1/08/2017

Love In School (V)




Tittle : Love In School 6
Length : Series
Genre : Romance, School Life
MainCast : - Reader as me
-       Taehyung a.k.a V
Support Cast : Member BTS dll
Author : Park Donghee

Pagi ini adalah pagi terberat untuk hidupku. Namjachinguku kini sudah memutuskan hubungan kami. Dia berkata dia sudah tidak memiliki perasaan lagi padaku. Semalaman penuh kugunakan hanya untuk menangis, entah bagaimana airmata ini bisa mengalir, aku hanya memaksakannya karena kesedihan setelah putus cinta tidak akan lengkap jika tidak menangis. -_-

Aku berjalan menuju kelas yang diikuti tatapan aneh dari orang-orang. Ya aku tau aku gila karena nekat berangkat ke sekolah dengan mata panda super tebal ini. Tapi bagaimana lagi saat aku merajuk pada eomma untuk tidak sekolah, aku justru diguyur dan dimandikan eomma dengan air yang super dingin. Alhasil jadilah aku yang tengah berjalan dan terlihat seperti penampakan di sekolah. Apalagi rambut lurus panjangku kugerai untuk menghalangi wajah menyeramkanku.

Saat akan sampai ke kelas aku melihat mantan namjachinguku. Yoongi. Saat ini tanpa merasa malu sedikitpun dia mengumbar kemesraannya bersama seorang yeoja.

Apa dia yeojachingu baru Yoongi oppa? Jadi dia memutuskanku untuk yeoja itu? Aku mendengus sebal dan siap menghampiri mereka yang sedang asik bergurau sambil saling merangkul itu. Tapi langkahku terhenti ketika seorang namja kini dengan langkah menggebu sedang menghampiri mereka.

Namja itu langsung menarik yeoja yang dia panggil bernama Jung Soo Ri itu. Pertengkaran sengit terjadi. Sang namja yang setahuku bernama Taehyung itu tengah berusaha meminta penjelasan dan mencengkram tangan Soori kuat. Tapi Yoongi ikut menarik Soori dan justru membentak Taehyung.

Astaga. Batinku, tapi aku dengan bodohnya hanya berdiri dan memandangi pertengkaran itu. Namun, berangsur aku mulai sadar dan aku berlari kearah mereka. Aku mencoba melerai mereka terutama Taehyung dan Yoongi.

“Hentikan… Yaa kajima!” aku berusaha memperlebar jarak diantara mereka agar mereka tidak berkelahi. Tapi aku tidak mau menyentuh tangan Yoongi, aku takut kesedihanku terngiang lagi. Jadi aku menarik tangan Taehyung dan menariknya pergi. Taehyung terus memberontak dan mengancam Yoongi.

“Yaa… lepaskan aku, Hei Yoongi, tunggu aku akan memberikan pelajaran padamu, TUNGGU SAJAAA!!”

Sekarang aku dan Taehyung duduk termenung di bangku kantin.

“Yaa… kenapa tadi kau menarikku? Lihat kan? Aku jadi kehilangannya, lagipula kau ini siapa?” aku menunduk sambil menggembungkan pipiku. Aku baru ingat, kami ini tidak saling kenal sebelumnya, aku hanya mengetahui namanya. Itu saja.

“Mianhae, Aku… juga sebenarnya ingin menghajar si Yoongi sialan itu,” ucapanku menggebu sambil menonjokkan tanganku keudara. “Tapi…”

“Tapi apa?” sahut Taehyung malas, sambil meneguk minumannya.

“Aku tidak mau menyentuhnya,” mendadak dia menyemburkan minumannya keudara. Membuatku terkejut. Apa ada yang salah dengan kata-kataku. Aku mengerjap heran.

“Yaa… Alasan macam apa itu? Apa dia manusia sampah berjalan yang bahkan membuatmu tak sudi memegangnya?” Taehyung memicing tak puas dengan jawabanku. Aku memainkan sedotan yang ada di gelas minumanku.

“Aku hanya tidak ingin kesedihanku muncul kembali jika aku menyentuhnya lagi,” jawabku begitu polosnya. Dia memandangku.

“Kau mantan yeojachingu Yoongi?” dia bertanya sambil mencoba menatap manik mataku. Aku menangguk. Dia tertawa kecil.

“Ahhh… ternyata pasangan itu memang pasangan biadab,”

“Jadi kau mantan namjachingu Jieun?” tanyaku seolah mengerti yang dia maksud.

“Bukankah itu hebat? Mantan namjachingumu dan mantan yeojachinguku kini bersama,” dia menyandarkan diri di kursi. Aku mengikuti gerakannya dan menghela napas.

Tapi mendadak ada ide terlintas di benakku. “Taehyung-ah,” aku melepaskan sandaranku dan mencondongkan tubuhku ke depan.

“Siapa yang mengijinkanmu memanggilku seperti itu?” kata Taehyung tak bergerak dari posisi awalnya.

“Mi…mian Taehyung-ssi” ucapku tergagap.

“Sudahlah panggil aku dengan santai,” katanya lalu ikut mencondongkan tubuhnya.

Aku berdecak sebal. Tapi kemudian kembali memasang wajah bersemangat. “Kita harus bersatu dan membuat gerakan untuk move-on,” ujarku sambil menaik-naikkan alis. Dan mengepalkan tanganku di hadapannya.

“Bagaimana caranya?”

“Bagaimanapun, kita harus bisa melakukannya dan juga membuat mereka menyesal sudah meninggalkan kita,” nada bicaraku seolah sedang berpidato. Namun tetap ditanggapi oleh Taehyung si alien aneh.

“Benar, kita harus bisa melupakan mereka dan membuat mereka menyesal pernah melepaskan kita dalam hidup mereka.” Dia ikut mengepalkan tangannya. Aku semakin mendekatkan wajahku.

“Keputusan yang bijak. Mulai sekarang tidak ada kesedihan,”

“Tidak ada penyesalan, karena…”

“Kita akan…”

“MOVE ON!!” ujarku dan Taehyung bersamaan sambil mengaitkan lengan kita bersama seperti akan adu panco. Semua yang melihat kami mungkin akan mengira kami gila, bodoh, dan idiot. Ya benar, karena aku juga berpikir kami memang seperti itu.

“Wuah, wah… kudengar Yoongi dan Soori sekarang berpacaran, apa kedua mantannya ini juga sebentar lagi akan menyusul mereka?” aku menoleh sebal kearah dua namja yang kini sudah ada di samping bangku kami. Aku melepaskan kaitan lenganku.

“Jadi kau tau bahwa Yoongi oppa menghianatiku Jin?” yang disebut hanya berdecak.

“Oppa? Dia sudah bukan oppamu, sadarlah…” aku menggembungkan pipi sebal mendengar sahutan Hoseok. Aiisshh dua orang ini benar-benar! Aku hanya berani mengumpat dalam hati. Mereka berdua adalah teman segerombolan Yoongi.

“Kalau begitu lanjutkan saja pendekatan kalian ini, mian tadi kami mengganggu,” ujar Jin sambil berlalu dengan gaya angkuhnya.

Aku memandang Taehyung, dan mendadak Taehyung menggebrak meja. Membuatku terperanjat. “Aaaiiissh… tak bisakah kau memberikan aba-aba dulu sebelum menggebrak meja, eoh aku sangat terkejut,”

“Mi… mian, kalau begitu akan ku ulang,” katanya sambil bersiap duduk lagi. Saat dia baru akan menghitung. Aku menyumpal mulutnya.

“Aniyo, jangan lakukan. Kau terlihat bodoh, lanjutkan, jadi ada apa?”

“Aku ada ide,”

“Mwo?” aku sedikit merekahkan senyumanku.

“Ayo kita berpacaran seperti kata mereka,” Taehyung menaik-naikkan alisnya sambil menatapku. Aku berpikir, cukup lama untuk mencerna kalimatnya.

“Ah… kajja, kita berpura-pura pacaran dan membuat mereka seolah melihat bahwa kita ini sudah move on!” kataku sambil kembali mengepalkan tanganku. Aku menatap Taehyung yang terpaku sambil menatapku melas.

“Bukan berpura-pura,” aku mengerjap.

“Mwo?”

“Kita berpacaran sungguhan,”

Deg

Mendadak aku merasakan mataku melebar begitu saja. Membuat dadaku bergemuruh tak karuan. Kenapa dia ini? Aku merasa sedikit gemetar, tidak tau apa yang salah dengan diriku sendiri.

“A…ap, apa maksudmu eoh?” kataku sedikit membentak.

Dia menghela napas dan siap menjelaskan. Seolah dia tau, situasi ini pasti terjadi.

“Sebenarnya…” dia menelan ludah. “Aku sudah menyetting semua ini,” mataku semakin melebar seolah meminta keluar dari tempat sempit ini. Tenggorokanku terasa tercekat, sulit rasanya bernapas.

“Mwo?”

Dia menggigit bibir bawahnya, membuatku jadi terfokus pada bibir merah itu. Tapi dia berucap.

“Soori itu sebenarnya sepupuku,” aku sontak menatapnya. Diapun menunduk. “Dan Yoongi adalah teman dekat masa SMPku,”

Aku memejamkan mata, mencoba mengatur napasku yang terasa sangat berat. Lalu apa maksudnya ini? Aku memasang tatapan menyalahkannya.

“Aku sudah menyusun skenario ini lama, aku sudah sangat menyukaimu sejak lama, dan aku ingin kau menjadi milikku, tapi aku tak tau cara mendekatimu,” lanjutnya polos. “Dan aku pikir dengan begini kau bisa bersamaku,” tubuhku makin lemas. Dia bodoh, sangat bodoh.

“Pabo! PABO!! Kau alien terbodoh yang pernah ada,” aku nyaris terisak kalo aku tidak ingat ini kantin. Tapi reaksinya semakin membuat hatiku tersayat-sayat. Dia menatapku tidak mengerti, kenapa aku mengatainya seperti itu.

“PABO! Kau tidak seharusnya seperti ini dan membuatku malah merasakan sakit ini sendirian,”

Dia terkejut mengerti. Lalu dia bingung, menatap kesegala arah, merasa bersalah. Aku pergi beranjak sebelum dia sempat berkata apapun.

Bahkan dia tidak berusaha mengejar dan meminta maaf padaku. Aku mempercepat langkahku dengan perasaan yang makin tak karuan. Kenapa kali ini rasanya sakit sekali? Bahkan aku nyaris tak bisa membendung airmataku.

Tapi langkahku sudah memasuki kawasan kelas. Akan terlihat mengenaskan jika aku menangis, dan karena aku baru saja putus dari Yoongi. Mereka bisa salah paham.

Aku semakin tak tahan duduk berdiam di sini sementara semua orang memandangi dan menghujatku diam-diam. Tapi ini terpaksa, dan untunglah aku tidak sekelas dengan si pabo Taehyung.

-Di Rumah-

Tangisanku makin pecah, bahkan lebih parah dari malam kemarin, eommaku yang mendengar langsung bergegas ke asal suara. Kamarku.

“WAAAEEE?!” suara eomma terdengar melengking tajam, bahkan terdengar lebih mengerikan dari tangisanku. Aku terhenti, dan menatap eommaku dengan wajah penuh air mata. “Haruskah kau melakukan ini setiap hari?” suara eomma merendah, namun tetap terdengar nyaring. Dan setelah itu bla bla bla bla. Eommaku mengoceh tiada hentinya. Aku yang merasa jengah mendengar nasihat itu memulai siasat penghentian omelan.

Aku kembali terisak, dengan awal yang pelan, namun bahuku kuguncang sewajarnya. Ini siasat.

“W…w, wae? Apa yang salah denganmu?” eomma mulai tergagap. Dalam hati aku tersenyum kecil. Kukencangkan volume isakanku perlahan sampai ke titik yang paling keras. Membuat eommaku sedikit terperanjat dan mengerjap.

“A…a… araseo, eomma pergi,” wanita itu melangkah mundur sambil memegang kenop pintu yang kemudian perlahan dia tutup. “Tapi, jangan terlalu gaduh ne,” ujar eommaku sebelum akhirnya menutup pintu kamarku rapat.

Aku menghela napas lega. Tapi kenapa? Kenapa namja itu yang mengacaukan pikiranku saat ini? Aku melangkah gontai menuju pintu. Mungkin udara luar bisa menyegarkanku.

Baru saja beberapa langkah aku keluar dari kamar. “Eonni, aku sudah lama menunggumu keluar,” kata yeoja mungil di hadapanku yang sedang memeluk buku dan membawa pulpen kemana-mana.

“Wae? Kau berbicara seolah eonnimu ini sudah mengurung diri bertahun-tahun di kamar,”

“Memang kau terlihat seperti itu,” aku terkejut mendengar kejujuran dongsaengku ini.

“Ah… nde, waeyo?” aku lalu beranjak ke sofa di dekatku.

“Aku ada PR eonni, tapi ini PR Bimbingan Konseling, tentang masa pubertas dan jatuh cinta,” kenapa pas sekali aigooo…. Aku mendesah pelan.

“Nae, lanjutkan,” jawabku singkat, mendengar kata cinta membuatku kembali teringat Yoongi, Soori, dan Taehyung. Aiiisshh…

“Jadi…” dia membuka beberapa lembar bukunya dan mulai menyiapkan pulpennya. “Eonni, bagaimana rasanya jatuh cinta itu?” dia memandangku. Aku berpikir keras sambil memandang langit langit rumahku yang sebenarnya tidak ada apa-apa.

“Molla…” jawabku datar. Adikku yang sudah menunggu penuh harap kesal dan menutup bukunya kasar.

“Eonni… kau bahkan sudah pernah berpacaran, tapi belum tau rasanya jatuh cinta? Lalu kenapa kau berpacaran dengan Yoongi oppa?” adikku berdecak kesal sambil membuka kembali bukunya. Aku mencerna kalimatnya.

Benar juga, lalu kenapa aku menerima Yoongi sebagai namjachinguku? Apa aku pernah mencintainya? Atau justru karena aku tidak tau rasanya jatuh cinta jadi aku asal menerimanya? Aaiisshh molla… gerutuku pada diriku sendiri.

“Kau benar-benar tidak tahu?” adikku memastikan dengan nada yang dibuatnya sesantai mungkin. Aku menggeleng apa adanya. Dia lalu menghela napas.

“Setahuku eonni, jatuh cinta itu, ketika kau merasakan semuanya secara berlebihan. Misalnya kau hanya sekedar tidak sengaja beradu pandang dengannya, maka jantungmu serasa akan melompat dan bahkan kau akan merasa kegirangan. Lalu saat kau sedih kau benar-benar akan merasa terpuruk dan sangat rapuh, dan sebagainya,” aku melongo mendengar penjelasan dongsaengku. Lalu mengangguk seadanya.

“Berarti… kau pernah merasakannya yaa??” tanyaku lalu mencolek dagunya. Dia lalu memandangku jijik dan beralih pada bukunya.

“Baik, pertanyaan kedua, kuharap kau bisa menjawabnya, sia-sia jika kau tidak bisa…”

“Araseo, araseo, katakan saja pertanyaannya tidak perlu mengancamku seperti itu,” aku melipat tanganku di depan dada sebal.

Dia mengangguk. “Bagaimana mengontrol diri saat  jatuh cinta pada masa pubertas?” aku kembali memandang langit langit diikuti tatapan jengah dari adikku.

“Kau…” aku mendadak berucap sambil masih menatap langit-langit yang sekali lagi sebenarnya tidak ada apa-apanya itu. Dongsaengku terkejut dan terfokus padaku.

“Harus memiliki orang-orang di sekitarmu, yang siap mendukungmu, jadi saat kau senang, rasa yang terlalu berlebih itu bisa kau bagi dan membuatmu menjadi lebih tenang. Dan saat kau sedih ada orang yang akan menghiburmu, memberikanmu semangat dan mencurahkan kasih sayang yang lebih untukmu, jadi kau tidak akan merasa depresi dan hancur,” aku memandang dongsaengku yang sedang melongo menatapku. “Apa itu cukup?” aku menatapnya kalem, membuatnya semakin kebingungan dan mengangguk sambil terus mempertahankan ekspresinya.

Dia berbalik dan menuju depan televisi dengan muka bodoh yang membuatku tertawa kecil. Mendadak memori beberapa saat yang lalu kembali bergulir di ingatanku. Aku menyandarkan tubuhku, kembali menatap langit-langit yang saat ini tak lagi tidak ada apa-apa. Melainkan ada gambaran beberapa saat yang lalu di kelas. Aku menatapnya miris. Dan kembali merenungi ucapanku sendiri.

-Flashback-

Aku melamun dikelas dan sulit diajak mengobrol. Membuat beberapa teman yang biasa berbicara denganku sempat khawatir. Dan saat mereka saling bertanya satu sama lain tak ada yang tahu aku kenapa. Tentu saja, karena mungkin hanya aku, Taehyung dan Tuhan yang mengerti mengapa sikapku begini.

Namun mendadak kelasku cukup riuh, bukan karena teriakan atau semacam itu, tapi riuh dengan suara berbisik yang sangat mengganggu. Posisiku saat ini sedang membenamkan wajahku dibalik tanganku yang ada di meja. Sehingga aku tak bisa melihat apapun.

Saat aku mendongak karena penasaran. Aku mendapati seseorang sedang berdiri di hadapanku, aku perlahan mendongak sambil mengamati tubuh yang sepertinya milik seorang namja itu.

“Taehyung-ah?” ucapku setelah mataku menangkap wajahnya yang─baru kusadari─sangat tampan itu.

Dia meraih tanganku. Menggenggamnya dan mencoba menarikku tanpa sepatah katapun.

“Sirheo!!” bentakku sambil menepis tangannya kuat. Dia menatapku melas, namun tanpa sadar aku memicing kearahnya. “Neo micheoso! Aku, tak ingin melihatmu lagi! Aku tak ingin kau ada di sekitarku lagi! Aku ingin kau pergi, selamanya kau pergi! PERGI DARI HADAPANKU!!!” bentakku yang membuat semua murid kelas menghentikan kebisingan mereka masing-masing. Sekarang suasana hening mencekam. Aku terengah dan Taehyung sedikit membuka bibirnya dan membelalak lebar. Matanya terfokus pada lantai sambil─sepertinya─mencoba mengontrol nafasnya yang tengah tercekat. Aku sudah membuatnya terkejut.

Dengan tatapan kosong dia pergi keluar dari kelasku dan membuat semua orang menatapku aneh. Aku tak peduli dan hanya kembali membenamkan wajahku.

-Flashback end-

Aku sedikit tertawa kecil, menertawai sikapku yang terlalu berlebihan padanya. Padahal aku baru menyadari aku tak pernah mencintai Yoongi. Seperti kata adikku, aku hanya menerimanya karena aku tidak tau cinta.

Namun tawaku terhenti mengingat kata-kataku sendiri. Dan saat kau sedih ada orang yang akan menghiburmu, memberikanmu semangat dan mencurahkan kasih sayang yang lebih untukmu, jadi kau tidak akan merasa depresi dan hancur.

Depresi dan hancur…

Depresi…

Dan hancur…

Aku tersentak, dan menegakkan tubuhku. Otakku terus memikirkan hal yang tidak baik.
Walaupun tidak secara langsung, tapi perkataannya di kantin seolah menggambarkan bahwa Taehyung sedang menyatakan perasaannya padaku.

Apa itu berarti dia mencintaiku? Dan bukankah saat ini dia sedang bersedih? Aku membelalak dan dengan segera bermaraton ke rumah Taehyung. Tunggu, rumah Taehyung? Apa aku tau rumah Taehyung.

Aku memandang ke sekeliling mencari ide, dan seketika aku berputar arah. Berpikir untuk datang ke rumah Yoongi, karena Taehyung bilang bahwa Yoongi adalah teman SMPnya, jadi dia pasti tau rumah Taehyung.

Tanpa pikir panjang aku segera mempercepat langkahku.

Nafasku terengah, walaupun begitu rasa panik dan takut tetap menekan semua itu. Membuat tanganku dengan cepat mengetuk pintu dan memanggil nama Yoongi lantang.

Pintu terbuka, dan reaksi namja itu cukup mengejutkan, dia mundur dengan sedikit melompat. Lalu memandang aneh diriku.

“W, wae?” dia tergagap, tapi aku tak sempat tertawa dan menanggapi sikapnya.

“Beritahu aku rumah Taehyung,” dia menggaruk kepalanya.

“Bukan aku tidak mau memberi tahumu, tapi…” aku terkejut mendengar pernyataan Yoongi.
Apa dia benar-benar akan…? Dengan cepat aku menggeleng, menepis semua pikiran itu.

“Lagipula kurasa dia tidak di rumah,” kata Yoongi cepat. Menghentikan kekhawatiranku. Aku lalu mengangguk, berterimakasih dan kembali berlari tanpa tujuan.

Dia tidak di rumah? Lalu dia kemana? Langkahku terhenti, otakku mengajak untuk mengistirahatkan tubuhku sejenak dan berpikir. Mempekerjakan otakku dengan keras, lalu mendadak sekolah muncul di benakku.

Tak ada salahnya mencoba, jadi dengan persediaan napas yang menipis aku tetap berusaha berlari sekencangnya.

Sampai di depan gedung sekolah. Aku segera melihat ke atap. Siapa tau dia mau terjun dari sana.

Ah, aniyo… dia tidak akan memiliki keberanian untuk melakukan itu.

Aku kembali menggeleng, menghilangkan prasangka burukku. Aku mencoba masuk ke dalam gedung yang saat ini sudah sangat gelap itu. Menyeramkan dan membuat bulu kudukku benar benar meremang.

Tapi aku dengan bermodalkan nekat tetap menerobos masuk. Upaya bermain kucing-kucingan dengan penjaga sekolahpun dengan sukses kulakukan. Entah mendapatkan bakat darimana, aku dengan lihainya mampu mengelabuhi penjaga sekolah dan mencoba masuk ke dalam kelas.

Cklek

Suara kenop pintu yang terdengar sangat keras. Tidak seperti saat pagi hari, bahkan suara pintu di gedorpun tak ada apa-apanya. Aku mulai melangkah masuk dan melihat sekitar kelas, mencoba mencari sosok…

“Taehyung-ah!!” seruku saat melihat sosoknya terduduk di mejaku. Tunggu, ini kelasku? Aku masuk ke kelasku? Lalu dengan cepat aku sedikit menyembulkan kepalaku keluar dan memeriksa identitas kelas, dan benar ini kelasku.

Bukankah tadi aku berniat ke kelas Taehyung, tapi kenapa aku malah masuk ke sini? Apa ini semacam radar? Pikiranku mulai meracau, tak jelas. Jadi aku memutuskan untuk kembali terfokus pada Taehyung yang…

“Aigoo… apa yang akan kau lakukan?” aku menutup mulutku dan menunjuk-nunjuk pisau di genggamannya. Dia yang tadinya terdiam menjadi memandangku dan pisau itu secara bergantian.

“Ah… aniyo, aniyo, ini tidak seperti yang kau pikirkan,” dia melangkah mendekatiku namun dia tidak melepaskan pisau itu.

“T… Ta, Taehyung-ah, jangan gila, jangan macam-macam, kau… kau tau? Semua hantu yang melakukannya akan terus bergentayangan dan tidak bisa tenang di surga,” ujarku ngawur. Membuatnya menjadi terlihat semakin bingung.

“Apa maksudmu? Apa aku salah melakukan ini?” tanyanya sambil mendekat, tapi dia masih terus menenteng pisau itu. Aku tidak tenang.

Jika aku mencegahnya maka bisa saja aku yang dibunuhnya. Tapi jika tidak nanti dia bisa mati karenaku. Aku menarik napas mencoba membendung kepanikanku.

“HYAAAA” dengan sisa tenaga aku berlari menghampiri Taehyung yang hanya diam mematung dengan mata yang membulat.

BRUUKK

Aku menubruk tubuh Taehyung dan menahan tangannya agar tidak bergerak. Membuatnya yang tidak siap itu terhuyung dan kami nyaris terjatuh jika tidak tertahan oleh mejaku.

Taehyung mengerang, tapi aku melihat kearah pisau di tangannya. Masih ada dan tidak ada bekas darah. Aman. Batinku. Lalu kembali menatapnya yang masih kuhimpit dengan tubuhku agar tidak mencoba meloloskan diri.

“Wae? Kenapa kau melakukan hal bodoh ini?” tanyaku mencoba menohoknya.

Tapi yang ditanya malah mengernyit tak mengerti. Aku lalu menghembuskan napasku kasar yang membuat surai rambutnya ikut tertiup. “Kau tidak mengerti?” aku bertanya untuk mengejeknya, namun dia malah justru menggeleng dengan wajah polosnya.

Aku menertawakan diriku sendiri, dia, dan keadaan kami saat ini. Aku menatap sinis padanya. Lalu mengangkat tangan kananku yang menggenggam tangannya.

“Lalu apa ini?”

Taehyung menatap pisau itu, dia lalu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah mencoba menyingkronkan pikirannya dengan pikiranku. Lalu tertawa kecil. Aku menatapnya sebal, dia tertawa?

“Kau salah paham…” ujarnya lembut, bahkan suaranya seolah membelai wajahku yang masih sangat dekat dengan wajahnya. Dia tersenyum tipis, lalu melirik ke sebelah kanan tubuhnya, tepatnya ke arah mejaku yang sedang kami tindihi.

“Eoh?” aku terkejut, mendapati mejaku yang sudah penuh dengan goresan-goresan dan menjadi tak mulus lagi. Tapi goresan itu membentuk sesuatu.

Mianhae

Saranghae

Itulah yang terbaca di sana. “Ukiran di mejaku itu…”

Aku menatap kearah pisau yang Taehyung pegang. Lalu aku menatap matanya yang menyorotkan kehangatan.

Deg Deg Deg

Tidak… jangan sekarang, aku melihat posisi kami yang membuatku lama-lama merasa tidak nyaman itu. Aku mencoba mundur namun Taehyung menahanku. DENGAN TANGAN KIRINYA(tangan yang memegang pisau)

Aku tertahan, aku takut dia sedang mengacungkan pisaunya di balik punggungku. Dan jika aku mundur, maka habislah nyawaku.

“Kau… apa yang kau lakukan eoh?” bentakku. Tapi dia makin mendorong tubuhku dan membuat wajah kami hanya tinggal beberapa senti. Aku menelan ludahku dengan susah payah. Dan aku yakin saat ini dia bisa mendengar detak jantungku yang tak karuan ini.

Pipiku bersemu merah, aku malu dia mendengar jantung bodoh itu berdetak dengan terlalu cepat.

“Wae?” dia berkata dengan sangat halus sambil menatap tepat di mataku dan menyertakan senyum terindahnya yang pernah kulihat. Aku terpana, hanya terdiam sambil ikut menatap mata indahnya.

“Kenapa kau mencariku, bahkan kau melakukan hal bodoh seperti ini, hal yang membuat darahku berdesir dan sulit mencerna kalimatmu dengan cepat?”

Aku hanya bisa diam. Benar. Posisi ini membuat darahku ikut berdesir bahkan aku juga tidak bisa mencerna kalimatnya dengan cepat.

Waktu benar-benar terasa begitu lambat, tapi yang bisa kulakukan hanya diam, dan terus menatapnya.

“Apa kau juga menyukaiku?”

Taehyung menyeringai, tapi aku tetap diam. Wajahku memanas, mungkin aku terlihat memerah seperti nyaris terbakar. Tapi sekali lagi aku hanya bisa diam.

“Jawab aku”

Masih hening.

“Baiklah kalau kau memaksa,”

Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Lalu Taehyung mendorong tengkukku dengan tangannya, membuat jarak kita semakin dekat bahkan pada akhirnya bibir manis Taehyung yang sejak tadi pagi kuamati diam-diam menempel dengan bibirku. Dia memejamkan matanya. Aku yang terkejut hanya diam tanpa reaksi. Bingung, dan semuanya bercampur aduk. Tapi saat Taehyung mencoba melumat bibir bawahku aku memegang lengannya dan meremasnya seolah menahan hal itu. Tapi dia tetap melakukannya. Dia tanpa bisa dihentikan terus menyambar bibirku.

Aku kembali meremas lengannya sambil memejamkan mataku paksa. Tapi dia hanya sedikit terkejut dan kemudian kembali melakukannya. Aku tidak tau cara menghentikannya. Aku mencoba berpikir dalam keadaan sulit itu. Dan akhirnya ide itu muncul.

“Bwnwae”

Dia melepaskan bibirnya, lalu memandangku.

“Mwo?” dia bertanya tanpa merubah posisi itu.

“Nae, bukankah kau sudah merasakannya dari tadi?”

Dia mengernyit. Aaiisshh jinjja batinku

“Jantung bodoh ini? Kau tidak mungkin tidak merasakan perubahan debaran ini kan?” ucapku jujur. Tapi aku yakin ini membuat wajahku lebih bersemu lagi. Dia tersenyum licik, matanya menyiratkan hal yang aku tak tahu apa. Lalu dia mendorong tengkukku lagi.

Tapi kali ini dengan cepat aku menutup mulutku dengan tangan kedua tanganku. Jadi dia hanya mencium tanganku. Aku terkekeh pelan.

“Ayolah… untuk merayakan hari jadian kita,”

Aku mendorong tubuhnya dan bangkit. “Yaa! Kau mesum eoh,” aku menyilangkan tanganku di depan dada.

Tapi kemudian aku mengerjap heran.

“Memang… sejak kapan kita jadian?”

Fin~