Tittle : Love In School 1
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Aku (Reader)
- Jungkook
Support Cast : Member BTS
Author : Park Donghee
~
Ck, bersama namja
sombong itu lagi? Aku tahu dia tampan, pintar, kaya, dan punya segalanya. Tapi
dia begitu bersikap menyebalkan di hadapanku. Apalagi sejak aku dengan bodohnya
menyodorkan surat cinta padanya 3 minggu lalu. Dan sialnya, aku selalu mendapat
jatah kelompok yang selalu ada dia di dalamnya.
“Yaa, kau jangan
lupa membawa lilin dan korek, dirumahku tidak ada,” ucap namja bernama Jungkook
itu, tiba-tiba.
“Bukankah mudah
bagimu jika hanya membeli lilin dan korek?” tanyaku menatap malas padanya.
“Aku melakukan ini
agar kau terlihat bekerja di kelompok,”
Dia lalu meninggalkan
mejaku tanpa dosa. Aiiisss dia membuatku kehilangan moodku. Aku lalu menjinjing
tasku keluar kelas, pulang dan segera menghilang dari hadapannya.
-Dikamarku-
Setidaknya
berbaring sebentar untuk meredakan kepalaku yang berdenyut, sebelum kembali
emosiku membuncah karenanya. Ya, namja bernama Jungkook itu, memang aku
menyukainya. Tapi lama-lama rasa suka ini bisa terdesak dengan kebencian.
Setiap kerja kelompok pasti aku diharuskan kerumahnya, dan dia selalu bertindak
semaunya. Aku melihat kearah laptopku sebentar, dan melihat wajah tampannya
yang menjadi wallpaperku.
“Yaa… kau tau? Dulu
saat aku dekat denganmu aku rasa jantung ini rasanya ingin meledak karena
berdebar terlalu kencang. Tapi sekarang kepala ini yang rasanya ingin pecah,
karena ulah menyebalkanmu, cih,” kataku pada namja yang hanya diam menatapku
sambil tersenyum.
Aku menengok jam.
Mendesah perlahan, dan mulai bangkit dari tempat tidurku. Aku harus bergegas
berangkat sekarang atau aku akan terlambat dan menerima amukan Jungkook.
-Di rumah Jungkook-
Aku menekan bel di
depan gerbang yang luar biasa tinggi itu, tapi aku sudah tidak takjub lagi,
karena belakangan ini aku sudah terlalu sering melihatnya.
“Ah, nona silahkan
masuk, Tuan Jungkook sudah menunggu,”
“Ne,” kataku pada
salah satu pembantu Jungkook yang sudah sering melihatku.
Aku berjalan sambil
memperhatikan apakah lilin yang kubawa patah atau tidak, tapi mendadak
langkahku terhenti saat pandanganku kembali terfokus lagi ke depan.
“Seokjin-ah?”
sapaku sambil tersenyum, orang yang merasa kupanggil itupun menoleh sambil ikut
tersenyum. Lalu kembali menatap Video Gamenya, Aku meneruskan langkahku
mendekati Jungkook.
“Yaa… ini lilin dan
koreknya, ayo kita cepat kerjakan, aku ingin cepat pulang,” kataku malas, aku
tidak ingin ada masalah lagi seperti kerja kelompok yang sudah-sudah.
“Kau saja dulu, aku
sudah membuat invisible inknya, sudah kucoba dikertas tinggal kau panaskan,”
Jungkook berkata dengan menggerak-gerakkan kepalanya, karena kini tangannya
sedang asik memainkan joystick.
Aku menurut saja,
daripada dia mengacaukan tugas kita. Aku berjalan kearah meja. Kulihat kertas
yang dimaksud Jungkook. Lalu aku menyalakan lilin dan korek yang aku bawa, mencoba memanaskan kertas itu, tapi mendadak perhatianku teralihkan. Aku
kembali melihat Jungkook yang sedang asik bermain Video Game.
“Cih, apa maksudmu
tadi mengatakan agar aku terlihat bekerja? Lihat? Sekarang siapa yang tidak
bekerja… dasar, Pabo!” gerutuku, tiba-tiba aku mencium bau sesuatu. Bau hangus? Aigo tunggu.
“Aaaahhh…” jeritku,
kertas yang kupanaskan terbakar. Jungkook dan Jin dengan cepat menoleh
kearahku, melihatku yang bertingkah bodoh hanya karena secarik kertas. Jungkook
mendekat.
“Yaa… kenapa justru
kau bakar? Aku bilang, panaskan. Pabo!”
“Yaa… salah siapa
kau tidak membantu? Kau malah asik sendiri, huh? Aaaiiis molla,” dengan cepat
aku menyambar tasku dan pergi, jangan
menangis Donghee, jangan.
-Di Sekolah-
Saatnya
mengumpulkan invisible ink dari masing-masing kelompok. Untung kelompokku masih
selamat karena kemarin Jungkook membuat yang baru dan memanaskannya sendiri.
Berterimakasih? Untuk apa? Dia yang menyebabkan kekacauan jadi memang harus dia
yang membereskan.
Saat diperiksa oleh
Park songsaenim, kelompokku dipuji karena memanaskan dengan cara yang sempurna,
semua rata. Dan kelompok Jimin terkena semprotan amukan dari beliau. Karena
tulisan yang mereka tulis itu aneh, ditengah kertas tertulis besar “Saranghaeyo
hakyung-ah” dan di pojok kanan kertas terdapat tulisan “Nado”
Semua tertawa, tapi
Jimin dan Hakyung hanya tersenyum-senyum, aku menggeleng, tapi Jungkook yang
duduk di depanku terlihat murung waeyo?
Apa dia menyukai Hakyung? Aiiss molla.
Selanjutnya
pelajaran sejarah. Semua terlihat baik, sampai pembagian kelompok untuk tugas
presentasi. Perasaanku mulai tidak enak. Apa aku akan bersamanya lagi?
Lee Songsaenim
menyebut kelompok satu-satu, dan satu kelompok terdiri dari 8 orang. Perasaanku
makin gusar, 8? Itu pas sekali dengan geng milik Jungkook. Ditambah aku. Tapi
itu tidak mungkin, bagaimana bisa ada 7 namja dalam 1 kelompok sekaligus?
“Kelompok 3,
Jungkook, Jimin, Seokjin, Namjoon, Yoongi, Hoseok, Taehyung, daan.. Donghee”
aku terbelalak, sedangkan Jungkook dan teman-temannya justru asik ber-high5. Mwo? Ige mwoya? Bagaimana bisa?
“Songsaenim,”
dengan cepat aku mengacungkan tangan. Tapi juga dengan cepat ditepis olehnya.
“Kelompok saya buat
beranggotakan banyak karena waktu presentasi minimal 15 menit plus sesi
pertanyaan 5 menit, dan agar bisa selesai dalam satu kali pertemuan, jadi tidak
ada protes mengenai anggota. Arraseo? Bubar” aku menarik napas napas dalam. Dan
dengan segera mengutuk diriku sendiri. Ini pasti akan sangat buruk.
Saat aku baru akan
beranjak dari kursi, Hoseok menahanku, dan mendudukkanku kembali. Aku berdecak
sebal.
“Presentasi kita
tidak boleh terkesan biasa-biasa saja, jadi aku akan membawa kalian ke museum
tertua di Seoul, tapi, untuk kesana kita harus menginap di resortnya” ucap
Jungkook memulai rapat─tidak penting─ini.
“uuuuuhhh~” ucap
mereka kompak sambil menatapku. Aku tau ini akal-akalan si namja gila untuk
menjebakku dan mengerjaiku.
“Kita ke museum
dekat sini saja, kenapa harus jauh-jauh, eoh?” kataku memprotes Jungkook.
“Nona, apa kau
tidak mendengar bahwa Jungkook tidak ingin presentasi kita terkesan biasa-biasa
saja?” kata Namjoon
“Lagipula ini bisa
jadi ajang liburan untuk kita,” timpal Yoongi.
Semua
bertepuktangan ria, kecuali aku. Aku merasa disisihkan. Aku satu-satunya yeoja
disini harusnya aku diperlakukan khusus, isss mereka semua namja tak
berperasaan.
“Kita berangkat
jum’at, jadi kita bisa menginap sabtu dan beristirahat sekaligus menghapal
materi di hari minggu, setuju?”
“SETUJUUU!!!”
teriak semuanya semangat.
-Di Rumahku-
“Eomma, semua
celana jeans panjang dan sweaterku kemana?” kataku memelas. Eomma yang sedang
menyiapkan makan malampun menoleh.
“Bukankah kau
bilang kau sekarang sudah dewasa? Dan tidak mau mengenakan pakaian itu lagi?
Jadi Eomma letakkan di gudang,” aiiissh benar, aku pernah berkata seperti itu
pada eomma, jika tau begini aku tidak akan pernah memenuhi lemariku dengan
rok-rok diatas lutut itu.
Aku memandang
lemariku jengah. Hanya ada rok, ya aku memang berniat feminim ketika masuk ke
SMA, tapi apa tidak berlebihan jika tidak ada celana lain selain piyama? Ahhh…
aku mengacak-acak rambutku. Aku tidak ingin terlihat terlalu terbuka saat
menginap, terlebih semua teman menginapku adalah namja. Aku mencoba mejejerkan
semua baju yang kupunya, akhirnya aku menemukan satu yang tidak terlalu
mencolok.
Berikutnya aku
memilih rok selutut warna pink dan baju kuning yang terang untuk ku pakai saat
berangkat, aku rasa ini cukup bagus.
Selesai berkemas
aku membuka laptopku. Dan kembali melihat namja yang tak kunjung bergerak itu
masih tersenyum padaku.
“Yaa… kau tidak mau
bertanya kenapa aka mendadak seperti ini? Itu karena aku ingin tampil cantik
didepanmu, walaupun aku membencimu. Tapi entah kenapa debaran ini masih ada.
Arra?” aku mencibir kearahnya lalu menutup laptopku kesal.
“Cepat tidur, kau
bilang kau mau bangun pagi,” eommaku berteriak mengingatkan.
Aku menyembulkan
kepalaku di depan pintu.
“Ne, eomma…
Jaljjayo,” ucapku manja. Dan bergegas menyampirkan selimut ke tubuhku.
~
“Kriiiing kriiing
noona bangun, kriiiing kriiiiing…” suara itu mengganggu tidurku, aku
melihatnya, bukan alarm. Tapi dongsaengku, aigooo
batinku.
“Yaaa yaaaak...
hentikan, aku bisa gila karenamu,” ucapku mencoba menutup mulutnya.
“Aniyo, eomma
menyuruhku untuk membangunkanmu sampai benar-benar bangun jadi, Krrrriiiiingg
krriiiiiing noonaaa bangun kriiiiiing”
“Yaaa yaaak…
hentikan, aku akan bangun sebentar lagi, kau keluar dulu,” ujarku sambil
menutup telinga dengan bantal.
“Andwae, kau harus
bangun sekarang! KRIIIIIINGGG… KRRRIIIIINGG… eemmmhhh” akhirnya aku berhasil
membekap mulutnya.
“Ne, ne, kau
berhasil, noona sudah bangun,” ucapku sambil berdiri. Dan si kecilpun akhirnya
ngibrit keluar. Aku frustasi, tidak semangat, aku keluar dengan malas.
“Eomma, kenapa
harus menyuruhnya yang membangunkan?” tunjukku pada dongsaengku yang tengah
menjulurkan lidahnya untukku itu.
“Karena dia alarm
terbaik untuk membangunkanmu, entah bagaimana caranya dia selalu berhasil
membangunkanmu dengan cepat,” eomma terkekeh sambil memeluk namja kecil yang
ingin sekali ku tekik kalo dia bukan adikku.
“Ne, araseo,”
jawabku mengejek dongsaengku itu.
Aku bergegas mandi,
mengganti bajuku, berulang kali mengecek penampilanku di cermin, aku takut jika
mereka mengejek penampilanku ini. Setelah aku merasa yakin aku segera mengambil
tas bawaanku dan meluncur ke tempat pertemuan.
Tempat pertemuan,
tidak lain adalah rumah Jungkook, aku bosan melihat rumah itu, gerbang itu,
halaman itu, interior itu. Huuuh, membosankan.
Saat sampai, aku
heran, semua pria itu sudah sampai? Dan mereka semua menunggu di luar gerbang.
Ada apa dengan mereka?
Aku keluar dari
taksi dan berdiri heran kearah mereka yang seperti mendengarkan sesuatu yang
dikatakan Jungkook. Lebih tepatnya mereka berbisik. Baik sepertinya aku akan
menerima musibah sebentar lagi.
Aku mendekat, dan
mereka sepertinya bisa mendeteksi kedatanganku, jadi mereka dengan cepat
kembali menegakkan tubuhnya seolah, tadi aku tidak melihat apa yang mereka
lakukan.
Tapi Jimin mendadak
melihatku sambil menganga lebar. Aku hanya mengerjap heran, dan semua namja itu
segera menengok kearahku dan ikut menganga walau tidak selebar Jimin.
Kecuali Jungkook,
tapi justru reaksinya yang membuatku paling takut, dia menggigit bibir
bawahnya. Aku membulatkan mataku, seolah tau apa yang mereka pikirkan mengenai
aku. Aku mengangkat tas yang kubawa menutupi sebagian pahaku yang ter-ekspose.
“Yaa… jaga pikiran
kalian, eoh!” sentakku mengagetkan semua namja mesum itu.
“Bu… bu… bukan
begitu, kita kaget karena kau berpenampilan berbeda,” kata Yoongi.
“I… iya benar, di
sekolah kau selalu tampak seperti gelandangan, jauh berbeda dengan… ini…” ucap
Namjoon menegaskan.
Tapi aku tidak
yakin Jungkook berpikiran sama dengan rekannya. Dia masih sibuk menggigit bibir
bawahnya. Tapi saat dia melihatku menatapnya sinis, dia mengalihkan pandangan
ketempat lain.
Ya aku akui,
penampilanku ini memang cukup mengejutkan bagi mereka. Aku biasanya di sekolah
memakai rok yang bahkan menutupi lulutku, rambutpun hanya kukucir kuda dengan
asal, dan dilengkapi dengan wajah yang selalu lusuh.
Tapi hari ini, aku
memakai rok yang cukup tinggi, baju tanpa lengan, flatshoes yang senada dengan
bajuku, rambut panjang terurai dengan aksen pita yang bertengger di samping
kepalaku. Pantas mereka semua terkejut. Aku menyunggingkan senyum bangga.
“Kajja kita masuk,”
ajakku, meloloskan lamunan mereka semua.
Di dalam travel
tempat duduk berpasangan, demi menghindari kesialan, kalau aku akan duduk
dengan Jungkook, jadi aku segera mencari partner.
“Hoseok-ah, kajja
duduk bersamaku,” dia terdiam, melihatku dari atas ke bawah, lalu kembali ke
mataku lagi.
“Okay,” jawabnya
singkat. Aku mengangguk, walau tatapannya seperti itu, aku yakin dia anak baik.
Aku memilih duduk
di dekat jalan, agar mudah jika aku ingin pergi dan mengambil barang. Aku lihat
diatasku juga ada tempat menaruh tas, milik siapa ini? Batinku ingin tahu,
setelah kucari-cari identitas koper itu, aku menemukan ada gantungan kunci
Jungkook disana. Aiiiissshhh…. Miliknya. Aku langsung kembali duduk. Si
namjapun datang dan tiba-tiba berteriak ke arahku.
“Yaa… ini kursiku,”
bentaknya, sudah kuduga, aku akan duduk dengannya. Hoseok yang melihatnya langsung
berniat pergi. Tapi aku menahannya.
“Tidakkah kau
lihat? Disana masih ada bangku kosong?” ucapku melirik bangku yang kumaksud.
“Kau tidak lihat?
Disini koperku, minggir,”
“Dan tidakkah kau
tau? Koperku ada disana?” Kataku sambil menunjuk atas kepala Seokjin.
Akirnya dia
menyerah, dan pergi kebelakang. Aku menyerukan kemenangan di dalam hatiku. Saat
perjalanan, aku asik mengajak ngobrol Hoseok, Namjoon, dan Jimin yang ada di depanku. Mereka menyenangkan. Dan sesekali para anggota kelompok yang lain menimpali
dan membuatku tertawa. Kecuali Jungkook, aku tak mendengar dia masih hidup atau
tidak di belakang sana. EH? Siapa peduli dengannya. Cih.
Tapi tak lama,
diapun berjalan mendekatiku, ah tepatnya mendekati kopernya. Dia tampak
kesulitan, tapi kami semua asik tertawa dan mengacuhkannya. Hahaha kali ini aku yang menang Jungkook-ah.
Tapi saat aku
tengah tertawa,
BRRRUUKK…
Sebuah benda
menghantam keras kepalaku, aku berkunang-kunang, tapi masih sadar. Aku melihat
semua berputar dan mereka mulai panik meneriakiku. Dan lama-lama suara itu
terdengar jelas, dan mereka sudah tidak berbayang-bayang lagi.
Tersangka Jungkook
hanya menunduk saat kutatapi ganas. Baru kali ini dia takluk di hadapanku.
“Mianhae…” ujarnya
lirih, meminta pengampunanku.
“Ani!” seruku sambil
melipat kedua tanganku ke depan dada.
Kami terus berdebat
seperti itu di tengah travel, dalam posisi berdiri berhadap-hadapan.
“Mianhae…” katanya
untuk ke sekian kalinya.
“ANIYO!” kataku
lebih menekankannya.
“Araseo, terserah
kau saja,” katanya yang akhirnya menyerah.
“MWO?!” ucapku tak
percaya sambil membelalakkan kedua mataku. Mendadak travel di rem karena sudah
sampai. Membuatku nyaris terhuyung dan jatuh kedepan jika tidak Jungkook topang
dengan tangannya.
Jantungku berdetak
kencang, aku tidak berani menatap matanya, takut jantungku akan meledak disini.
Aku melepaskan diri
dari genggamannya. Masih dengan ekspresi sebal karena dia dengan mudahnya
menyerah untuk meminta maaf padaku. Aku berjalan menuju tas, dan menyambarnya
agar bisa keluar dari sini segera. Semua masih membeku, entah kenapa, tapi aku
bergegas keluar.
Di luar travel
ternyata sudah ada red carpet yang menyambut, dan balon berbentuk hati yang
terangkat keudara di sepanjang jalan. Tapi aku tak sempat mengaguminya, aku
terlalu kesal untuk itu. Dengan segera aku melangklah sebal dan masuk ke lobby.
Duduk di sofa, dan menunggu sang pemesan kamar datang.
Setelah aku
mendapatkan kamarku─yang tentu saja isinya hanya aku─aku bergegas menuju kamar.
Dengan sedikit sebal membanting pintu kamar, aku mengacak-acak rambutku
frustasi, tapi hal itu terhenti saat sampai di tempat yang benjol karena tas si
pabo Jungkook. Sudahlah, pikirku, dan
seseorang mengetuk pintuku.
“Ah, Taehyung-ah,
waeyo?”
“Makan malam sudah
menunggu, kajja,” aku mengangguk dan meminta waktu untuk berganti pakaian dulu.
Sekarang aku keluar dengan kaos abu abu selutut, dan hotpants. Dengan rambut
yang masih berantakan aku mengikuti Taehyung. Dijalan aku menyisir rambutku
dengan jari, dan, akhirnya rapi.
Taehyung
mengarahkanku ke kursi pojok, aku hanya tersenyum dan berterimakasih. Aku lihat
semuanya sudah datang, kecuali Jungkook, aih, sepertinya…
“Mian,” benar, dia
duduk disini.
“Mengapa kau duduk
disini?” tanyaku pelan.
“Apa kau melihat
ada bangku lain?” aku menyandarkan diri di kursi, dan untungnya makanan datang
dengan cepat.
“Donghee-ya”
panggilnya.
“Mwo?” jawabku
ketus.
“Ah, ani, ani”
jawabnya. Cih menyebalkan.
“Donghee-ya”
panggilnya lagi.
“Wae?” kali ini
jawabku lebih lembut.
Dia terkekeh bodoh.
“Ah… gwaenchana” aku mendecak kesal. Dia
mau mempermainkanku, eoh?
“Donghee-ya…” kini
lebih lirih.
“Waeyooo?” jawabku
sebal.
“Mian,
Gwaenchanayo,” jawabnya lalu tersenyum polos. Aku mulai jengah, jadi aku
tinggalkan dia, makan malamku dan semua yang ada disana untuk kembali ke kamar.
Besoknya, aku
keluar dengan dress merahku yang memiliki motif bunga di bagian roknya, dan
rambutku aku kepang ke samping, layaknya princess elsa di frosen(kkkk~).
Aku kali ini ingin
fokus, aku akan melupakan permusuhanku dengan Jungkook sementara, demi nilai
sejarah yang memuaskan. Jungkook juga sepertinya cukup profesional, kami berdua
bekerja seperti tiada masalah, sampai semua bahan terkumpul.
-Di Depan Museum-
“Donghee-ya, lihat
ada pemusik. Ini berikan pada mereka,” Jungkook menyodorkan sekeping recehan
padaku, Cih dia sok akrab, aku bersikap acuh kembali padanya, dia yang heran
hanya melengkungkan kembali bibirnya, kecewa.
“Ini Donghee-ya,
coba kau berikan, aku penasaran mereka akan memainkan lagu apa,” Seokjin kini
yang berganti menyodorkanku uang, kali ini aku tersenyum, sebenarnya aku juga
penasaran. Tapi aku tak mau menerima uang Jungkook.
Aku maju dan
menaruh uang itu di kotak, dan mereka kemudian memainkan lagu. Aku tidak pernah
mendengar lagu ini sebelumnya, tapi lagu ini sangat bagus.
Aku mencintaimu
Bahkan terlalu mencintaimu
Apa aku terlihat bodoh? Atau memang aku
sudah gila?
Kau yang membuatku gila
Pertanggung jawabkanlah
Dan jadilah engkau kekasihkuuuu~
Aku terdiam,
tunggu, apa… jangan-jangan Seokjin sekarang tengah…
-Di Sekolah-
Tinggal presentasi
kelompokku yang belum ditampilkan, aku cukup berdebar. Tapi betapa senangnya
aku saat namja itu menggenggam tanganku untuk menenangkan sedikit
kekhawatiranku.
Saat maju, aku
cukup lancar dalam menyampaikan. Membuatku lega dan tinggal menunggu sesi tanya
jawab.
Sesi tanya jawab
juga berlangsung dengan baik, Tapi yang mendominasi jawaban adalah Oppaku,
tentu saja. Kami akhirnya menutup presentasi dan Oppa menekan tombol untuk
menampilkan Slide bertuliskan Thank You sembari mengakhiri presentasi.
Akan tetapi
mendadak kelas riuh, aku menghadap ke layar. Ada fotoku dan Oppa sedang
berciuman. Aiiisss matilah aku.
“Oppaaaa….” Dan dia
hanya mengedikkan bahu.
-Flashback-
Disana berdiri
seorang namja yang wajahnya ditutupi sebuket bunga mawar, dan dia lalu
menurunkan bunga itu.
“Jungkook?” aku
memanyunkan bibirku.
“Ne, Donghee,
maukah kau menjadi kekasihku?” dia menyodorkan mawar, dan band di belakangku
kembali berbunyi dengan alunan yang romantis.
“Kau pikir aku akan
tertipu? Ani, aku tidak mau jadi bahan guyonan kalian,” jawabku ketus.
“Donghee-ya, ini
serius, aku benar-benar menyukaimu, ani, aku mencintaimu,”
“Makan saja
cintamu, aku takkan percaya,” aku berbalik dan ingin pergi. Mendadak dia
menarikku, lalu membuat bibirku tertabrak oleh bibirnya, sakit memang. Tapi dia
tetap menempelkannya, aku lihat, dia memejamkan matanya. Aku mengambil mawarnya
perlahan dan dia mulai berusaha melumat bibirku. Aiiiisss namja ini.
Dengan satu gerakan
aku pukul kepalanya. Dia melepaskan ciuman itu, sambil mengelus kepalanya.
“Apa ini saja
cukup?” aku melambaikan mawarnya diudara dan dia baru menyadari mawar itu
hilang dari genggamannya. Lalu aku tersenyum kecil dan dia juga
-Flashback end-
Lee Songsaenim
benar-benar marah karena sembarangan menaruh foto itu di slide untuk pelajaran,
alhasil kami dihukum.
“Kalian dihukum,
setelah pelajaran saya, jalan jongkok bolak-balik di depan kelas, mengerti,”
“Ne,” jawab kami
semua serempak.
“Eh, tapi
ngomong-ngomong, selamat ya atas hubungan kalian,” Lee Songsaenim mendadak
menjabat tanganku dan Jungkook.
Dan kami semua
terkekeh
Saat jalan jongkok,
kami hiasi sambil bercanda dan mengobrol agar tidak lelah. Dan tiba-tiba sebuah
pernyataan mengejutkanku, Jungkook oppa mengatakan bahwa, sebenarnya setiap
kerja kelompok ia selalu sengaja menyuruh guru untuk membuatnya selalu
bersamaku.
Dan di setiap kerja
kelompok, sebenarnya ia ingin menyatakan cinta padaku, contohnya saat invisible
ink itu, dia sebenarnya menuliskan “Maukah kau menjadi kekasihku?” tapi karena
tidak sengaja kubakar jadi gagal, lalu saat di red carpet resort, sebenarnya
balon hati yang kulihat itu memiliki tulisan yang sama seperti invisible ink,
dan saat makan malam, sebenarnya Oppa ingin menyatakan perasaannya tapi dia gugup.
Jadi justru terlihat seperti mengerjaiku.
Aku malu menyadari
kebodohanku, tapi toh itu semua berujung bahagia kan?
Fin~