah…
kajja, kita berpura-pura pacaran dan membuat mereka seolah melihat bahwa kita
ini sudah move on!” kataku sambil kembali mengepalkan tanganku. Aku menatap
Taehyung yang terpaku sambil menatapku melas.
“Bukan
berpura-pura,” aku mengerjap.
“Mwo?”
“Kita
berpacaran sungguhan,”
Deg
Mendadak
aku merasakan mataku melebar begitu saja. Membuat dadaku bergemuruh tak karuan.
Kenapa dia ini? Aku merasa sedikit
gemetar, tidak tau apa yang salah dengan diriku sendiri.
“A…ap,
apa maksudmu eoh?” kataku sedikit membentak.
Dia
menghela napas dan siap menjelaskan. Seolah dia tau, situasi ini pasti terjadi.
“Sebenarnya…”
dia menelan ludah. “Aku sudah menyetting semua ini,” mataku semakin melebar
seolah meminta keluar dari tempat sempit ini. Tenggorokanku terasa tercekat,
sulit rasanya bernapas.
“Mwo?”
Dia
menggigit bibir bawahnya, membuatku jadi terfokus pada bibir merah itu. Tapi
dia berucap.
“Soori itu
sebenarnya sepupuku,” aku sontak menatapnya. Diapun menunduk. “Dan Yoongi
adalah teman dekat masa SMPku,”
Aku
memejamkan mata, mencoba mengatur napasku yang terasa sangat berat. Lalu apa maksudnya ini? Aku memasang
tatapan menyalahkannya.
“Aku
sudah menyusun skenario ini lama, aku sudah sangat menyukaimu sejak lama, dan
aku ingin kau menjadi milikku, tapi aku tak tau cara mendekatimu,” lanjutnya
polos. “Dan aku pikir dengan begini kau bisa bersamaku,” tubuhku makin lemas.
Dia bodoh, sangat bodoh.
“Pabo!
PABO!! Kau alien terbodoh yang pernah ada,” aku nyaris terisak kalo aku tidak
ingat ini kantin. Tapi reaksinya semakin membuat hatiku tersayat-sayat. Dia
menatapku tidak mengerti, kenapa aku mengatainya seperti itu.
“PABO!
Kau tidak seharusnya seperti ini dan membuatku malah merasakan sakit ini
sendirian,”
Dia
terkejut mengerti. Lalu dia bingung, menatap kesegala arah, merasa bersalah.
Aku pergi beranjak sebelum dia sempat berkata apapun.
Bahkan dia tidak berusaha mengejar dan
meminta maaf padaku. Aku mempercepat langkahku dengan
perasaan yang makin tak karuan. Kenapa kali ini rasanya sakit sekali? Bahkan
aku nyaris tak bisa membendung airmataku.
Tapi
langkahku sudah memasuki kawasan kelas. Akan terlihat mengenaskan jika aku
menangis, dan karena aku baru saja putus dari Yoongi. Mereka bisa salah paham.
Aku
semakin tak tahan duduk berdiam di sini sementara semua orang memandangi dan
menghujatku diam-diam. Tapi ini terpaksa, dan untunglah aku tidak sekelas
dengan si pabo Taehyung.
-Di
Rumah-
Tangisanku
makin pecah, bahkan lebih parah dari malam kemarin, eommaku yang mendengar
langsung bergegas ke asal suara. Kamarku.
“WAAAEEE?!”
suara eomma terdengar melengking tajam, bahkan terdengar lebih mengerikan dari
tangisanku. Aku terhenti, dan menatap eommaku dengan wajah penuh air mata.
“Haruskah kau melakukan ini setiap hari?” suara eomma merendah, namun tetap
terdengar nyaring. Dan setelah itu bla bla bla bla. Eommaku mengoceh tiada
hentinya. Aku yang merasa jengah mendengar nasihat itu memulai siasat
penghentian omelan.
Aku
kembali terisak, dengan awal yang pelan, namun bahuku kuguncang sewajarnya. Ini
siasat.
“W…w,
wae? Apa yang salah denganmu?” eomma mulai tergagap. Dalam hati aku tersenyum
kecil. Kukencangkan volume isakanku perlahan sampai ke titik yang paling keras.
Membuat eommaku sedikit terperanjat dan mengerjap.
“A…a… araseo, eomma pergi,” wanita itu melangkah mundur
sambil memegang kenop pintu yang kemudian perlahan dia tutup. “Tapi, jangan
terlalu gaduh ne,” ujar eommaku sebelum akhirnya menutup pintu kamarku rapat.
Aku
menghela napas lega. Tapi kenapa? Kenapa namja itu yang mengacaukan pikiranku
saat ini? Aku melangkah gontai menuju pintu. Mungkin udara luar bisa
menyegarkanku.
Baru
saja beberapa langkah aku keluar dari kamar. “Eonni, aku sudah lama menunggumu
keluar,” kata yeoja mungil di hadapanku yang sedang memeluk buku dan membawa
pulpen kemana-mana.
“Wae?
Kau berbicara seolah eonnimu ini sudah mengurung diri bertahun-tahun di kamar,”
“Memang
kau terlihat seperti itu,” aku terkejut mendengar kejujuran dongsaengku ini.
“Ah…
nde, waeyo?” aku lalu beranjak ke sofa di dekatku.
“Aku
ada PR eonni, tapi ini PR Bimbingan Konseling, tentang masa pubertas dan jatuh
cinta,” kenapa pas sekali aigooo…. Aku mendesah pelan.
“Nae, lanjutkan,”
jawabku singkat, mendengar kata cinta membuatku kembali teringat Yoongi, Soori,
dan Taehyung. Aiiisshh…
“Jadi…”
dia membuka beberapa lembar bukunya dan mulai menyiapkan pulpennya. “Eonni,
bagaimana rasanya jatuh cinta itu?” dia memandangku. Aku berpikir keras sambil
memandang langit langit rumahku yang sebenarnya tidak ada apa-apa.
“Molla…”
jawabku datar. Adikku yang sudah menunggu penuh harap kesal dan menutup bukunya
kasar.
“Eonni…
kau bahkan sudah pernah berpacaran, tapi belum tau rasanya jatuh cinta? Lalu
kenapa kau berpacaran dengan Yoongi oppa?” adikku berdecak kesal sambil membuka
kembali bukunya. Aku mencerna kalimatnya.
Benar juga, lalu kenapa aku menerima
Yoongi sebagai namjachinguku? Apa aku pernah mencintainya? Atau justru karena aku
tidak tau rasanya jatuh cinta jadi aku asal menerimanya? Aaiisshh molla… gerutuku pada diriku sendiri.
“Kau
benar-benar tidak tahu?” adikku memastikan dengan nada yang dibuatnya sesantai
mungkin. Aku menggeleng apa adanya. Dia lalu menghela napas.
“Setahuku
eonni, jatuh cinta itu, ketika kau merasakan semuanya secara berlebihan.
Misalnya kau hanya sekedar tidak sengaja beradu pandang dengannya, maka
jantungmu serasa akan melompat dan bahkan kau akan merasa kegirangan. Lalu saat
kau sedih kau benar-benar akan merasa terpuruk dan sangat rapuh, dan
sebagainya,” aku melongo mendengar penjelasan dongsaengku. Lalu mengangguk
seadanya.
“Berarti…
kau pernah merasakannya yaa??” tanyaku lalu mencolek dagunya. Dia lalu
memandangku jijik dan beralih pada bukunya.
“Baik,
pertanyaan kedua, kuharap kau bisa menjawabnya, sia-sia jika kau tidak bisa…”
“Araseo,
araseo, katakan saja pertanyaannya tidak perlu mengancamku seperti itu,” aku
melipat tanganku di depan dada sebal.
Dia
mengangguk. “Bagaimana mengontrol diri saat
jatuh cinta pada masa pubertas?” aku kembali memandang langit langit
diikuti tatapan jengah dari adikku.
“Kau…”
aku mendadak berucap sambil masih menatap langit-langit yang sekali lagi
sebenarnya tidak ada apa-apanya itu. Dongsaengku terkejut dan terfokus padaku.
“Harus
memiliki orang-orang di sekitarmu, yang siap mendukungmu, jadi saat kau senang,
rasa yang terlalu berlebih itu bisa kau bagi dan membuatmu menjadi lebih
tenang. Dan saat kau sedih ada orang yang akan menghiburmu, memberikanmu
semangat dan mencurahkan kasih sayang yang lebih untukmu, jadi kau tidak akan
merasa depresi dan hancur,” aku memandang dongsaengku yang sedang melongo
menatapku. “Apa itu cukup?” aku menatapnya kalem, membuatnya semakin
kebingungan dan mengangguk sambil terus mempertahankan ekspresinya.
Dia
berbalik dan menuju depan televisi dengan muka bodoh yang membuatku tertawa
kecil. Mendadak memori beberapa saat yang lalu kembali bergulir di ingatanku.
Aku menyandarkan tubuhku, kembali menatap langit-langit yang saat ini tak lagi
tidak ada apa-apa. Melainkan ada gambaran beberapa saat yang lalu di kelas. Aku
menatapnya miris. Dan kembali merenungi ucapanku sendiri.
-Flashback-
Aku
melamun dikelas dan sulit diajak mengobrol. Membuat beberapa teman yang biasa
berbicara denganku sempat khawatir. Dan saat mereka saling bertanya satu sama
lain tak ada yang tahu aku kenapa. Tentu saja, karena mungkin hanya aku,
Taehyung dan Tuhan yang mengerti mengapa sikapku begini.
Namun
mendadak kelasku cukup riuh, bukan karena teriakan atau semacam itu, tapi riuh
dengan suara berbisik yang sangat mengganggu. Posisiku saat ini sedang
membenamkan wajahku dibalik tanganku yang ada di meja. Sehingga aku tak bisa
melihat apapun.
Saat
aku mendongak karena penasaran. Aku mendapati seseorang sedang berdiri di hadapanku,
aku perlahan mendongak sambil mengamati tubuh yang sepertinya milik seorang
namja itu.
“Taehyung-ah?”
ucapku setelah mataku menangkap wajahnya yang─baru kusadari─sangat tampan itu.
Dia
meraih tanganku. Menggenggamnya dan mencoba menarikku tanpa sepatah katapun.
“Sirheo!!”
bentakku sambil menepis tangannya kuat. Dia menatapku melas, namun tanpa sadar
aku memicing kearahnya. “Neo micheoso! Aku, tak ingin melihatmu lagi! Aku tak
ingin kau ada di sekitarku lagi! Aku ingin kau pergi, selamanya kau pergi!
PERGI DARI HADAPANKU!!!” bentakku yang membuat semua murid kelas menghentikan
kebisingan mereka masing-masing. Sekarang suasana hening mencekam. Aku terengah
dan Taehyung sedikit membuka bibirnya dan membelalak lebar. Matanya terfokus
pada lantai sambil─sepertinya─mencoba mengontrol nafasnya yang tengah tercekat.
Aku sudah membuatnya terkejut.
Dengan
tatapan kosong dia pergi keluar dari kelasku dan membuat semua orang menatapku
aneh. Aku tak peduli dan hanya kembali membenamkan wajahku.
-Flashback
end-
Aku
sedikit tertawa kecil, menertawai sikapku yang terlalu berlebihan padanya.
Padahal aku baru menyadari aku tak pernah mencintai Yoongi. Seperti kata
adikku, aku hanya menerimanya karena aku tidak tau cinta.
Namun
tawaku terhenti mengingat kata-kataku sendiri. Dan saat kau sedih ada orang yang akan menghiburmu, memberikanmu
semangat dan mencurahkan kasih sayang yang lebih untukmu, jadi kau tidak akan
merasa depresi dan hancur.
Depresi dan hancur…
Depresi…
Dan hancur…
Aku
tersentak, dan menegakkan tubuhku. Otakku terus memikirkan hal yang tidak baik.
Walaupun
tidak secara langsung, tapi perkataannya di kantin seolah menggambarkan bahwa
Taehyung sedang menyatakan perasaannya padaku.
Apa itu berarti dia mencintaiku? Dan
bukankah saat ini dia sedang bersedih? Aku
membelalak dan dengan segera bermaraton ke rumah Taehyung. Tunggu, rumah
Taehyung? Apa aku tau rumah Taehyung.
Aku
memandang ke sekeliling mencari ide, dan seketika aku berputar arah. Berpikir
untuk datang ke rumah Yoongi, karena Taehyung bilang bahwa Yoongi adalah teman
SMPnya, jadi dia pasti tau rumah Taehyung.
Tanpa
pikir panjang aku segera mempercepat langkahku.
Nafasku
terengah, walaupun begitu rasa panik dan takut tetap menekan semua itu. Membuat
tanganku dengan cepat mengetuk pintu dan memanggil nama Yoongi lantang.
Pintu
terbuka, dan reaksi namja itu cukup mengejutkan, dia mundur dengan sedikit
melompat. Lalu memandang aneh diriku.
“W,
wae?” dia tergagap, tapi aku tak sempat tertawa dan menanggapi sikapnya.
“Beritahu
aku rumah Taehyung,” dia menggaruk kepalanya.
“Bukan
aku tidak mau memberi tahumu, tapi…” aku terkejut mendengar pernyataan Yoongi.
Apa dia benar-benar akan…? Dengan cepat aku menggeleng, menepis semua pikiran itu.
“Lagipula
kurasa dia tidak di rumah,” kata Yoongi cepat. Menghentikan kekhawatiranku. Aku
lalu mengangguk, berterimakasih dan kembali berlari tanpa tujuan.
Dia tidak di rumah? Lalu dia kemana? Langkahku terhenti, otakku mengajak untuk mengistirahatkan
tubuhku sejenak dan berpikir. Mempekerjakan otakku dengan keras, lalu mendadak
sekolah muncul di benakku.
Tak ada
salahnya mencoba, jadi dengan persediaan napas yang menipis aku tetap berusaha
berlari sekencangnya.
Sampai
di depan gedung sekolah. Aku segera melihat ke atap. Siapa tau dia mau terjun
dari sana.
Ah, aniyo… dia tidak akan memiliki
keberanian untuk melakukan itu.
Aku
kembali menggeleng, menghilangkan prasangka burukku. Aku mencoba masuk ke dalam
gedung yang saat ini sudah sangat gelap itu. Menyeramkan dan membuat bulu
kudukku benar benar meremang.
Tapi
aku dengan bermodalkan nekat tetap menerobos masuk. Upaya bermain
kucing-kucingan dengan penjaga sekolahpun dengan sukses kulakukan. Entah
mendapatkan bakat darimana, aku dengan lihainya mampu mengelabuhi penjaga
sekolah dan mencoba masuk ke dalam kelas.
Cklek
Suara
kenop pintu yang terdengar sangat keras. Tidak seperti saat pagi hari, bahkan
suara pintu di gedorpun tak ada apa-apanya. Aku mulai melangkah masuk dan
melihat sekitar kelas, mencoba mencari sosok…
“Taehyung-ah!!”
seruku saat melihat sosoknya terduduk di mejaku. Tunggu, ini kelasku? Aku masuk
ke kelasku? Lalu dengan cepat aku sedikit menyembulkan kepalaku keluar dan
memeriksa identitas kelas, dan benar ini kelasku.
Bukankah tadi aku berniat ke kelas
Taehyung, tapi kenapa aku malah masuk ke sini? Apa ini semacam radar? Pikiranku mulai meracau, tak jelas. Jadi aku memutuskan
untuk kembali terfokus pada Taehyung yang…
“Aigoo…
apa yang akan kau lakukan?” aku menutup mulutku dan menunjuk-nunjuk pisau di
genggamannya. Dia yang tadinya terdiam menjadi memandangku dan pisau itu secara
bergantian.
“Ah…
aniyo, aniyo, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” dia melangkah mendekatiku
namun dia tidak melepaskan pisau itu.
“T… Ta,
Taehyung-ah, jangan gila, jangan macam-macam, kau… kau tau? Semua hantu yang
melakukannya akan terus bergentayangan dan tidak bisa tenang di surga,” ujarku
ngawur. Membuatnya menjadi terlihat semakin bingung.
“Apa
maksudmu? Apa aku salah melakukan ini?” tanyanya sambil mendekat, tapi dia
masih terus menenteng pisau itu. Aku tidak tenang.
Jika aku mencegahnya maka bisa saja aku
yang dibunuhnya. Tapi jika tidak nanti dia bisa mati karenaku. Aku menarik napas mencoba membendung kepanikanku.
“HYAAAA”
dengan sisa tenaga aku berlari menghampiri Taehyung yang hanya diam mematung
dengan mata yang membulat.
BRUUKK
Aku
menubruk tubuh Taehyung dan menahan tangannya agar tidak bergerak. Membuatnya
yang tidak siap itu terhuyung dan kami nyaris terjatuh jika tidak tertahan oleh
mejaku.
Taehyung
mengerang, tapi aku melihat kearah pisau di tangannya. Masih ada dan tidak ada
bekas darah. Aman. Batinku. Lalu
kembali menatapnya yang masih kuhimpit dengan tubuhku agar tidak mencoba
meloloskan diri.
“Wae?
Kenapa kau melakukan hal bodoh ini?” tanyaku mencoba menohoknya.
Tapi
yang ditanya malah mengernyit tak mengerti. Aku lalu menghembuskan napasku
kasar yang membuat surai rambutnya ikut tertiup. “Kau tidak mengerti?” aku
bertanya untuk mengejeknya, namun dia malah justru menggeleng dengan wajah
polosnya.
Aku
menertawakan diriku sendiri, dia, dan keadaan kami saat ini. Aku menatap sinis
padanya. Lalu mengangkat tangan kananku yang menggenggam tangannya.
“Lalu
apa ini?”
Taehyung
menatap pisau itu, dia lalu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah mencoba
menyingkronkan pikirannya dengan pikiranku. Lalu tertawa kecil. Aku menatapnya
sebal, dia tertawa?
“Kau
salah paham…” ujarnya lembut, bahkan suaranya seolah membelai wajahku yang
masih sangat dekat dengan wajahnya. Dia tersenyum tipis, lalu melirik ke
sebelah kanan tubuhnya, tepatnya ke arah mejaku yang sedang kami tindihi.
“Eoh?”
aku terkejut, mendapati mejaku yang sudah penuh dengan goresan-goresan dan
menjadi tak mulus lagi. Tapi goresan itu membentuk sesuatu.
Mianhae
Saranghae
Itulah
yang terbaca di sana. “Ukiran di mejaku itu…”
Aku
menatap kearah pisau yang Taehyung pegang. Lalu aku menatap matanya yang
menyorotkan kehangatan.
Deg Deg
Deg
Tidak… jangan sekarang, aku melihat posisi kami yang membuatku lama-lama merasa
tidak nyaman itu. Aku mencoba mundur namun Taehyung menahanku. DENGAN TANGAN
KIRINYA(tangan yang memegang pisau)
Aku
tertahan, aku takut dia sedang mengacungkan pisaunya di balik punggungku. Dan
jika aku mundur, maka habislah nyawaku.
“Kau…
apa yang kau lakukan eoh?” bentakku. Tapi dia makin mendorong tubuhku dan
membuat wajah kami hanya tinggal beberapa senti. Aku menelan ludahku dengan
susah payah. Dan aku yakin saat ini dia bisa mendengar detak jantungku yang tak
karuan ini.
Pipiku
bersemu merah, aku malu dia mendengar jantung bodoh itu berdetak dengan terlalu
cepat.
“Wae?”
dia berkata dengan sangat halus sambil menatap tepat di mataku dan menyertakan
senyum terindahnya yang pernah kulihat. Aku terpana, hanya terdiam sambil ikut
menatap mata indahnya.
“Kenapa
kau mencariku, bahkan kau melakukan hal bodoh seperti ini, hal yang membuat
darahku berdesir dan sulit mencerna kalimatmu dengan cepat?”
Aku
hanya bisa diam. Benar. Posisi ini membuat darahku ikut berdesir bahkan aku
juga tidak bisa mencerna kalimatnya dengan cepat.
Waktu
benar-benar terasa begitu lambat, tapi yang bisa kulakukan hanya diam, dan
terus menatapnya.
“Apa
kau juga menyukaiku?”
Taehyung
menyeringai, tapi aku tetap diam. Wajahku memanas, mungkin aku terlihat memerah
seperti nyaris terbakar. Tapi sekali lagi aku hanya bisa diam.
“Jawab
aku”
Masih
hening.
“Baiklah
kalau kau memaksa,”
Tiba-tiba
terdengar suara sesuatu yang jatuh. Lalu Taehyung mendorong tengkukku dengan
tangannya, membuat jarak kita semakin dekat bahkan pada akhirnya bibir manis
Taehyung yang sejak tadi pagi kuamati diam-diam menempel dengan bibirku. Dia
memejamkan matanya. Aku yang terkejut hanya diam tanpa reaksi. Bingung, dan
semuanya bercampur aduk. Tapi saat Taehyung mencoba melumat bibir bawahku aku
memegang lengannya dan meremasnya seolah menahan hal itu. Tapi dia tetap
melakukannya. Dia tanpa bisa dihentikan terus menyambar bibirku.
Aku
kembali meremas lengannya sambil memejamkan mataku paksa. Tapi dia hanya
sedikit terkejut dan kemudian kembali melakukannya. Aku tidak tau cara
menghentikannya. Aku mencoba berpikir dalam keadaan sulit itu. Dan akhirnya ide
itu muncul.
“Bwnwae”
Dia
melepaskan bibirnya, lalu memandangku.
“Mwo?”
dia bertanya tanpa merubah posisi itu.
“Nae,
bukankah kau sudah merasakannya dari tadi?”
Dia
mengernyit. Aaiisshh jinjja batinku
“Jantung
bodoh ini? Kau tidak mungkin tidak merasakan perubahan debaran ini kan?” ucapku
jujur. Tapi aku yakin ini membuat wajahku lebih bersemu lagi. Dia tersenyum
licik, matanya menyiratkan hal yang aku tak tahu apa. Lalu dia mendorong
tengkukku lagi.
Tapi
kali ini dengan cepat aku menutup mulutku dengan tangan kedua tanganku. Jadi
dia hanya mencium tanganku. Aku terkekeh pelan.
“Ayolah…
untuk merayakan hari jadian kita,”
Aku
mendorong tubuhnya dan bangkit. “Yaa! Kau mesum eoh,” aku menyilangkan tanganku
di depan dada.
Tapi
kemudian aku mengerjap heran.
“Memang…
sejak kapan kita jadian?”
Fin~