8/13/2016

A Little Trouble



Jeon Jungkook, Lee Jieun (IU)
Drabble, Teen
Comedy(?)




Ini postingan pertama, semoga berkesan^^ ini ff buatan aku sendiri ya, no plagiat, no copas, no judge. Thanks^^{}

~

“Yaa!! Kau tidak mau mengaku?” Pekik Jieun lantang di hadapan namjachingunya.
“Ani! Aku tidak melakukannya,” sergah Jungkook tak kalah keras.
Sudah setengah jam perdebatan mereka tak ada hentinya. Sepasang kekasih itu tak lelah-lelahnya berteriak-teriak di depan dapur apartemen Jieun.
“Terserah kau noona, yang jelas aku tidak melakukannya,” lanjut Jungkook jengah.
Jieun mencibir kearah Jungkook. “Walaupun aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku yakin. Kenapa? Karena kau…”
“Noona cukup! Aku lelah,”
“MWO?!” nada suara Jieun meninggi berkali-kali lipat. Matanya berkilat, tak seperti Jieun yang biasanya terlihat imut dan lucu.
“Kau lelah? Tapi kau tidak lelah saat melakukan kesalahanmu itu?” Lanjut Jieun masih dengan lengkingan 5 oktafnya.
“Anii… sudah kubilang aku tidak melakukannya noonaaaa….” rengek Jungkook panjang.
Jieun makin memicing pada kekasihnya itu. Otaknya memang memaksanya untuk menyalahkan Jungkook, namun tidak hatinya. Jieun memijat pelipisnya karena kepalanya terasa begitu penat.
Jungkook yang melihatnya merasa iba. Bagaimanapun hati Jungkook tak bisa bohong, dia sangat sedih kejadian itu menimpa Jieun, tapi memang dia tak pernah melakukan apa yang di tuduhkan yeojachingunya itu. Dia merasa bodoh sudah membentak Jieun tadi.
“Noona mianhae…” kata Jungkook sambil melangkah mendekati Jieun.
“Ah… akhirnya kau mengaku!”
Jungkook terperanjat mendapat reaksi seperti itu. Dia yang coba menenangkan Jieun justru kembali dituduh yang bukan-bukan.
“Kau… bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Lihat? Sekarang aku menderita karenamu, aku baru pulang dari perjalanan jauh dan sekarang…?” Jieun kembali mengumandangkan omelan tanpa jeda dari mulutnya.
“Noonaaaa… Aniyo, aku…”
“Aku kecewa padamu Jungkook, aku sudah mempercayakan padamu, namun kau menyalahgunakanku, beginikah caramu mencintaiku?”
Jungkook tercekat, dia tahu kemana arah pembicaraan ini. “Jebal, noona, jangan berkata yang tidak-tidak,”
“Gumanhae… ini tidak akan berakhir baik jika di lanjutkan, jadi…” Jieun menatap Jungkook dalam. Dan yang ditatap hanya menunduk.
“Stop! Noona, sekarang aku pasrah apapun keputusanmu, tapi aku sarankan sebelum itu lihat CCTVmu, aku tidak yakin adegan itu tertangkap atau tidak. Setidaknya cobalah…”
Wajah Jungkook terlihat muram, dia menduduk dan kemudian berlalu begitu saja. Namun lain halnya Jieun, dia dengan bodohnya mengerjap dan meruntuki dirinya sendiri.
Aiiissshhh, bagaimana aku bisa lupa kalau di sini ada CCTV? Dia mengacak rambutnya frustasi. Jungkook benar-benar keluar apartemen Jieun dengan gontai. Jujur yeoja itu tidak tega, tapi ini menyangkut masa depannya.
Setelah mandi dan makan seadanya, dia kemudian menuju kamarnya untuk memastikan rekaman CCTV sesuai saran Jungkook.
Dan terlihat di sana, adegan itu terekam, namun bukan Jungkook yang melakukannya, bukan dia pelakunya, dia hanya korban. Jieun benar-benar merasa bersalah saat ini, bagaimana bisa dia justru menyalahkan sang korban? Itu karena tadi dia merasa sebagai satu-satunya korban. Tapi dugaannya salah, ini meleset jauh dari pikirannya.
Aku harus meminta maaf… Jieun menggigit kukunya sambil terus memperhatikan kejadian di layar itu.
Drrrttt…
Drrrttt…
Ponsel Jungkook bergetar, menampakkan tulisan ‘Manusia Tercantik di Dunia’ itu adalah kontak Jieun. Jungkook yang tengah mengacak sebal rambutnya beralih menuju ponsel yang terus menerus mengganggu pendengarannya.
Tanpa melihat layar dia mengangkatnya.
“Yoboseo,”
Jieun tercekat, suara Jungkook terdengar parau dan serak. Dan hal itu membuatnya kian gusar.
“Yoboseo?” ujar Jungkook sekali-lagi.
“Ah, nde…” Jieun tersadar dari lamunannya.
“Nuguseyo?”
Jieun membelalak, apa Jungkook sudah meghapus kontaknya? Atau dia salah telpon? Dia lalu menjauhkan ponselnya dan melihat layar.
Ini benar nomor Jungkook kok. Jieun menarik napas, seolah akan menyiapkan mental untuk berperang.
“Oppaaa…” Jieun mencoba merengek manja, ini siasatnya agar Jungkook mau memaafkannya nanti.
Dan Jungkook tau pasti si pemilik suara. Siapa lagi jika bukan yeojanya yang kekanak-kanakan itu. “Mwoya?” tanyanya ketus.
“Iisshh… kau kasar sekali eoh?” Jieun masih bertahan dengan suara manjanya.
“Oppa, datanglah keapartemenku ne? Jebaaalll…” tambah Jieun.
“Waeyo? Bicaralah saja lewat telpon noona,”
Jieun berdecak sebal, Jungkook benar-benar menjadi dingin saat dia marah.
“Ani, ini penting!” Jieun kembali ke nada suaranya yang biasa. Jungkook memutar kedua bolamatanya jengah.
“Geurae! Tapi ingat, aku datang tidak untuk kau omeli, araseo?” Jungkook menutup telpon sepihak. Dia sudah cukup kesal. Dengan asal dia merapihkan rambutnya lalu kembali menyambar jaket dan kunci motornya.
Jieun menjauhkan ponsel. Dia memutusnya? Isshhh namja kecil itu benar-benar sudah keterlaluan. Sudah di beri hati tapi dia masih mencoba merogoh(?) jantung Jieun.
Aaiiisshh, jinjja…
Sesampainya di apartemen Jieun, Jungkook langsung memasukkan kode pintu yang merupakan ulangtahunnya itu.
Pintu terbuka. Dan Jieun sudah ada di depan menyambut Jungkook dengan wajah berdosanya.
“Oppa, mianhae…” sesal Jieun sambil menggelayuti lengan Jungkook. Dan namja yang kerap dipanggil namja kecil oleh Jieun itu hanya menatap malas kearah yeojachingunya.
“Noona sudah melihatnya?”
Jieun mengangguk sambil terus mengikuti Jungkook sampai duduk di sofanya. Dia bersender di bahu Jungkook.
“Mianhae, aku sempat tidak mempercayaimu. Sebenarnya aku sangaaat ingin percaya pada kata-katamu, tapi saat itu aku sudah lelah, dan kondisiku yang kel─”
“Shhuuuutt…” Jungkook meletakkan telunjuknya di bibir Jieun yang terus saja mengoceh panjang lebar. “Sudahlah noona, aku paham. Yang penting sekarang kita masih bersama,”
Jieun membuang napas pelan. Entah kenapa sifat dewasa Jungkook─yang sebenarnya tidak cocok untuk namja seusianya─membuat Jieun tenang dan nyaman. Jieun melingkarkan tangan mugilnya di perut Jungkook dan memeluknya.
Jujur Jungkook rindu Jieunnya yang seperti ini. Manja dan imut walaupun sifat ini sebenarnya tidak cocok untuk yeoja seusianya. Namun inilah daya tarik Jieun. (Seharusnya kalian ini bertukar usia eoh -_-)
Beberapa menit mereka gunakan hanya untuk saling melepas rindu dalam diam. Di sofa yang nyaman, suasana yang hangat dan…
Krrruuukk…
Suara perut Jieun menggila. Kini dia meringsek dalam dada Jungkook karena malu, sepertinya wajahnya kini memerah. Jungkook yang melihatnya hanya terkekeh.
“Hahaha, ayolah noona, tidak perlu malu,” Jungkook mencoba mengangkat wajah Jieun agar menatap matanya.
“Baiklah, kalau kau berkata begitu…” Jieun lalu bangkit dari sofa dan mengepalkan tangannya keudara.
“Kalau begitu mari kita rayakan akurnya kita kembali dengan, BERBELANJA!” tambah Jieun dengan menirukan gaya ala pahlawan bertopeng. Jungkook menganga lebar.
“Noona, seharusnya kita membeli makanan saja bukan berbelanja!”
Jieun memicingkan matanya. “Yaa, kau tidak ingat kau itu sudah meludeskan isi lemari esku! Yang membuat aku kelaparan seperti ini!”
Oopps… Jieun salah bicara.
“Yaa! Noona, baru kita berdamai tentang hal itu, kau yang bilang sendiri! Aku bukan pelakunya!”
Jieun menutup mulutnya. “Mian, aku kelepasan bicara, sebagai gantinya aku akan mentraktirmu makan ne?”
Jungkook memang kesal, tapi untuk masalah makanan imannya benar-benar mudah goyah. Dia lalu mengangguk tanpa ragu.
“Tapi sebagai rasa bersalahmu karena kau mengundang orang-orang yang melahap habis makanan di lemari esku kau harus membayar belanjaanku ya?”
“YAAAKKK!!!”
Fin~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar