![]() | ||
Jeon Jungkook, Lee Jieun (IU)
|
Ini postingan pertama, semoga berkesan^^ ini ff buatan aku sendiri ya, no plagiat, no copas, no judge. Thanks^^{}
“Yaa!! Kau tidak
mau mengaku?” Pekik Jieun lantang di hadapan namjachingunya.
“Ani! Aku tidak
melakukannya,” sergah Jungkook tak kalah keras.
Sudah setengah jam
perdebatan mereka tak ada hentinya. Sepasang kekasih itu tak lelah-lelahnya
berteriak-teriak di depan dapur apartemen Jieun.
“Terserah kau
noona, yang jelas aku tidak melakukannya,” lanjut Jungkook jengah.
Jieun mencibir
kearah Jungkook. “Walaupun aku tak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku
yakin. Kenapa? Karena kau…”
“Noona cukup! Aku
lelah,”
“MWO?!” nada suara
Jieun meninggi berkali-kali lipat. Matanya berkilat, tak seperti Jieun yang
biasanya terlihat imut dan lucu.
“Kau lelah? Tapi
kau tidak lelah saat melakukan kesalahanmu itu?” Lanjut Jieun masih dengan
lengkingan 5 oktafnya.
“Anii… sudah
kubilang aku tidak melakukannya noonaaaa….” rengek Jungkook panjang.
Jieun makin
memicing pada kekasihnya itu. Otaknya memang memaksanya untuk menyalahkan
Jungkook, namun tidak hatinya. Jieun memijat pelipisnya karena kepalanya terasa
begitu penat.
Jungkook yang
melihatnya merasa iba. Bagaimanapun hati Jungkook tak bisa bohong, dia sangat
sedih kejadian itu menimpa Jieun, tapi memang dia tak pernah melakukan apa yang
di tuduhkan yeojachingunya itu. Dia merasa bodoh sudah membentak Jieun tadi.
“Noona mianhae…”
kata Jungkook sambil melangkah mendekati Jieun.
“Ah… akhirnya kau
mengaku!”
Jungkook
terperanjat mendapat reaksi seperti itu. Dia yang coba menenangkan Jieun justru
kembali dituduh yang bukan-bukan.
“Kau… bagaimana
bisa kau melakukan ini padaku? Lihat? Sekarang aku menderita karenamu, aku baru
pulang dari perjalanan jauh dan sekarang…?” Jieun kembali mengumandangkan
omelan tanpa jeda dari mulutnya.
“Noonaaaa… Aniyo,
aku…”
“Aku kecewa padamu
Jungkook, aku sudah mempercayakan padamu, namun kau menyalahgunakanku,
beginikah caramu mencintaiku?”
Jungkook tercekat,
dia tahu kemana arah pembicaraan ini. “Jebal, noona, jangan berkata yang
tidak-tidak,”
“Gumanhae… ini
tidak akan berakhir baik jika di lanjutkan, jadi…” Jieun menatap Jungkook
dalam. Dan yang ditatap hanya menunduk.
“Stop! Noona,
sekarang aku pasrah apapun keputusanmu, tapi aku sarankan sebelum itu lihat
CCTVmu, aku tidak yakin adegan itu tertangkap atau tidak. Setidaknya cobalah…”
Wajah Jungkook
terlihat muram, dia menduduk dan kemudian berlalu begitu saja. Namun lain
halnya Jieun, dia dengan bodohnya mengerjap dan meruntuki dirinya sendiri.
Aiiissshhh, bagaimana aku bisa lupa
kalau di sini ada CCTV? Dia
mengacak rambutnya frustasi. Jungkook benar-benar keluar apartemen Jieun dengan
gontai. Jujur yeoja itu tidak tega, tapi ini menyangkut masa depannya.
Setelah mandi dan
makan seadanya, dia kemudian menuju kamarnya untuk memastikan rekaman CCTV
sesuai saran Jungkook.
Dan terlihat di
sana, adegan itu terekam, namun bukan Jungkook yang melakukannya, bukan dia
pelakunya, dia hanya korban. Jieun benar-benar merasa bersalah saat ini,
bagaimana bisa dia justru menyalahkan sang korban? Itu karena tadi dia merasa
sebagai satu-satunya korban. Tapi dugaannya salah, ini meleset jauh dari
pikirannya.
Aku harus meminta maaf… Jieun menggigit kukunya sambil terus
memperhatikan kejadian di layar itu.
Drrrttt…
Drrrttt…
Ponsel Jungkook
bergetar, menampakkan tulisan ‘Manusia Tercantik di Dunia’ itu adalah kontak
Jieun. Jungkook yang tengah mengacak sebal rambutnya beralih menuju ponsel yang
terus menerus mengganggu pendengarannya.
Tanpa melihat layar
dia mengangkatnya.
“Yoboseo,”
Jieun tercekat,
suara Jungkook terdengar parau dan serak. Dan hal itu membuatnya kian gusar.
“Yoboseo?” ujar
Jungkook sekali-lagi.
“Ah, nde…” Jieun
tersadar dari lamunannya.
“Nuguseyo?”
Jieun membelalak,
apa Jungkook sudah meghapus kontaknya? Atau dia salah telpon? Dia lalu
menjauhkan ponselnya dan melihat layar.
Ini benar nomor Jungkook kok. Jieun menarik napas, seolah akan
menyiapkan mental untuk berperang.
“Oppaaa…” Jieun
mencoba merengek manja, ini siasatnya agar Jungkook mau memaafkannya nanti.
Dan Jungkook tau
pasti si pemilik suara. Siapa lagi jika bukan yeojanya yang kekanak-kanakan
itu. “Mwoya?” tanyanya ketus.
“Iisshh… kau kasar
sekali eoh?” Jieun masih bertahan dengan suara manjanya.
“Oppa, datanglah
keapartemenku ne? Jebaaalll…” tambah Jieun.
“Waeyo? Bicaralah
saja lewat telpon noona,”
Jieun berdecak
sebal, Jungkook benar-benar menjadi dingin saat dia marah.
“Ani, ini penting!”
Jieun kembali ke nada suaranya yang biasa. Jungkook memutar kedua bolamatanya
jengah.
“Geurae! Tapi
ingat, aku datang tidak untuk kau omeli, araseo?” Jungkook menutup telpon
sepihak. Dia sudah cukup kesal. Dengan asal dia merapihkan rambutnya lalu
kembali menyambar jaket dan kunci motornya.
Jieun menjauhkan
ponsel. Dia memutusnya? Isshhh namja kecil itu benar-benar sudah keterlaluan.
Sudah di beri hati tapi dia masih mencoba merogoh(?) jantung Jieun.
Aaiiisshh, jinjja…
Sesampainya di
apartemen Jieun, Jungkook langsung memasukkan kode pintu yang merupakan
ulangtahunnya itu.
Pintu terbuka. Dan
Jieun sudah ada di depan menyambut Jungkook dengan wajah berdosanya.
“Oppa, mianhae…”
sesal Jieun sambil menggelayuti lengan Jungkook. Dan namja yang kerap dipanggil
namja kecil oleh Jieun itu hanya menatap malas kearah yeojachingunya.
“Noona sudah
melihatnya?”
Jieun mengangguk
sambil terus mengikuti Jungkook sampai duduk di sofanya. Dia bersender di bahu
Jungkook.
“Mianhae, aku
sempat tidak mempercayaimu. Sebenarnya aku sangaaat ingin percaya pada
kata-katamu, tapi saat itu aku sudah lelah, dan kondisiku yang kel─”
“Shhuuuutt…”
Jungkook meletakkan telunjuknya di bibir Jieun yang terus saja mengoceh panjang
lebar. “Sudahlah noona, aku paham. Yang penting sekarang kita masih bersama,”
Jieun membuang
napas pelan. Entah kenapa sifat dewasa Jungkook─yang sebenarnya tidak cocok
untuk namja seusianya─membuat Jieun tenang dan nyaman. Jieun melingkarkan
tangan mugilnya di perut Jungkook dan memeluknya.
Jujur Jungkook
rindu Jieunnya yang seperti ini. Manja dan imut walaupun sifat ini sebenarnya
tidak cocok untuk yeoja seusianya. Namun inilah daya tarik Jieun. (Seharusnya
kalian ini bertukar usia eoh -_-)
Beberapa menit
mereka gunakan hanya untuk saling melepas rindu dalam diam. Di sofa yang
nyaman, suasana yang hangat dan…
Krrruuukk…
Suara perut Jieun
menggila. Kini dia meringsek dalam dada Jungkook karena malu, sepertinya
wajahnya kini memerah. Jungkook yang melihatnya hanya terkekeh.
“Hahaha, ayolah
noona, tidak perlu malu,” Jungkook mencoba mengangkat wajah Jieun agar menatap
matanya.
“Baiklah, kalau kau
berkata begitu…” Jieun lalu bangkit dari sofa dan mengepalkan tangannya
keudara.
“Kalau begitu mari
kita rayakan akurnya kita kembali dengan, BERBELANJA!” tambah Jieun dengan
menirukan gaya ala pahlawan bertopeng. Jungkook menganga lebar.
“Noona, seharusnya
kita membeli makanan saja bukan berbelanja!”
Jieun memicingkan
matanya. “Yaa, kau tidak ingat kau itu sudah meludeskan isi lemari esku! Yang
membuat aku kelaparan seperti ini!”
Oopps… Jieun salah
bicara.
“Yaa! Noona, baru
kita berdamai tentang hal itu, kau yang bilang sendiri! Aku bukan pelakunya!”
Jieun menutup
mulutnya. “Mian, aku kelepasan bicara, sebagai gantinya aku akan mentraktirmu
makan ne?”
Jungkook memang
kesal, tapi untuk masalah makanan imannya benar-benar mudah goyah. Dia lalu
mengangguk tanpa ragu.
“Tapi sebagai rasa
bersalahmu karena kau mengundang orang-orang yang melahap habis makanan di
lemari esku kau harus membayar belanjaanku ya?”
“YAAAKKK!!!”
Fin~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar